Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Cerah, 17.3 ° C

Sejak Dini

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

KUMPULAN cerita pendek Dua Dunia adalah salah satu warisan mendiang Nurhayati Suhardini alias Nh. Dini (1936-2018). Buku ini pertama kali terbit pada 1956 ketika pengarangnya baru berusia 20 tahun. 

Dini menulis sejak dini. Pagi-pagi sang pengarang rupanya sudah pasti dengan pilihan jalannya sendiri. “Ditulis pada umur yang masih sangat peka,” komentar kritikus H.B. Jassin dalam Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan 3 (1967).

“cerita-cerita Dini terasa sentimentil dan kadang melodramatis. Persoalan-persoalan yang akan dilewati orang dewasa yang pengalaman begitu saja, baginya jadi buah renungan berlarut-larut dan mengharukan hati. Persoalan kecil jadi persoalan besar dalam mana ia ikut tergugat tanpa bisa menguasai diri.”

Waktu Jassin menulis ulasannya, Dua Dunia masih berisi 7 cerpen dari periode 1955-1956. Ketika Duna Dunia dicetak untuk ketiga kalinya, dengan penerbit yang berbeda, pada 1989, Dini menambahkan tiga cerpen dari tahun 1980-an, sehingga jumlahnya jadi sepuluh. Ketiga cerpen itu dikarang ketika Dini sudah mendekati usia 50 tahun.

Kiranya, ada perkembangan, tak terkecuali dalam wujud cerpen yang mengandung “protes sosial”. Persoalan Indonesia pada zamannya, mulai dari program Keluarga Berencana dan ketimpangan ekonomi (“Warung Bu Sally”) hingga kekecewaan “generasi frustrasi” dan nasib buruk petani kecil (“Liar”), turut pula melatari ceritanya dari periode yang belakangan.

Dalam pengantar singkat untuk cetak ulang Dua Dunia pada 2002, Dini mengatakan, “Tulisan-tulisan saya lebih banyak mengandung kenyataan hidup daripada hanya khayalan. Isi kumpulan cerpen ini merupakan buktinya.”

Rupanya, dunia pengalaman jadi landasan bagi pemahaman, kemudian jadi sumber dunia rekaan. Yang khayal dan yang nyata bersenyawa dalam cerita.

Dengan itu, pengarang mempersoalkan kenyataan, juga menjejakkan khayalan pada persoalan yang dihayati. Judul buku, Dua Dunia, diambil dari judul salah satu cerpen di dalamnya.

Judul tersebut juga menyiratkan tema umum kumpulan cerpen ini, yakni adanya dua dunia yang menimbulkan pertentangan, konflik, atau tegangan.

Tegangan itu, misalnya, timbul antara perempuan dan lelaki, kaum muda dan kaum kolot, kaum miskin dan kaum kaya, pandangan lama dan pandangan baru, dan seterusnya. Di tengah pusaran cerita, dalam tegangan dunia rekaan Dini, hampir selalu muncul tokoh perempuan yang memainkan peran menentukan, berupaya mengatasi persoalan dengan sikap mandiri, betapapun kerasnya tekanan yang ia hadapi.

Iswanti dalam “Dua Dunia”, dengan tubuh yang rapuh karena sakit, meyakini perlunya kasih sayang menjalari “pembedaan antara dunia laki-laki dan perempuan”. Ia pun bertekad untuk mempertahankan dan mendidik Kanti, anak semata wayangnya, dari kemungkinan direbut oleh ayahnya, Darwono, bekas suami Iswanti.

Baik Ningsih maupun Niek dalam “Istri Prajurit” punya cara sendiri buat menentang cara pandang lingkungan ningrat. Ningsih mau jadi istri Garjo dari lingkungan orang kebanyakan yang jadi tentara dengan segala konsekuensinya. Adapun Niek bertekad mencapai kedudukan terpandang dalam masyarakat buat mengimbangi gelar tradisional yang melekat pada kekasihnya.

Prita dalam “Jatayu” bersungguh-sungguh mewujudkan mimpinya untuk bisa terbang bebas meski akhirnya ia tewas. Yati dalam “Pendurhaka” bersitegang sedemikian frontalnya dengan figur ibu yang berpandangan kolot. “Aku sudah mengerti dan tahu memilih jalan sendiri,” katanya.

Kinah dalam “Perempuan Warung” berupaya “menunjukkan ketinggian martabatnya sebagai perempuan baik-baik” di hadapan Marjo, lelaki kasar yang menganggapnya sebagai pelampias berahi. Secara umum situasi perempuan dalam kumpulan cerpen ini pada dasarnya mengharukan, mulai dari tokoh aku dalam “Penemuan” yang kehilangan kebebasan bergerak karena kakinya cedera akibat tertabrak mobil hingga tokoh Darni dalam “Kelahiran” yang harus melahirkan anak dalam kemelaratan.

Adapun cerpen pamungkas dalam koleksi ini, dari tahun 1982, terasa gembira pada akhirnya, selaras dengan judulnya, “Keberuntungan”. Itulah cerita tentang Kasnah dan Jamjuri, majikan dan pelayan, kaya dan miskin. Dua dunia juga. Keduanya berniat untuk bertunangan.

Dunia Dini, betapapun pedihnya, adalah dunia yang menyimpan harapan.***

Bagikan: