Pikiran Rakyat
USD Jual 14.235,00 Beli 13.935,00 | Berawan, 20.6 ° C

Napak Tilas Jalur Niaga Kuna di Kelimutu

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

ADA jalan raya yang melingkar di lingkar luar Keli Mutu antara Detusoko sampai Moni. Jalan raya tersebut berada di dasar kaldera yang sangat tua umurna, yaitu kaldera Gunung Pra Sokoria. Rangkaian gunung yang membentang panjang melengkung itu adalah dinding kaldera yang sangat besar dari gunung generasi pertama Keli Mutu.

Dari dalam kaldera itu kemudian lahir gunungapi raksasa generasi kedua yang bernama Gunung Sokoria. Setelah meletus dahsyat, dari kaldera generasi kedua inilah lahir Keli Mutu Tua, disusul lahirnya Keli Mutu Muda dengan tiga danau kawahnya yang berbeda warna.

Di dasar kaldera Gunung Pra Sokoria yang relatif datar, dengan air yang berlimpah, di sinilah kampung-kampung adat dibangun, kemudian perkampungan dan kantor Desa didirikan.

Bagaimana antar warga kampung adat itu saling berhubungan secara sosial dan ekonomi sebelum jaringan jalan dibuat selancar saat ini? Para leluhur suku Lio membuat acara mingguan yang dikemas dalam bentuk rega atau pasar. Setiap hari Rabu, di Pasar Do, di padang rumput di tengah hutan, dilakukan transaksi dengan cara barter, saling bertukar barang, dengan jumlah dan takaran yang disepakati.

Karena berbeda jarak antar kampung adat ke Pasar Do, kemungkinan ada masyarakat dari beberapa kampung adat yang sudah berangkat pada hari Selasa, kemudian menginap di Pasar Do, agar pagi hari sudah dapat menjajakan barangnya. Jarak dari kampung terdekat ke Pasar Do antara 5 km - 15 km dengan medan naik turun, bergelombang dan menanjak.

Berdasarkan keterangan dari para pinisepuh di Wologai, ada empat jalur niaga kuna menuju Pasar Do, yaitu jalur Wologai, jalur Kelimutu, jalur Ratabeke, dan jalur Wolomoni.

Jalur Wologai, jalan setapak di tengah hutan untuk warga yang datang dari Desa Wologai, Detukeli, Nduaria, Kelisoke, Murole, Moukaro. Jalur Kelimutu diperuntukan bagi warga yang datang dari Desa Pemo, Welojita, Nggela, Jopu, Mbuli. Jalur Ratabeke, bagi warga yang datang dari Desa Sokoria, Ndona, Saga, Aekipo, dan jalur Wolomoni bagi warga yang berasal dari Desa Wolomoni, Wolofeo, Ndito, Wolotolo, dan Ende.

Pasar Do, tempat bertemu dan berlangsungnya transaksi itu berada di padang rumput (sabana) di kawasan yang datar dan luas di tengah hutan, berada di dasar kaldera Gunung Sokoria sebelah barat-utara. Pada masa itu, kerbau masih dilepasliarkan, sehingga dapat menjelajah di padang rumput yang luas ini. Pemilik kerbau tahu mana kebau miliknya, demikian juga kerbau peliharaannya akan mengetahui kehadiran tuannya.

Secara hukum adat, setiap wilayah mempunyai tugas utama masing-masing sesuai dengan karakter daerah dan keterampilan warganya. Menenun hanya diperbolehkan bagi masyarakat yang berada di wilayah pantai selatan, seperti Desa Wolojita, Nggela, Korulimbu, Jopu, Tenda, Mbuli, dan Mbuliloo. Pembuat garam berada di wilayah pantai utara, yaitu di Desa Paupanda, Maurole, dan Wewaria. Pengrajin tikar berada di kampung Roga dan Pemo. Pembuat gerabah untuk perlengkapan makan dan masak berada di daerah Wolosoko, dan tembakau dihasilkan dari daerah Ndu’aria.

Hasil bumi dari Wologai di antaranya padi merah (aremera), jagung solor, ketelapohon, ubijalar, talas, jawawut, sorgum, dan labu. Hasil bumi itu dibawa dengan kantung putih (kain merka) yang isinya kurang lebih 15 kg. Bakul anyam dari daun lontar atau pandan (mbola) isinya sekitar 15 kg. Mbola kuta ukurannya lebih besar lagi, diperuntukkan sebagai wadah hasil padi dari kebun yang disimpan di lumbung. Karena masyarakat Wologai tugas utamanya bertani, maka warga Wologai pandai menganyam, seperti membuat bakul, nyiru, dan perlengkapan hidup lainnya untuk menyimpan padi dan beras dengan aman.

Hasil bumi yang ditanam di ladang oleh warga adat Lio di Wologai, semua dipahatkan di papan panjang yang menutupi bagian depan rumah adat. Ada pahatan yang menggambarkan jagung, padi, labu besar, dan kacang-kacangan. Binatang yang paling akrab dengan warga adat adalah anjing, ayam jantan, ayam betina, babi, kerbau. Ada juga dua orang yang sedang menumbuk padi, warga yang sedang bermusik, menari, bahkan ada pahatan yang menggambarkan senjata dan matahari.

Sayuran termasuk yang dipahatkan dalam papan itu karena menjadi salahsatu unsur penting dalam ritual ketiuta untuk warga Wologai, atau ngguauta untuk adat Lio, yang ritualnya menggunakan beragam jenis sayur. Hasil bumi lainnya seperti bawang merah (somu) dan bawang putih (sunga) dihasilkan dari kampung Sokoria.

Semua barang-barang, ternak, dan hasil bumi itulah yang dipertukarkan di Rega Do. Hasil bumi atau ternak ditukar dengan ragi, sarung tenun khas Ende untuk laki-laki atau dengan lawo, sarung tenun untuk perempuan. Semua terjadi di Pasar Do sesuai dengan ukuran masing-masing dan kesepakatan kedua belah pihak. Beras dalam mbola, tempat beras yang dibuat dari daun koli (daun lontar) atau dari daun re'a (daun pandan), dapat ditukar dengan apa yang dibutuhkan oleh pemilik beras, dan dijajakan oleh yang lain. Demikain juga yang memerlukan garam dalam lepomesi, wadah garam dari daun pandan. Para penggemar tembakau, dapat menukarkan apa yang dimilikinya dengan tembakau.

Ketika jaringan jalan raya mulai dibuat, kendaraan mulai lancar menghubungkan antara kampung di seputar Kelimutu, maka kejayaan Pasar Do mulai meredup. Menurut cerita orang tua di Wologai, Pasar Do berakhir tahun 1960-an akhir.

Pasar yang biasa digelar setiap hari Rabu di Pasar Do, kemudian tempatnya dipindahkan ke Detusoko, sekitar 4 km dari pertigaan Detusoko ke arah Mbonga. Kini pasar di sekeliling Kelimutu itu bukan hanya di Detusoko, tapi ada juga di Wolowaru yang buka setiap hari Sabtu, di Moni setiap hari Selasa, di Wowona setiap hari, tapi lebih ramai pada hari Jum’at, dan Pasar di Nduria, pasar buah dan sayuran yang buka setiap hari.*

Bagikan: