Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Umumnya berawan, 27.9 ° C

Warna Politik

Karim Suryadi
Karim Suryadi

Karim Suryadi

PADA 2002, Steve Sample, Presiden  Southern University California, menulis The Contration’s Guide to Leadership. Meski ditujukan bagi pemimpin, kandungan buku tersebut amat berguna bagi pengikut.

Pada bagian awal bab, Steve menulis tentang kekuatan “berpikir abu-abu dan bebas”. Menurutnya, pemimpin yang pikirannya dibatasi oleh kebiasaan lama, yang diarahkan oleh hasrat yang tetap dan dikemudikan oleh prasangka, yang tidak dapat berpikir abu-abu dan bebas, yang tidak cocok dengan imajinasi kreatif dan ide baru di sekitarnya, adalah anakronistik. Dia tidak efektif. Kehadirannya seperti dinosaurus, memiliki kekuasaan tetapi pengikutnya berpikir lebih baik tanpa dia.

Jebakan kebiasaan lama, keengganan keluar dari zona nyaman, terbuai prasangka hingga menutup mata dan telinga dari apa yang berkembang di sekeliling adalah virus yang membuat orang “males mikir”.  Orang seperti ini cenderung akan membenarkan yang biasa ketimbang membiasakan yang benar.

Apa yang ditulis Steve terasa aktual dalam menyikapi perubahan dalam pemilu serentak 2019 mendatang. Silang pendapat dan akrobat yang diperagakan para politisi menimbulkan kekacauan berpikir, hingga perbedaan antara mengkritik dan menjelek-jelekan pun menjadi sumir.

Berpikir abu-abu dan bebas dalam memilih capres/cawapres dan legislator berarti meragukan pilihan sendiri yang membuatnya terus mencari informasi, pengumpulkan fakta, dan mendengarkan gagasan tentang kandidat. Warna partai yang membalut baju capes/caleg hanya penanda, dan bukan sekat pemisah diantara mereka. Terus mencari, melampaui sekat warna parpol, hingga ditemukan capres/cawapres dan caleg fungsional, yang kehadirannya membawa guna dan manfaat, tidak seperti dinosaurus yang dilukiskan Steve dimuka.

Gagal Fokus, Kesulitan Baru

Pada  pemilihan umum presiden (pilpres) 2019, pemilih untuk pertama kalinya akan memasuki bilik suara dengan lima kartu di tangan: kartu suara untuk memilih presiden, DPR, DPD, serta DPRD provinsi dan kabupaten/kota. Kondisi ini bukan hanya mengaburkan fokus partai politik (parpol),  calon legislatif (caleg) dan tim kampanye capres, tetapi juga menambah kesulitan bagi calon pemilih.

Pemilu serentak mengaburkan fokus parpol karena kampanye all out untuk capres belum tentu membuahkan dukungan untuk parpol pengusung. Kalimat ini senada dengan arahan salah saeorang pimpinan parpol kepada kader dan calegnya.

Apalagi pengusung capres dan cawapres adalah  gabungan parpol. Berharap efek mendukung capres tak ubahnya berebut embun di siang bolong. Bahkan untuk parpol tempat dimana sang calon jadi kader pun tidak jaminan. Hal ini terjadi karena tidak semua pemilih menempatkan calon dan parpol dalam keranjang yang sama.

Tak heran, di daerah pemilihan (dapil), caleg hanya berjibaku untuk merebut dukungan “sakorsieun” (mendapatkan dukungan yang cukup untuk merebut satu kursi legislatif). Tak banyak caleg yang berjibaku meraup dukungan dengan mengkampanyekan capres yang diusung parpolnya.

Sepertinya yang sibuk mempromosikan, menyerang atau menangkis serangan terhadap capres/cawapres hanyalah juru bicara tim kampanye nasional. Kehangatan dalam perdebatan antarjubir capres tak menjalar ke dapil. Publik tetap tenang dan adem ayem. Tirani kebisuan mengunci mulut mereka tentang calon mana yang akan dipilih tahun depan.

Bila parpol dan caleg gagal fokus, calon pemilih mendapatkan kesulitan baru. Betapa tidak, jangankan memilih lima, memilih satu dari dua calon presiden, atau memilih anggota legislatif saja, tidak mudah.

 Dari sebuah diskusi terpumpun (focus group discussion) terungkap memilih anggota legislatif (baik DPR, DPRD, maupun DPD) jauh lebih sulit ketimbang memilih calon presiden. Hal ini terkait hal-hal berikut. Kesatu, calon legislatif lebih banyak jumlahnya dengan faktor pembeda yang samar-samar. Memilih anggota legislatif seperti tengah menjawab tes dengan soal pilihan ganda, dimana tiap alternatif jawaban tampak benar semua, atau salah semua.

Kedua, tidak ada instrumen, atau bahkan panggung, yang memberi pemilih sebuah alasan mengapa harus memilih salah satu caleg dari sekian calon yang nampang di baliho, atau datang mengunjungi mereka. Banyaknya caleg dengan perbedaan yang gradual membuat pemilih jadi “barieukeun” dan “samar rampa” (Calon banyak, sedikit petunjuk,  bisa jatuh pada pilihan yang salah).

Dalam kondisi seperti itu, calon pemilih memiliki ketidakpastian dan tingkat kecemasan yang tinggi menghadapi pileg. Selain memunculkan kebutuhan akan sumber informasi, secara psikologis kondisi ini pun akan mendorong mereka berpaling kepada significant others (orang lain yang dianggap penting dan bisa dipercaya). Di beberapa daerah, ketidaktahuan tentang calon mendorong pemilih untuk ber-tabaruk (berharap berkah) dengan mengikuti pilihan orang yang mereka percayai.

Beda halnya dengan pilpres, dengan calon yang hanya dua pasang, membuat independensi pemilih lebih baik. Sesulit apa pun membedakan kapasitas, kapabilitas, dan keberterimaan kedua calon lebih mudah dibanding harus menyaring empat sosok legislator dari ratusan calon yang ada.

Satu hal yang harus diinsyafi, pemilu serentak akan membuat masyarakat lebih kaya akan warna politik. Keragaman warna politik sepatutnya hanya dipahami sebatas tanda, bukan penghalang diantara warga, atau pun ikon kebencian.

Selain membuat pemilih harus lebih banyak membaca, melihat, dan mendengar sosok kandidat, kesulitan baru memilih calon yang layak dipercaya, membuat pemilih harus lebih toleran menghadapi pilihan yang berbeda. Toleran berarti tidak intervensi. Betapa pun yakin atas pilihan yang dibuat, toleran terhadap pilihan yang berbeda akan mencegah seseorang menista, merendahkan, atau menafikan pilihan orang lain.

Di atas segalanya, sadarlah akan relativitas kebenaran pilihan politik yang dibuat atas pertimbangan inkremental (didasarkan atas data yang tidak lengkap). Karena kebenarannya tidak absolut, maka ikhtiar menemukan jalan bagi lahirnya pilihan yang benar  akan mendekatkan pada pilihan ideal.  Jika demokrasi menuntut pemilih yang cerdas dan bawel, maka pemilu serentak menuntut pemilih lebih cerdas dengan kebawelan yang minimal. Cerdaslah bertindak, kurangi berbantah-bantahan tentang calon yang tidak dikenali dan pilihan yang berbeda. Tak serumit yang ditakutkan, bukan ?***

Bagikan: