Pikiran Rakyat
USD Jual 14.286,00 Beli 13.986,00 | Sebagian cerah, 27.5 ° C

Konvoi

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

SABTU kemarin, Jakarta mendadak menjingga, jalan-jalan utama ditutup dan mengalami rekayasa, ketidakbiasaan di beberapa sudut ibu kota menunjukkan ada hal yang tak biasa hari itu. Ada euforia yang begitu pekat, pemicunya adalah konvoi juara Persija Jakarta.

Konvoi juara tahun ini berbeda jauh dengan 17 tahun lalu ketika Persija juara kompetisi 2001. Saat itu para pemain persija terkesan hanya berkeliling kota “sendirian” karena tak diiringi banyak pendukung dan tak ada sambutan warga di jalan-jalan yang mereka lewati.

Namun tahun ini berbeda, waktu 17 tahun tampaknya cukup untuk membuat pendukung mereka bertambah secara signifikan, foto-foto yang beredar adalah jawaban betapa secara kuantitas jakmania-sebutan pendukung persija kini telah cukup memadai untuk mengklaim bahwa Jakarta telah dijinggakan.

Namun sesungguhnya apa yang terjadi di Jakarta akhir pekan ini telah dimulai oleh kota Bandung puluhan tahun lebih awal, karena bicara Persib dan pendukungnya maka ada ritual yang sangat khas, yaitu konvoi.

Pionir

Konvoi yang dimaksud tentunya bukan konvoi biasa yang dilakukan oleh suporter ketika menuju atau pulang dari stadion, melainkan konvoi perayaan juara. Bahkan tahun ini saja para bobotoh tetap melakukan konvoi untuk merayakan gelar juara yang diraih oleh Persib U-16 dan Persib U-19.

Namun tentu saja kita harus mengakui bahwa euforia yang terasa tentu takkan sedahsyat andai Persib di ajang liga 1 yang menjadi juara, bahkan bisa jadi konvoi dan penyambutan ini dilakukan sebagai pelipur lara dan pelampiasan karena Persib senior gagal membawa trofi.

Namun demikian, pesta kemenangan untuk tim sekelas junior ini bisa saya pastikan menjadi yang paling meriah di kelasnya. Jujur saja di kota yang tak memiliki kultur sepak bola yang kental, tentunya pencapaian ini akan dipandang sebelah mata, terlebih ketika melihat deretan nama-nama pemain yang tidak mereka kenal.

Perkara arak-arakan, parade, festival dan semacamnya, bukanlah hal baru untuk warga Bandung. Berbagai ajang kreatif ataupun event budaya seringkali menampilkan konvoi dengan performance yang khas. Ternyata kreativitas semacam itu menular juga ke sepak bola termasuk parade dan konvoi juara klub kesayangan, sehingga walau terkesan natural namun sesungguhnya ada konsep dan perencanaan matang terkait konvoi yang dilakukan oleh Persib.

Contohnya adalah konvoi juara 2014 silam. Semua direncanakan dengan baik, dari mulai jenis kendaraan yang digunakan, pengamanan, rute konvoi, ornamen dan properti yang digunakan, hingga pengaturan siapa-siapa saja yang turut serta dalam iring-iringan konvoi. Persiapan matang itu tampak elok ketika bertemu dengan animo luar biasa massa yang menyambut sepanjang jalan.

Masih bisa kita telusuri gambar-gambar empat tahun lalu itu, tak ada ruang kosong di sekitar bus yang membawa rombongan pemain Persib. Keceriaan, suka cita, dan bius duniawi tak tertahan untuk mampu disembunyikan dalam euforia seperti itu.

Rentan

Jangan lupakan juga dalam suasana konvoi ceria seperti itu tetap saja ada potensi buruk terkait konsentrasi massa yang begitu tinggi. Selain aksi kriminal seperti copet, pelecehan seksual, ataupun konflik horisontal.

Perlu diwaspadai juga aksi arogan yang sangat mungkin dilakukan oleh oknum suporter dengan mendompleng konvoi, yang dimaksud adalah aksi arogan terhadap masyarakat umum. Harus dipahami juga bahwa ritual konvoi seperti ini sangat rentan dijadikan ajang pelampiasan emosi bagi mereka yang ingin melarikan diri dari berbagai kepenatan hidup. 
Maka teori kerumunan yang tercabut dari norma-norma akan berlaku dalam kerumunan massa jika tak diantisipasi dengan baik oleh pihak panitia.

Sebagai penutup saya hanya ingin mengingatkan tentang aksi konvoi paling epik yang selalu diceritakan hingga kini, konvoi juara Persib terpanjang namun justru tak melibatkan tim Persib itu sendiri. 

Konvoi yang saya maksud adalah konvoi bobotoh dari Jakarta menuju Bandung saat Persib juara di era 90an. Menjadi unik dan khas serta sulit diulang karena ketika itu belum ada tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta-Bandung, sehingga konvoi dilakukan melalui jalur puncak.

Saat itu terjadi kemacetan luar biasa karena seluruh bobotoh berpesta di kawasan puncak. Kendaraan tak bergerak dan para pedagang sepanjang jalur pulang mendapat berkah karena dagangan mereka ludes diborong bobotoh.***

Tags
Bagikan: