Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Berawan, 19.7 ° C

Kenangan Maryati

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

MEMBACA novel Maryati karangan mendiang Suwarsih Djojopuspito (1912-1977) seperti membuka album. Peralihan halaman menyajikan gambar pengalaman. Cerita seakan bergerak di atas jalan yang lempang dan rata, tanpa kelokan dan tanjakan drama yang mengubah nasib tokoh-tokohnya.

Pustaka Jaya menerbitkan novel ini pertama kali pada 1982, sekitar lima tahun setelah pengarangnya wafat. Ibu Suwarsih adalah bagian dari generasi Indonesia yang berkiprah sebagai kaum terpelajar pada paruh pertama abad ke-20. Ia menulis dalam bahasa Sunda dan Belanda, kemudian dalam bahasa Indonesia.

Tokoh “aku” dalam novel ini berperan sebagai pencerita. Hampir dapat dikatakan bahwa dia tidak terlibat dalam cerita. Dia hadir di halaman-halaman pembukaan dan dalam paragraf terakhir, sebatas membuka dan menutup cerita.

Dalam bagian pokoknya, dia menarik jarak dari cerita, memberi ruang bagi sudut pandang orang ketiga. Dengan itu, dia menghadirkan kembali “zaman yang lampau” setelah lewat “setengah abad”.

Kisah nostalgis ini memanggil kembali ingatan pencerita ke tahun 1928. Itulah zaman pergerakan kebangsaan yang merindukan “Dewi Kemerdekaan” turun ke bumi Indonesia.

Kaum muda terpelajar waktu itu berserikat dan berkumpul dalam sekian organisasi modern. Salah satu di antaranya adalah Jong Java.

Novel ini bercerita seputar kegiatan para aktivis organisasi Jong Java Cabang Bogor, khususnya kalangan perempuannya, yang dalam istilah zaman itu disebut meisjeskring. Di lingkaran alias kring itu ada satu sosok pribadi, yang namanya jadi judul novel ini dan figurnya barangkali jadi alter ego sang pencerita sendiri. Dialah Maryati.

Maryati berusia 15 tahun, tinggal di asrama Sekolah Kartini, belajar di MULO, sekolah menengah waktu itu. Ia suka membaca buku, tak terkecuali karya Shakespeare dan Dante, juga suka menulis puisi.

Kakaknya, Rustini, adalah Ketua Meisjeskring Jong Java Cabang Bogor. “Maryati bagaikan bayangan dibandingkan dengan kakaknya, selalu bimbang ragu-ragu akan kecakapannya sendiri dan mempunyai kebiasaan untuk berdiam diri. Ia tidak senang menampakkan perasaannya dan seperti tetumbuhan di pinggir jalan, cepat melingkupkan daun-daunnya, jika tersentuh jeriji sebentar pun. Orang Belanda menamakan tetumbuhan itu ‘kruidje-roer-meniet’,”tutur pencerita.

Di sekitar putri malu Maryati, di lingkungan kaum muda terpelajar, ada lelaki dan perempuan yang rata-rata berusia antara 22 dan 25 tahun. Ada pula satu figur yang dituakan, yakni Pak Supardi, pegawai berusia 40 tahun, anggota Budi Utomo.

Bagi kaum remaja itu, Pak Supardi adalah penasihat. Ceritanya berupa fragmen yang singkat, dibatasi oleh saat-saat menjelang kongres Jong Java di Yogyakarta.

Agenda organisasi ketika itu antara lain menyangkut rencana fusi organisasi-organisasi kepemudaan ke dalam wadah perhimpunan Indonesia Muda. Rapat digelar, studieclub dijalankan, dan malam dana diselenggarakan, sebelum organisasi mengirim utusan Bogor ke Yogyakarta.

Betapapun, novel ini bukan melulu soal politik, juga bukan melulu soal Maryati. Mungkin lebih tepat dikatakan bahwa novel ini bercerita tentang romantika kehidupan sehari-hari kaum muda, khususnya kalangan gadis remaja seperti Maryati, pada zaman pergerakan kebangsaan.

Di situ ada cerita tentang Halimah, istri yang jadi korban poligami dan kekerasan Mantri Polisi Yasin lulusan OSVIA. Ada pula kisah tentang Sukesih, perempuan 16 tahun yang bunuh diri karena tak sanggup menanggung aib setelah diperdaya oleh Mulyadi.

Ada Raidah, gadis manis teman sekelas Maryati, yang dipaksa oleh orang tuanya untuk dijadikan istri muda Pak Datuk yang sudah gaek. Juga ada Lestari, gadis asal Ciamis yang bahagia setelah dipinang oleh lelaki pujaan hatinya sendiri, Mas Edianto.

Maryati sendiri merasa “hidup dalam dunia lain”, berbeda dari teman-temannya. Dia bukan pribadi yang kelak mau dikurung oleh “ada-istiadat” yang dianggap melekat pada lembaga perkawinan. Dia punya wawasan lain.

Dia, misalnya, tidak mau bergabung dengan kelompok Teosofi yang dianggapnya “tak tegas, samar-samar saja dalam memperbincangkan semua persoalan yang berhubungan dengan kemerdekaan”. Rustini pun demikian. Dia “membaca buku tentang pergerakan perempuan, sajak-sajak Henriette Roland Holst atau Nora karya Ibsen”.  Baginya, hubungan asmaranya dengan Mas Daryanto tidak harus merintangi komitmennya terhadap gerakan kebangsaan.

Rincian romantika seperti itu dilukiskan dalam dua latar, yakni kota hujan Bogor, dengan istana dan kebun rayanya, juga Ciloto, “daerah terdingin di Puncak”, dengan bungalow dan panorama pegunungannya yang elok. Dalam lanskap itu kaum remaja naik sepeda, mobil, atau bus umum, melantunkan komposisi Schubert atau tembang Sunda, memainkan piano atau memetik gitar dan kecapi, menyeruput kopi susu atau minum anggur.

Motif cerita tertangkap jelas dari kata-kata penutupnya. Kata pencerita, “Aku rindu akan zaman remajaku, setengah abad yang lalu, zaman rapat-rapat Jong Java dan Indonesia Muda, tatkala para pemuda masih hidup sederhana dan merasa gembira serta bangga dapat menyumbangkan tenaganya kepada cita-cita yang mulia, merintis Indonesia Merdeka”.

Layaknya album, novel Maryati kiranya dapat memenuhi kerinduan demikian.***

Bagikan: