Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Cerah berawan, 27.9 ° C

A Man Called Atep

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

ATEP, nama yang singkat, namun tentu akan terurai kisah panjang jika kita membahas nama ini. Terlebih dalam konteks sepak bola nasional khususnya Persib Bandung. 

Empat huruf yang pernah begitu sering disebut dalam bingkai kontroversi terkait statusnya sebagai pemain profesional. Belasan tahun lalu, Atep si budak Cianjur, talenta didikan UNI-salah satu klub lokal Bandung yang melegenda, andalan timnas Indonesia, justru melejit bersama bendera Persija Jakarta. Sebuah nama yang saat itu seakan begitu “tabu” untuk dibicarakan oleh publik sepak bola Priangan.

Tapi memang itulah adanya, Atep yang berbaju jingga ibu kota terus melaju tak tertahan. Kemampuannya komplet, dribel cepat, dan insting menjadikan dirinya menjadi yang terbaik dalam urusan sisi menyisir lapang. Semua mengakui, namun hanya satu yang membuat gusar, mengapa si anak ajaib ini tidak bermain untuk Persib? Begitu banyak alasan yang membuat publik Bandung tak habis pikir saat itu. Ditelusuri dari banyak aspek, seharusnya Atep otomatis Persib. Dari mulai darah Sunda-nya, karier juniornya, ke-UNI-annya, bahkan terkait “kecelakaan” klub ini banyak pihak yang dicurigai habis-habisan tentang suatu konspirasi.

Termasuk dua orang yang sangat dihormati diblantika sepak bola tanah air, yaitu Nugraha Besoes dan IGK Manila. Khusus bagi Kang Nunu-panggilan akrab Nugraha Besoes mungkin memang sudah nasibnya, jika ada hal terkait “pembajakan” aset sepak bola Bandung ke Jakarta seringkali disalahkan. Seperti halnya kepindahan Mastrans dari klub Bandung Raya ke Pelita Jaya Jakarta puluhan tahun lalu, Nugraha Besoes pun menjadi pihak yang ditengarai terlibat.

Si Anak Hilang



“Terjebak” dalam situasi unik, Atep justru sukses menanamkan kesan yang takkan hilang dibenak bobotoh sekaligus jakmania pada saat bersamaan, secara tak langsung kedua pendukung saling “berebut” Atep. Jakmania-pendukung persija jelas terus mengelukan jagoan mereka ini, hasil didikan Bandung yang terus mengerek kejayaan tim Macan Kemayoran.

Sementara itu bobotoh-pendukung Persib, walau melontarkan caci namun merindukan kembalinya Atep untuk berbakti di tanah Pasundan (baca: bermain untuk Persib). Dalam beberapa kesempatan kedatangannya ke Bandung, baik ketika berbaju persija maupun timnas, Atep mendapat dua sensasi sambutan sekaligus dari bobotoh, sambutan hangat dan caci maki. Walau tentu kita pun mengetahui bahwa mereka yang mencaci pun sejatinya karena menginginkan Atep untuk segera berbaju Persib Bandung.

Maka kesimpulannya tetaplah sama. Bahwa sebenarnya publik Bandung maupun Jakarta sama-sama menginginkan Atep membela klub jagoannya. Situasi langka seperti ini tentu tidak akan terjadi andai Atep yang gemilang bersama Persiba Bantul saat itu langsung bergabung bersama Persib senior. Jika itu terjadi maka ceritanya akan menjadi standar seperti kebanyakan pemain, yaitu pemain yang melanjutkan ke Persib senior setelah sebelumnya cemerlang di tim junior.

Semakin gagal pengurus Persib mendaratkan Atep di Persib, maka bobotoh semakin menginginkan budak Cianjur ini, dirinya dianggap anak hilang Persib yang tengah tersesat.

Kembali Pulang



Atep memang dilahirkan untuk Persib, saya takkan lupa momentum 10 tahun itu. Atep yang tengah berada di Bandung terkait agenda tim nasional saya datangi bersama kameraman secara mendadak--kebetulan saat itu saya masih menjadi reporter program Persib Aing di STV Bandung. Entah karena keluarganya di Cianjur sering menyimak program ini dan Atep kebetulan pernah nonton juga, kehadiran saya di depan kamarnya ternyata langsung disambut baik, seakan telah mengetahui siapa kami dan apa maksud kedatangan.

Bisa saya pastikan itu adalah wawancara ekslusif di mana pertama kalinya seorang Atep bicara cukup jujur mengenai keinginan dan peluangnya untuk berbaju Persib. Maklum saja, saat itu Atep masih resmi berstatus pemain persija, tentu saja akan sangat berhati-hati menjawab isu sensitif ini, terlebih saya perhatikan memang tak ada wartawan nasional yang langsung “nodong” dan bertanya tentang Persib dan bobotoh. Usai wawancara itu saya mengucap salam sampai ketemu di latihan Persib, dan benar saja, doa terkabul, Atep akhirnya bergabung juga bersama tim Pangeran Biru.

Atep resmi berbaju Persib di era pelatih Jaya Hartono, masuknya Atep bersamaan dengan diboyongnya gerbong Deltras oleh Jaya Hartono, dimusim yang sama bergabung pula nama-nama seperti Waluyo, Airlangga Sucipto, Hilton Morriera, dan Hariono. Nama yang saya sebut belakangan adalah satu-satunya pemain yang terus berbaju Persib sejak kedatangannya ke Bandung hingga detik ini. Alhasil Hariono dan Atep menjadi pemain paling senior yang selalu setia berbaju Persib sejak 10 tahun lalu, label pemain loyal dan setia layak tersemat pada keduanya.  

Selalu Istimewa



Beberapa waktu lalu, lini masa media sosial saya seringkali dibuat riuh terkait performa Atep. Dari yang mulai sinis, meragukan hingga mempertanyakan kontribusi Atep untuk Persib. Bisa jadi semua ekspresi itu adalah ungkapan gemas dikala Persib tak menuai hasil sesuai harapan saja. Dii lain waktu bermunculan juga pujian dan ungkapan salut untuk Atep yang terkadang dianggap selalu bisa mencetak gol melalui cara yang tak diduga-duga.

Walaupun dikemas dalam bungkus candaan ataupun satir, sesungguhnya julukan Lord kepada Atep telah menegaskan pengakuan tersendiri untuk budak Cianjur ini. Bahwa dia memang ditakdirkan untuk Persib, terlebih masa baktinya yang terbilang sangat lama untuk ukuran sepak bola profesional.

Oleh karena itu, bicara arti penting Atep bagi Persib seyogyanya bicara lebih dari sekedar performa semata. Usia memang membuatnya tak segesit dulu, posisi pemain inti pun bukan jaminan lagi untuk pemain bernomor punggung 7 ini. Namun Atep selalu penting bagi Persib dan bobotoh. Melalui dirinya kita bisa berkisah tentang garis takdir dan pilihan dari seorang pemain Jawa Barat asli. Yang pernah tetap memilih berbaju biru ketika begitu banyak tawaran warna dan corak kostum datang menghampiri.

Baginya, seperti kebanyakan pemain lain Jawa Barat, Persib adalah obsesi masa kecil, bisa jadi pencapaian tertinggi yang berawal dari mimpi. Ini tentang pemain yang sama artinya dengan Raul Gonzales terhadap Real Madrid, Andreas Iniesta terhadap Barcelona, ataupun Fransesco Totti terhadap AS Roma. Tentang pria yang telah membuktikan janjinya melalui gol penentu di semifinal 2014 yang membawa Persib ke partai puncak dan menjadi juara Indonesia, kami menyebutnya  seorang pria bernama Atep.***

Bagikan: