Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Umumnya berawan, 27.9 ° C

November Rain

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

NOVEMBER di awal bulan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, disemarakkan dengan banyaknya netizen yang memosting postingan tentang lagu November Rain milik Guns N’Roses yang secara kebetulan manggung juga di Jakarta awal November lalu. Kenyataannya, November ini memang diwarnai oleh hujan, bahkan cukup sering sehingga mengakibatkan banjir di beberapa titik Kota Bandung.

Hujan, tentu harus disikapi secara baik, sebagai anugerah, rezeki dari Tuhan, bahkan tahun baru imlek wajib hujan deras karena dianggap sebagai pertanda keberuntungan dan rezeki. Namun bagi sebagian orang, hujan pun bisa ditangkap sebagai duka, kesedihan, metafora langit yang menangis, ataupun mendung yang diartikan tiada keceriaan. Persepsi terakhir ini tampaknya relevan jika dikaitkan dengan awan mendung yang menggelayuti sepak bola Indonesia di bulan November.

Target yang Menggemaskan



Bicara tentang Persib Bandung di bulan November dalam konteks hasil pertandingan, sulit bagi para bobotoh untuk mengembangkan senyum. Hasil minor terus diraih anak-anak Bandung. Menghadapi tiga tim papan bawah, Persib hanya mampu mengemas satu poin. Bahkan kekalahan besar 0-3 dari PSIS diramaikan oleh media nasional dengan berita adanya isu pengaturan skor. Sebelumnya, isu suap dan pengaturan skor justru muncul dari internal tim Persib sendiri usai tim pelatih menuding beberapa anaknya bermain tak wajar saat bertanding menghadapi PSMS Medan.

Uniknya, rangkaian hasil buruk bulan ini sebenarnya tak menunjukkan hasil buruk juga di klasemen, secara umum Persib menempati posisi atas (3 besar) klasemen sementara. Persoalannya adalah Persib kehilangan momentum untuk menjadi juara, padahal kans besar dan terbuka dimiliki oleh Atep dkk setelah kondisi tim dalam kondisi ideal pascasanksi untuk trio pemain asing terlewati.

Jika kita amati secara jernih, ekspektasi juara dari bobotoh bisa jadi tak sinkron dengan motivasi dan target tim. Untuk ukuran pelatih yang baru pertama menangani tim Indonesia, seandainya Persib finis di urutan tiga pun, tentu sudah dapat dikatakan pencapaian yang sangat baik bagi seorang Roberto Carlos Mario Gomez. Terlebih jika indikatornya adalah target awal yang hanya bicara posisi 5 besar di akhir musim.

Namun semua pihak berhak menilai, dan penilaian dari bobotohlah yang paling bisa menggulirkan isu panas walau sarat asumsi tanpa perlu dikemas secara rasional. Pekan ini diwarnai kabar tentang caci-maki bobotoh terhadap tim pelatih Gomez-Soler dan ajakan untuk “mempermalukan” keduanya di Bandara usai kekalahan dari PSIS. Padahal beberapa waktu lalu usai laga tandang dari Makassar, Gomez mendapat sambutan hangat di tengah dinginnya hujan. Ribuan bobotoh menyambut tim di Bandara Husein Sastranegara dan memberi motivasi untuk klub kebanggaan mereka.

Tak dapat dimungkiri, banyak juga bobotoh yang dibuat bingung dengan situasi yang tengah melanda Persib. Sindiran-sindiran dan gosip berseliweran di media sosial maupun pemberitaan resmi setelah tuduhan dari Gomez kepada Supardi dan tiga pemain lain. Romantisme juara dan kesan baik membuat mayoritas bobotoh justru menyatakan dukungan kepada Supardi dan balik menuding Gomez sebagai biang kerok, matre, hanya mementingkan uang dan lain sebagainya. Asumsi ini tentu semakin pas karena beredar pula berita lama tentang konflik Gomez di klub sebelumnya yang masih bicara tentang persoalan gaji dan uang. Uniknya, pihak manajemen klub lamanya itu justru berada di atas angin.

Track record tentang persoalan gaji ini sebenarnya akan selalu merugikan seseorang. Namun apa dikata, publik pernah begitu dibuat jatuh cinta kepada pelatih asal Argentina ini. Kemampuannya memang layak diacungi jempol usai bisa meracik materi seadanya namun mampu merangsek hingga posisi tiga besar kini.

Usai Persib dijatuhi sanksi, semua akan mendapat dukungan ketika menyalahkan federasi, wasit maupun elemen lainnya. Namun setelah performa buruk yang ditampilkan Persib di bulan November maka jangan harap bobotoh akan memberi pemakluman istimewa. Karena sekali lagi, bobotoh memiliki penilaian, dan bobotoh menganggap bahwa faktor utama kekalahan adalah permainan tim Persib itu sendiri.

Juara sudah lepas, target posisi akhir klasemen musim ini memang tercapai. Namun jangan lupa jika suporter tak akan puas dengan penjelasan rasional dan indikator-indikator semacam itu. Mereka hanya mengingat bahwa peluang juara yang besar musim ini telah dirusak oleh orang-orang yang ternyata tak hanya berasal dari eksternal klub.

Menjelang akhir November, sinar mulai tampak. Konferensi pers yang digelar oleh Mario Gomez, Supardi dan para pejabat PT PBB lain, juga pernyataan tak percaya manajemen klub terkait isu suap yang melanda Persib bisa membuat bobotoh sedikit tenang. Meski demikian, tampaknya tak akan berpengaruh banyak untuk nasib Mario Gomez musim depan. Persoalannya bukan tentang performa buruk di bulan November ataupun karena menuding pemainnya kena suap.

Nasib Gomez sebenarnya bisa kita prediksi ketika dirinya mengabaikan Glenn Sugita terkait minatnya untuk melatih Persib musim depan. Bisa kita buka kembali arsip yang memuat pernyataan Gomez bahwa dirinya hanya ingin bersama Persib jika Umuh Muchtar yang meminta. Itu karena dia menganggap hanya Umuh petinggi Persib yang serius dan mendampingi tim dalam setiap kesempatan. Gomez lupa bahwa ini adalah klub, perusahaan, lebih dari sekadar tim. Tentu ada logika manajemen dan kepengurusan sesuai tupoksi dan peranan yang lebih besar dari sekadar mendampingi tim bertanding. Gomez pun lupa bahwa dalam konteks perusahaan, maka sehebat apapun Gomes dia  hanyalah seorang pegawai, dan harusnya dia paham serangan-serangan seperti itu tentu akan menimbulkan dampak kepada dirinya.

Akhir kata, semoga Persib U-19 bisa menang atas persija U-19 di laga final U-19 dan meraih gelar juara. Setidaknya itu akan membuat akhir November kita menjadi lebih cerah dan hangat.***

Bagikan: