Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Umumnya cerah, 17.3 ° C

Telegram dari Bli Putu

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

TELEGRAM sudah jadi masa silam. Itulah layanan pesan singkat yang dicetak dan dikirim lewat pos. Hari ini kita memakai sarana digital buat bertukar kabar, tak terkecuali pesan teks. Jauh lebih cepat.

Pada zaman pradigital telegram sering diandalkan buat mengirim pesan singkat dalam situasi darurat. Kata-kata dikemas, tidak dihias. Pesan disampaikan tidak bertele-tele. Singkat dan padat.

Dalam novel Telegram (1973) karya Putu Wijaya, kawat berisi pesan singkat merupakan elemen peristiwa terpenting yang mempengaruhi jalannya cerita. Dalam cerita sepanjang 16 bab, telegram hadir sejak bab pertama hingga bab terakhir. Judul novel seakan merupakan ungkapan lain buat “malapetaka”.

Betapapun, novel ini bukan cerita tentang layanan pos dan telekomunikasi. Sama sekali bukan. Novel yang pernah difilmkan oleh sineas Slamet Raharjo ini menceritakan kegelisahan seorang individu di tengah lingkungan dekatnya, juga di tengah masyarakat luas. 

Telegram dalam cerita ini mempertegas “rasa cemas” dalam situasi diri tokoh utama yang bercerita dari sudut pandang orang pertama. Tokoh utama cerita ini adalah seorang lelaki yang berasal dari Bali. 

Ia tinggal dan bekerja sebagai jurnalis di Jakarta. Ia hidup bersama Sinta, anak berumur 10 tahun, yang sejak bayi ia pungut dari sebuah yayasan. Ia menerima telegram dari kampung halamannya tentang kematian ibunya. Ia mesti segera kembali ke Bali.

Plot diolah sedemikian rupa dalam tegangan situasi diri di antara saat-saat menerima telegram dan saat-saat menjelang keberangkatan ke kampung halaman. Tegangan antara lain diwarnai dengan kesibukan sang jurnalis dikejar-kejar deadline buat merampungkan sebuah cover story tentang perubahan sosial di Bali, juga dengan kejengkelannya dicari-cari kerabat Bali yang hendak merebut Sinta, belum lagi dengan pikirannya tentang kemungkinan berumah tangga.

Rincian riwayat sang “aku” dan Sinta terkuak di sela-sela perkembangan cerita.

Dari bab ke bab seperti ada teror berupa tekanan psikologis dari berbagai jurusan terhadap tokoh utama. Kedudukannya dalam jagat budaya Bali, peran sosialnya sebagai wartawan di kota metropolitan, jerih-payahnya mengasuh, mendidik, dan mempertahankan anak pungutnya, juga sistem nilainya menyangkut hubungan lelaki dan perempuan, campur aduk membentuk kompleksitas cerita.

Di tengah berbagai tekanan demikian, rupanya ada satu pokok kegelisahan, yakni upaya memelihara, mempertahankan, atau merealisasikan kebebasan dan kemerdekaan individu. Ia berupaya menghidupkan “nyali” untuk melawan “segala sesuatu yang bersifat mau mendesak orang”.

Mungkin itu sebabnya di sepanjang cerita ia senantiasa dihantui oleh bayangan tentang “malapetaka”. Ia membayangkan melorotnya gairah cinta lelaki dan perempuan jadi sekadar rutinitas tugas keluarga sekiranya ia memutuskan untuk berumah tangga.

Ia membayangkan kerepotan jika ia kembali ke kampung halaman, semisal jadi “kepala rumah tangga besar” dengan “beberapa hektar tanah dan tiga rumah tua”, “tiga orang nenek”, seorang saudara yang sakit, dan “tugas-tugas adat”, juga “tugas keluarga kepada banjar” beserta beragam upacara.

Dalam berbagai tekanan psikologis, juga dalam kondisi tubuh yang rapuh terancam sipilis, seringkali ia hidup dalam imajinasi, seakan mengelola “sandiwara”. Khayalan dan kenyataan bertukar tangkap, mimpi dan jaga bersilang-susup. Juga ada sejumlah hal yang luar biasa, semisal kalkulasi “tiga ribu kali pacaran”, pengalaman “mimpi bersanggama dengan ibu”, atau bertelanjang bulat di kantor redaksi tengah malam sewaktu listrik padam.

Refleksi atas perubahan sosial budaya di Bali pada awal dasawarsa 1970-an juga tak kalah pentingnya. Novel ini kiranya turut memperdengarkan keprihatinan mengenai “kampanye penjualan Bali” dengan berbagai akibatnya. Pura dipindahkan, hotel didirikan. “Hippies” merasuk ke Pantai Kuta.

Pelacuran merebak di Denpasar. Kesenian melorot jadi kerajinan. Birokratisasi kebudayaan yang korup menggila. Tradisi surut, hedonisme naik.

“Pulau itu memiliki sesuatu yang khusus yang harus dinilai secara tersendiri kalau hendak menyimpulkan beberapa pikiran,” ungkap pencerita tentang Bali.

Telegram dari Bli Putu, saya kira, adalah suara Bali yang cemas di tengah konser Indonesia.***

Bagikan: