Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Hujan petir singkat, 22.6 ° C

Sudah Boleh ke Jatinangor

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM

“SUDAH Jangan ke Jatinangor.” Potongan lirik lagu berjudul “Sudah Jangan ke Jatinangor” yang dipopulerkan The Panas Dalam itu seringkali dijadikan guyonan oleh kami, mahasiswa Fakultas Hukum Unpad belasan tahun lalu.

Kami memang malas dan enggan untuk menuju kampus Unpad di Sabupaten Sumedang itu. Selain dianggap terlalu jauh, tentunya karena jauh dari pusat Kota Bandung, yang bisa diartikan jauh pula dari pusat kesenangan dan tempat bermain seperti mal dan kafe-kafe berkelas yang biasa disambangi oleh mahasiswa Bandung.

Selama bertahun-tahun Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi (S1 reguler) seakan mengistimewakan diri karena tetap bertahan di kampus Unpad  di Jalan Dipatiukur sementara fakultas lainnya telah terlebih dahulu beraktivitas di kampus Unpad Jatinangor.

Akan tetapi, rupanya keadaan telah berubah. Akhir pekan ini saya baru mengetahuinya ketika menjadi pembicara untuk acara seminar hukum olah raga di Fakultas Hukum Unpad, tempat acara bukanlah di Jalan Dipatiukur melainkan di kampus Fakultas Hukum Jatinangor.

Sebagai Fakultas tertua di Unpad, agak sedikit arogan boleh juga, pikir saya saat itu. Namun, rupanya kepindahan itu hanya menunggu waktu. Iseng saya perhatikan lingkungan sekeliling kampus Unpad Jatinangor. Dalam banyak hal hampir mirip di Jalan Dipatiukur.

Banyak tempat-tempat ekslusif seperti mal baru dan indekos mewah yang tentu sesuai dengan selera rata-rata anak Fakultas Hukum yang dari masa ke masa memang cukup banyak dihuni anak-anak Jakarta. Seingat saya, anak-anak Jakarta itu rata-rata memang anak-anak orang berada yang perlu diakomodasi kebutuhan dan gaya hidupnya.

Polarisasi



Bisa jadi, saya sangat terlambat ketika mengatakan bahwa sekarang di Jatinangor banyak hotel dan hunian ekslusif. Namun, tak akan keliru juga jika saya katakan sepesat apapun pembangunan di sekitar kawasan pendidikan Jatinangor, tentu tak akan mampu menyamai atau menjadikan Jatinangor sama dengan Bandung.

Seorang mahasiswi Fakultas Hukum bernama Shafira mengatakan bahwa jika konteksnya adalah bermain dalam arti sesungguhnya, tetap saja anak-anak Hukum itu akan menuju Kota Bandung.

Seringkali saya menganggap persepsi Dipatiukur-Jatinangor dalam konteks Unpad, adalah sama dengan Salemba Jakarta-Depok dalam konteks Universitas Indonesia (UI).

Walau kini sejatinya aktivitas utama UI berada di Depok yang berada di wilayah Jawa Barat, nama UI seringkali diikuti oleh kata Jakarta. UI Jakarta, bukan UI Depok, karena secara historis dan prestise, nama Salemba lebih terdengar keren.

Kini Jakarta dan Bandung sejatinya hanya disibukkan oleh aktivitas mahasiswa-mahasiswa pascasarjana program S2 dan S3.

Bicara gaya dan karakter, tentu ada perbedaan signifikan antara mahasiswa Unpad Jatinangor dan Unpad Bandung yang tersebar di Jalan Dipatukur dan kawasan Dago.

Dengan sudut pandang sarat asumsi dan generalisasi, saya berani mengatakan bahwa anak-anak Unpad Bandung jauh lebih hedonis dan apatis terkait isu-isu kampus.

Sering saya melihat mahasiswa-mahasiswa Fakultas Hukum Unpad yang sedang asyik bermain kartu di depan Graha Sanusi Harjadinata terheran-heran melihat rombongan mahasiswa Unpad Jatinangor yang jauh-jauh datang dengan bus kemudian melakukan demonstrasi di sekitar kampus ataupun Gedung Sate.

Kami, mahasiswa Fakultas Hukum terkadang bertanya, ada apa ini? Bukankah semuanya baik-baik saja? Lalu kemudian melanjutkan kembali kegiatan yang jauh dari aura pergerakan kampus seperti mendengar musik, bermain kartu, berpacaran, atau membaca majalah pria dewasa.

Sekali lagi, tentu ada juga mahasiswa “jenis” Fakultas Hukum ini di Jatinangor. Begitupun sebaliknya, banyak juga mahasiswa-mahasiswa kritis dan terlibat aksi yang berstatus mahasiswa Fakultas Hukum. Namun seperti disebut sebelumnya, ini adalah asumsi subjektif.

Di balik semua perbedaan karakter tadi, selalu ada satu hal yang membuat Jatinangor dan Bandung selalu sama, yaitu Persib.

Ketika hari pertandingan, cukup banyak bobotoh Persib dari Jatinangor yang berkumpul di depan Graha Sanusi Harjadinata untuk berangkat ke stadion menonton Persib bersama teman-teman mereka yang berkuliah di Fakultas Ekonomi ataupun Fakultas Hukum.

Kini saya yakin adik-adik saya yang berkuliah di Jatinangor tak akan lagi merasakan jarak dengan mahasiswa Bandung karena kini mereka ada di sana. Anak-anak baru itu seakan berkata, “Sudah boleh ke Jatinangor.”***

Bagikan: