Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Umumnya berawan, 23.7 ° C

Pilkades Rasa Pilpres

Karim Suryadi
Karim Suryadi

Karim Suryadi

Peneliti Komunikasi Politik, Dosen FPIPS UPI

BAGI sebagian warga desa di Kabupaten Subang, pemilihan kepala desa (pilkades) jauh lebih terasa “gregetnya” ketimbang  pemilihan gubernur (pilgub) atau pemilihan presiden (pilpres) sekalipun. Gambaran itu terpotret dalam pemungutan suara Rabu 5 Desember 2018. Pada hari itu, sebanyak 165 desa di 28 kecamatan menggelar pilkades secara serentak.

Tidak seperti pilpres, yang kehangatannya hanya terasa dalam perdebatan di televisi, aura politik pilkades amat terasa hingga ke pojok-pojok kampung karena beberapa hal berikut. Kesatu, para calon sangat mengenal satu sama lain, bahkan tidak sedikit yang memiliki hubungan saudara, atau terikat pekerjaan. Paman dan ponakan saling berhadapan di Desan Pasanggrahan. Adik dan kakak bersaing memperebutkan posisi nomor satu di Desa Ciater, seperti kades petahana bersaing dengan salah seorang kepala urusannya di Desa Cisalak.

Kandidat yang sudah saling mengenal satu sama lain, bahkan terikat hubungan saudara, telah meredam potensi konflik. Lebih dari itu, mereka pun sudah saling mengenal kekuatan dan kelemahan. Uniknya, hal terakhirlah yang membuat kandidat tidak jumawa, tidak merasa selalu hebat dan benar. Kerendahhatian semacam ini yang membuat kontestasi terasa tetap sejuk.

Kedua, pemilih pun sudah tahu hitam putihnya kandidat, sehingga mendatangi bilik-bilik suara dengan penuh keyakinan tentang siapa yang akan mereka pilih. Mereka punya alasan, mengapa memilih A dan mengabaikan B. Ini menyenangkan karena mereka tidak diliputi selubung misteri latar belakang calon. Meski digelar dalam kesederhanaan, namun makna “pesta” demokrasi menemukan arti yang sebenarnya. Setiap orang merasa punya kuasa untuk “ngajenengkeun” (menjadikan sang calon sebagai kades). Inilah berkah demokrasi yang paling genuine, ketika setiap suara punya efikasi (kemanjuran) untuk menghitamputihkan keadaan.

Ketiga, kades dan pemerintahan desa benar-benar terasa hadir dalam kehidupan warga. Betapa tidak ? Semua urusan bermuara di desa. Mulai dari surat pengantar nikah, pengurusan kartu tanda penduduk yang melelahkan itu.

Bukan tidak menyadari jika aparatur desa mulain diincar politisi, lebih-lebih menjelang pemilihan legislative (pileg). Bahkan, tak jarang caleg mengaku memegang tujuh atau delapan kepala desa untuk meloloskannya ke parlemen di tingkat kabupaten.

Menyadari ancaman semacam itu, para pemuda kampung menggelar ronda malam beberapa hari sebelum pencoblosan. Siapa pun yang  keluar malam, atau subuh ditegur bernada gurau, “Rek babagi yeuh”. Ditegur semacam itu, orang yang datang ke suatu kampung hanya tersenyum, karena mereka juga tahu itu bukan menuduh dirinya sebagai pelaku serangan fajar, tapi sekedar sama-sama menjaga “kondusivitas” pilkades.

Inilah modal demokrasi yang penting. Calon menyadari keterbatasannya sebagai manusia biasa, pemilih mengenal dan tahu alasan siapa yang akan dipilihnya, dan setiap orang merasa ada hajat bersama yang harus dijaga, sebuah hajat yang memungkinkan setiap orang bisa menyalurkan aspirasinya dengan bebas dan tanpa tekanan.

Dalam kesederhanaannya, masyarakat desa tahu persis apa bedanya mengkritik dan menjelek-jelekan. Mereka pun tahu apa bedanya berempati dan mendorong semangat dengan tindakan merendahkan. Karena itu, tidak sering digelar kampanye rapat umum, namun setiap orang bisa menimbang kelebihan dan kekurangan tiap kandidat secara informal dan faktual. Apa maknanya ? Inilah kecerdasan dalam bentuknya yang paling genuin. Mereka bisa mengapresiasi kemajuan di desanya, seperti mereka mengkritisi hal-hal yang harus diperbaiki.

Mewujudkan proksimitas geografis capres/cawapres atau caleg dengan pemilih hampir tidak mungkin dilakukan karena bentang geografis Indonesia yang amat luas. Yang  mungkin dilakukan adalah menciptakan proksimitas psikologis, bagaimana capres dan cawapres atau caleg terasa hadir dan merasakan apa yang dialami pemilih.

Ada dua cara dalam mewujudkan proksimitas psikologis, capres membawa pemilih ke dalam jalan pikirannya sehingga calon pemilih mengerti betul apa yang dipikirkan dan dirasakan capresnya. Atau sebaliknya, capres berpikir dan merasa dalam cara-cara yang dialami calon pemilih.

Cara pertama hanya akan bisa dilakukan oleh capres dengan karakter yang sangat kuat, kecerdasan yang memesona, dan daya pikat yang berlipat-lipat, yang dalam khasanah politik klasik disebut sebagai kewibawaan. Sebaliknya, cara kedua bisa dilakukan oleh capres mana pun, asal dia mau menyerap pikiran calon pemilihnya dan menyampaikannya dalam cara-cara yang dapat dipahami mereka. Jadi, jika cara pertama harus sekuat matahari, maka cara kedua seperti bulan, yang mampu menyerap dan memancarkan kembali energi yang  diterimanya.

Cara mana pun yang dipilih, kuncinya ada pada derajat interaksi capres/cawapres dengan warga. Karena itu, capres mana pun di dunia senantiasa memperbanyak kontak dengan warganya. Jika tidak ada pesan menarik yang disampaikan, mereka tak akan melewatkan momen bersalaman sebanyak-banyaknya dengan calon pemilih. Karena itu, perpendeklah orasi di podium, dan perbanyaklah bersalaman dan menyapa warga, karena dengan begitu Anda telah menaruh deposit yang penting dalam bilik-bilik suara.***

Bagikan: