Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Kota Atheis

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

BANYAK sudah yang dibicarakan orang tentang masalah yang diangkat dalam novel Atheis karya almarhum Achdiat K. Mihardja. Sejak novel ini mulai terbit pada 1949, orang sudah merasakan kegemparan, terutama dalam kaitannya dengan tema keagamaan. Tidak perlu kita mereproduksinya di sini.

Cukup kiranya kita katakan bahwa novel ini menyuguhkan cerita berbingkai tentang pergulatan pikiran seorang mistikus Islam yang jadi goyah dan bimbang setelah bergaul dengan rekan-rekan sezamannya yang berpikiran modern dan sekuler. Semangat zaman di Indonesia pada masa akhir kolonialisme tercermin dalam kisah ini.  

Buat saya sendiri, salah satu hal yang menarik dari warisan sastra Indonesia yang satu ini adalah lanskap kota yang digambarkannya. Novel ini menghadirkan Bandung pada akhir dasawarsa 1930-an atau awal dasawarsa 1940-an. Cukup banyak rincian ruang urban yang disebut-sebut dalam kisah ini, antara lain rumah, penginapan, kantor, restoran, warung kopi, jalan, gang, pasar, toko, bioskop,  lapangan tenis, taman, alun-alun, dan stasiun. Juga ada rincian lanskap yang khas zaman perang, yakni lubang perlindungan.

Seputar Pusat Kota



Tokoh utama novel ini adalah Hasan, warga Bandung yang berasal dari Garut, bekerja di kantor pemerintah, dan jadi pengikut seorang guru tarekat dari Banten. Ia tinggal di Jalan Sasakgantung 18. Di kota ini, ia bertemu kembali dengan teman masa kecilnya, Rusli, setelah 15 tahun berpisah. Sang teman jadi aktivis politik berhaluan Marxis, pernah tinggal di Singapura, Palembang, dan Jakarta, lalu pindah ke Bandung, dan hidup dari kegiatan catut-mencatut. Ia tinggal di Jalan Kebonmanggu 11.

Melalui Rusli, Hasan mengenal, bahkan pada gilirannya mencintai Kartini, perempuan modern yang tinggal di Jalan Lengkong Besar 27. Di sebuah restoran di Jalan Braga, Rusli memperkenalkan Hasan dan Kartini kepada Anwar, yang disebutnya “seniman anarkhis”. Sang seniman yang sikapnya sembarangan datang dari Jakarta, mula-mula ikut menumpang kepada kerabatnya di Jalan Kaca-kaca Wetan, kemudian ikut menumpang di rumah Rusli.

Area pengalaman mereka membentang di seputar pusat kota, sekitar dua kilometer dari Alun-alun. Ke selatan hingga Tegallega, ke utara hingga Merdeka Lio. Memang ada bagian cerita tentang perjalanan Hasan bersama Anwar ke luar kota, naik kereta dari Bandung ke Wanaraja, disambung dengan perjalanan delman ke Panyeredan melewati kebun-kebun jeruk. Namun, bagian terbesar dari kisah ini berpusat di dalam kota.   

Jalan Braga yang ramai rupanya jadi pusat syaraf tersendiri, yang mempertemukan beragam moda transportasi, bising dengan suara klakson, riuh dengan macam-macam manusia, dan ada kalanya memperdengarkan umpatan congkak berbahasa Belanda terhadap masyarakat jajahan.

Percakapan seputar agama dan politik, yang antara lain mengutip pandangan Marx dan Engels, ada kalanya berlangsung di restoran, di tengah keramaian Braga. Namun, intensitas diskusi seputar kondisi sosial politik berlangsung kalau tidak di Kebongmanggu, ya di rumah aktivis Bung Sura, di Gang Yuda. Adapun pergulatan batin Hasan, yang secara tepat digambarkan oleh pengarang sebagai “rapat besar dalam hati”, terutama berlangsung di Sasakgantung.

Mobilitas Hasan di seputar area tersebut, dengan pikiran yang tiada hentinya berkecamuk, pada dasarnya bukan mobilitas yang cepat, meski tidak juga bisa dibilang lambat untuk ukuran zamannya. Hasan adalah kerani berpeci yang ke mana-mana mengayuh sepeda Fongers. Baik kita petik salah satu gambarannya:

“Aku tidak suka kepada keriuhan dan keramaian... Oleh karena itu aku tidak mengambil Jalan Braga, melainkan membelok ke kanan, ke jalan Landraad, terus ke alun-alun, lewat Banceuy.”

“Aku mendayung dengan tenang. Tidak terlalu cepat, tidak pula terlalu alon-alon. Fongersku sudah hafal jalan.”

Tentu, tidak selalu ia mengandalkan jalan besar.  Pernah, misalnya, Hasan berjalan kaki melintasi pertemuan Pungkur dan Pasundan hingga Gang Asmi. Bahkan ketika bersepeda pun, ada kalanya ia mengandalkan jalan terobosan, yang katanya selaras dengan disiplin mistik yang mencari jalan terdekat ke tujuan hakiki, yakni melewati Gang Awiwulung dalam perjalanannya ke Kebonmanggu dari Sasakgantung.

Betapapun, sebagaimana dalam mistisisme, jalan terdekat bukan berarti jalan yang mudah.  Di jalan kecil ada kalanya ia mesti berbagi celak dengan para pedagang makanan dan anak-anak yang bermain layangan, sampai-sampai ia hanya bisa menuntun sepedanya. Adapun Kartini dan Rusli, juga Anwar, kelihatannya lebih sering mengandalkan delman buat berkeliaran.

Kiranya perlu ditambahkan bahwa lanskap kota tidak hanya mewadahi lalu-lalang manusia beserta kendaraan dan pikirannya. Lanskap yang sama juga menghadirkan film Gone with the Wind dan Pagan Love Song, radio Phillips, perangkat minum teh buatan Cekoslovakia, piano yang membawakan komposisi walsa “Donau Wellen”, “rokok kawung”, sigaret Mascot, “dipan fauteuil model Kero”, dan masih banyak lagi. Baik peci beludru di kepala Hasan maupun kain driehoek yang menutupi rambut Kartini sama pentingnya dalam lanskap ini.  

Lanskap Bahasa



Lanskap kota juga menghadirkan bahasa tersendiri. Dialog-dialog dalam novel ini tidak melulu mengandalkan bahasa Indonesia. Selaras dengan kalangan sosial yang diwakilinya, tak sedikit dialog yang disisipi ungkapan berbahasa Belanda dan Inggris. Simaklah, misalnya, omongan Anwar dalam percakapannya dengan Kartini, Hasan, dan Rusli di sebuah restoran:

“Nee zeg, weg met dat mensonterende feodalistisch gedoe (membanting tusuk giginya). En weet je, lain kali lagi saya terang-terangan berkata begini kepada ayahku sendiri. Ayahku, kau tahu Rus, dia seorang bupati. Jadi seorang feodalis nomor wahid, bukan? Nah, dengan terang-terangan kukatakan begini kepadanya, ‘Pa, tidakkah bapa merasa diri seperti seorang raja dari ketoprak, kalau bapa berpakaian kebesaran model kuno itu dipayungi oleh seorang opas? Kenapa abapa mesti dipayungi orang lain? Payung toh satu barang yang ringan, bisa bapa pegang sendiri. Dalam mata saya, semua itu sangat lucu, pa! (menoleh kepadaku). Bagaimana pendapat saudara? (kemudian menoleh kepada Kartini). You miss Tini, what’s your opinion? It is riddiculous, isn’t it? (mengedip). Sesungguhnya, dalam mata saya, semua itu sangat lucu. Kehormatan, katanya. Padahal dat is toch gewoon badutisme, nietwaar?

Sementara tokoh-tokoh cerita yang hadir dalam novel ini tergolong poliglot, pengarang novel ini, dengan caranya sendiri, telah ikut memperkaya bahasa Indonesia. Cukup banyak istilah yang berasal dari bahasa Sunda yang dibawa ke dalam bahasa Indonesia, bahkan disesuaikan dengan struktur kalimat dalam bahasa nasional. Di sini kita hanya dapat menyebut beberapa contoh. Ada kata dasar seperti gaang, kawung, lampai, menak, santana, sisig, tetengger, dan sebagainya. Ada pula kata bentukan seperti berédég-édég, menghéos, menobros, menyiakkan, menyingsring, dan sebagainya.  

Sampai di situ saya seakan diingatkan bahwa sedikitnya ada dua cara buat menghadapi lanskap. Pertama, kita terbang jadi dewa, melepaskan diri dari cengkeraman kota, lalu melihat lanskap dari ketinggian kayak Google Earth yang seakan-akan maha melihat. Kedua, kita menelusuri liku-liku jalan, dengan sekian tikungan dan persilangan, dalam ruang yang seakan tak bertepi, sepanjang jalur yang sepertinya tak berujung.

Saya sendiri, rasa-rasanya, cenderung memilih cara yang disebutkan belakangan. Setidaknya, saya tertarik oleh tokoh “saya” dalam novel ini, yang berupaya merampungkan naskah novel peninggalan Hasan. Katanya, “Saya akan mengunjungi tempat-tempat ke mana ia pernah pergi.”***

Bagikan: