Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Cerah berawan, 28.4 ° C

Biografi Koruptor

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

NOVEL Korupsi karya mendiang Pramoedya Ananta Toer (1925-2006) tidak kehilangan relevansi dengan perubahan zaman. Kalaupun di dalamnya ada yang terasa jadul, paling-paling menyangkut gambaran mengenai nilai uang yang dicuri. Adapun menyangkut gejala korupsinya sendiri, novel dari dasawarsa 1950-an ini tetap layak dibaca hingga kini.

Tokoh utama cerita ini adalah Bakir, pegawai pemerintah dengan satu istri dan empat anak. Hidupnya sederhana, tabiatnya jujur. Sayang, ia tak tahan godaan. Di tengah menggejalanya korupsi, dan di tengah meningkatnya kebutuhan hidup sehari-hari, jabatan yang dia pegang memberinya peluang buat mencuri. Ia pun terjerumus. Hidupnya berubah. Ia baru menyesali perbuatannya ketika segalanya sudah terlambat.

Novel ini pertama kali terbit pada 1954. Waktu itu Indonesia baru merdeka 9 tahun menurut perspektif Indonesia atau 5 tahun menurut perspektif Belanda. Pokoknya, negeri tempat lahir dan hidup sang pengarang belum lama berdaulat untuk menentukan nasibnya sendiri.

Taruh kata, realisme Pramoedya mencerminkan keadaan Indonesia pada zamannya. Konsekuensinya jelas tidak menggembirakan. Pembaca jadi punya landasan buat mengatakan bahwa ketika Indonesia baru merdeka, negeri ini justru terjangkit korupsi. Bekas pejuang jadi pejabat, dan sang pejabat kemudian jadi jahat.

Sejarawan Adrian Vickers dalam bukunya, A History of Modern Indonesia (2005), berpandangan bahwa novel Korupsi “memberikan gambaran lebih lanjut mengenai kekuasaan politik dengan menunjukkan betapa jejaring patronase bertumpu pada prestise  mereka yang telah ambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan, tapi juga menggelapkan sumberdaya layanan publik (developed the picture of political power further by showing how patronage networks drew on the prestige of those who had taken part in the national struggle for independence, but had also subverted the resources of the civil service).”

Gambaran mengenai jejaring perkoncoan politik yang menyelewengkan sumber daya kesejahteraan publik juga kita dapatkan dari karya penulis sezaman, misalnya novel Senja di Jakarta (1957) karangan mendiang Mochtar Lubis (1922-2004). Dalam Korupsi karangan Pramodeya, birokrat pemburu rente main kongkalikong dengan kalangan cukong, mencari keuntungan pribadi dari jabatan publik, sedemikian rupa hingga menimbulkan kemerosotan moral.

Cerita ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama, seperti otobiografi. Namun, tentu, tak ada alasan buat menyamakan Pramoedya dengan Bakir. Pengarang toh tidak harus sama dengan pencerita. Setidaknya, Pramoedya tidak pernah jadi pejabat. Ia adalah bagian dari generasi zaman perang yang setelah negerinya merdeka memilih berkiprah di luar struktur birokrasi negara baru.

“Menarik dicatat bahwa di sini pengarang memakai sudut pandang orang pertama meskipun tidak diragukan lagi bahwa dia sama sekali tidak mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh utama cerita ini (It is interesting to note that here the writer uses the first person although there is every reason to believe that he does not in any way identify himself with the main character),” ulas Prof. Teeuw dalam bukunya, Modern Indonesian Literature (1967).

Dengan teknik tersebut, terkuaklah semacam psikologi korupsi. Pembaca dapat menelusuri kerumitan pergulatan batin yang memungkinkan orang yang tadinya jujur malah jadi koruptor. Ada dilema di awal cerita, ada perubahan watak di tengah cerita, dan ada keruntuhan moral di akhir cerita.

Dalam novel ini, korupsi juga digambarkan sebagai pusaran, tempat orang yang tersedot ke situ susah melepaskan diri. Seks, uang, dan kekuasaan berjalin-berkelindan sedemikian rupa, menciptakan sebentuk gaya hidup dekaden. Mobil mewah meluncur antara pusat kekuasaan di Jakarta dan villa mentereng di Bogor atau Puncak.

“Rupa-rupanya sekali telah melangkahkan kaki di gelanggang korupsi, orang tak ada melihat jalan kembali,” ujar Bakir.

Pusaran itu sedemikian kuatnya. Suara moral dari Mariam, istri Bakir, seakan suara yang lemah belaka. Demikian pula suara moral dari Sirad, mahasiswa idealis dan kolega Bakir yang sudah seperti anggota keluarganya sendiri, tidak kuasa menahan niat jahat Bakir.

Meski sejak dini Mariam mengingatkan agar suaminya tidak tergoda korupsi, Bakir malah keras kepala. Mariam malah jadi korban, tak terkecuali korban kekerasan fisik. Alih-alih menghargai kesetiaan dan pengorbanan Mariam, Bakir malah mengambil Sutijah sebagai istri baru buat hidup bermewah-mewah di dunia baru.

Koruptor seperti Bakir baru benar-benar menyadari kekeliruannya setelah diciduk polisi dan dijebloskan ke dalam bui. Ia akhirnya menyadari bahwa dirinya hanyalah bagian dari angkatan yang sudah lapuk, dan tak lagi berguna, bahkan sudah merugikan, bagi negerinya.

“Tambah lama tambah terasa, bahwa orang-orang semacam aku ini tambah berumur tambah kehilangan kemudi dan terombang-ambing di lautan nafsu-nafsu dan ketololannya sendiri. Sadarlah aku, bahwa golongan atau angkatan semacam aku ini adalah angkatan yang membutuhkan mati, karena dia sudah tidak berguna lagi, tetapi dia tidak berani mengambil kematiannya sendiri,” ujar Bakir di dalam bui.  

Itu pernyataan yang keras sekali, seperti pesan “potong satu generasi” pada zaman Reformasi. Novel ini sendiri, di ujungnya, menyuarakan harapan bagi angkatan muda yang diwakili oleh Sirad. Dalam sudut pandang tokoh utama cerita ini, harapan itu berbunyi begini:

“Dan waktu ia pergi dari depan pintuku nampak olehku Sirad berjalan tegap. Bunyi sepatunya berderak dan bergema-gema. Tambah lama tambah jauh dan akhirnya hilang di dunia yang besar, di gelanggang perjuangan di mana ia dan angkatannya sedang menjawab tantangan hari depan — buat dirinya, buat tanah air dan sejarahnya.”

Sayang sekali, pada zaman kita kini, korupsi juga dilakukan oleh golongan muda. Banyak sudah figur muda dari lingkaran kekuasaan yang tertangkap dan meringkuk di bui akibat korupsi. ***

Bagikan: