Pikiran Rakyat
USD Jual 14.240,00 Beli 13.940,00 | Sedikit awan, 23.6 ° C

Terowongan Curug Jompong Mengancam Danau Saguling!

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

SEPERTINYA Negara ini sudah béak déngkak, seperti yang sudah kehabisan akal, sudah ketétér, sehingga pembuatan terowongan Curug Jompong jadi dilaksanakan pada tahun 2018, setelah proyek penyodetan meander di Ci Tarum gagal total menanggulangi banjir di Bandung Selatan, kemudian beralih dengan pengerukan sungai, lalu beralih lagi ke penanggulan sungai, semuanya gagal.

Kini setelah tertunda beberapa tahun karena banyak yang meragukan pemapasan batuan di Curug Jompong sedalam 6 meter dapat menjawab penyelesaian banjir di Bandung Selatan, kini pembangunan pembuatan terowongan Curug Jompong jadi dilaksanakan dengan dalih, "Terowongan air ini sudah bukan diskusi lagi, layak atau tidak. Tapi ini tugas direktif dari pemerintah melalui wakil presiden, menteri, gubernur, dan bupati, sementara kami ini sebagai implementatornya.

Menurut informasi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Yudha Mediana, seperti banyak diberitakan media masa, dua buah terowongan air yang panjangnya 375 meter dengan diameter 8,5 meter, akan mampu mengalirkan air dengan debit sekitar 600 meter kubik/detik. Menurutnya, terowongan air itu dapat memperlancar air yang mengalir dari 13 anak sungai Ci Tarum, sehingga banjir di Kabupaten Bandung yang luasnya mencapai 791 hektare akan berkurang menjadi hanya sekitar 140 ha setelah dibuat terowongan.

Dengan dibuatnya terowongan, banjir akan tetap terjadi, seperti diakui Negara. Dapat dipastikan, angka-angka pengurangan kawasan terdampak banjir itu angka pada saat proyek pembuatan terowongan akan dibuat. Kita tahu, dan sudah menjadi rahasia umum, kondisi lingkungan terus memburuk, kawasan hutan semakin banyak yang menghilang, dan kawasan yang terbangun akan semakin terus bertambah, sehingga air yang mengalir di permukaan jumlahnya akan semakin banyak, dan banjir akan terus meningkat.

Upaya pembangunan fisik dalam penanganan banjir masih menjadi pilihan utama karena dapat terlihat secara nyata dan dapat difoto sebagai barang bukti, sehingga upayanya dapat dilihat. Bila itu menjadi pilihan yang tak bisa ditolak, maka harus dibarengi dengan upaya utama lainnya, yaitu harus adanya upaya pengembalian lahan-lahan Negara kepada Negara, misalnya, sebab hanya dengan pengembalian lahan Negara kepada Negara itulah pengelolaan lahan Negara dapat dikendalikan dengan baik, sesuai dengan kepentingan Negara dalam melindungi Tanahairnya. Kalau benar-benar bisa melakukan hal ini, lahan-lahan Negara di lereng-lereng yang curam dan terjal yang selama ini dijadikan kebun bawang, kentang, dan sayuran lainnya dapat dihijaukan kembali dengan pohon keras yang buah atau bunganya dapat dimanfaatkan.

Lahan-lahan Negara yang kini berupa kebun bawang dan kentang, pastilah di lahan-lahan dengan kemiringan curam tanpa pohon keras, akan mengalirkan air hujan sambil menggerus lapisan tanah pucuk yang paling subur ke lembah-lembah, kemudian mengendap di dasar sungai dan danau.

Tak perlu berdebat berapa besar kerusan lingkungan DAS Ci Tarum dengan anak-anak sungainya. Paling murah, lihatlah citra satelit bagaimana keadaan lingkungan di berbagai kawasan yang ingin diketahui di DAS Ci Tarum. Secara secara kasat mata, betapa keadaan tutupan lahan di sana sudah sangat gundul, menjadi erosi yang nyata. Selain melihat dari citra satelit, lihatlah dengan baik warna airnya. Bila warna sungai itu berwarna tanah, pertanda di DAS itu telah terjadi erosi yang sangat kuat.

Menurut data di media masa, potensi air Ci Tarum ini sebanyak 13 milyar meter kubik per tahun. Namun, karena kerusakan ekologis di DAS Ci Tarum menyebabkan air hujan tidak tertahan, tidak tersimpan di akar pohon, telah menyebabkan tanah longsor dan erosi. Keadaan ini berdampak panjang bagi Ci Tarum. Jangan heran bila jumlah air meluap pada musim penghujan sampai 81,4 miliar meter kubik per tahun. Sebaliknya, pada musim kemarau hanya terdapat 8,1 milyar meter kubik per tahun. Kekurangan air berdampak pada sektor pertanian, perikanan, sosial, dan ekonomi.

Pembuatan terowongan Curug Jompong yang digadang-gadang dapat menyelesaikan/mengurangi genangan banjir di Bandung Selatan, dapat berakibat fatal bagi sektor lain, yaitu akan berkurangnya pemenuhan kebutuhan energi listrik Jawa-Bali.

Pembangunan terowongan Curug Jompong, sudah dapat dipastikan akan menurunkan dasar Ci Tarum antara Curug Jumpong sampai Dayeuhkolot dan menerus ke hulu ke anak-anak sungainya. Dampak rekayasa teknik Curug Jompong itu adalah Danau Saguling yang menjadi sumber air bagi pembangkit PLTU UBP Saguling akan menderita pengurangan jumlah air dalam danau yang berfungsi untuk menggerakkan turbit yang menghasilkan energi listrik. Dengan dilakukan pembuatan terowongan di bawah dasar sungai saai ini, maka semua lumpur di sepanjang 30 kilometer antara Curug Jompong hingga Dayeuhkolot, ditambah dari Dayeuhkolot ke arah hulu dari anak-anak sungainya, akan dengan cepat berpindah ke Danau Saguling, maka dampak rentetan ekonominya akan sangat semakin membesar. Pada musim kemarau, Ci Tarum antara Curug Jompong - Danau Saguling hulu sampai Dayeuhkolot, hanya akan menjadi sungai kering tak berair atau macak-macak seperi comberan.

Pertanyaannya, siapkah Danau Saguling menerima limpahan lumpur dari dasar Ci Tarum, sehingga volume airnya akan sangat berkurang? Apakah dengan jumlah air yang baru, UBP Saguling akan menghasilkan listrik seperti yang dicanangkan pada saat danau ini dibuat? Bila air yang berlimpah pada musim penghujan melebihi batas kekuatan bendungan untuk menahannya, maka pintu penumah air akan dibuka. Dengan dibukanya pintu penumpah air, maka, bukan saja air yang akan seketika ditumlahkan dalam jumlah yang sangat besar, sekaligua akan menghanyutkan sebagian endapan baru yang diterima Danau Saguling. Pertanyaan susulannya adalah, siapkah, kuatkah Danau Cirata menerimanya? Bila Danau Cirata juga akan membuka pintu penumpah airnya, apakah  Danau Ir H Djuanda siap menerima jumlah limpahan air dalam jumlah besar beserta sebagian endapannya? Kalau Danau Ir H Djuanda tak mampu, lalu menggelontorkan air dan lumpurnya, apakah Ci Tarum hilir dan pengelola sawah di sana siap?

Mengerjakan proyek di Ci Tarum, seharusnya tidak sekedar melaksanakan perintah atasan. Pembangunan itu untuk manusia, untuk masyarakatnya. Pimpinan Negara, Gubernur, Bupati, sudah jelas waktu jabatannya. Namun dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan yang diakibatkannya akan dampak lama penderitaannya, sementara banjir akan tetap terjadi dan menderitakan bagi warga di Bandung Selatan. Mari bersaksi untuk ini!***

Bagikan: