Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Umumnya cerah, 23.7 ° C

Musim Pancaroba

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung

KETIKA musim kemarau menjelang akhir dan musim penghujan menjelang datang, peralihan musim ini biasa dikenal dengan sebutan pancaroba. Masyarakat dan otoritas negara harus waspada karena banyak hal bisa terjadi.

Salah satu yang harus diwaspadai adalah angin yang sangat kencang yang akan membahayakan warga kota.

Oleh karena itu, pemerintah perlu segera mengaudit ketahanan papan-papan reklame yang dipasang di pusat-pusat keramaian, di pinggir jalan raya, di jembatan penyeberangan, baik tiang penyangganya, baud-baudnya, maupun daya tekan angin sehingga dapat dipastikan papan-papan reklame itu masih mampu menahan kekuatan angin.

Demikian juga menara-menara besi yang tinggi, yang kini banyak dibangun di perkampungan. Untuk keselamatan warga, menara-menara itu perlu diaudit.

Bukan hanya itu, pohon-pohon pun harus diaudit untuk mengetahui adanya pohon yang sudah rapuh, atau batang pohon yang sudah mati sehingga tidak akan lagi mampu menahan beban daun yang berat oleh air hujan dan tiupan angin kencang.

Bila gaya menahannya lebih besar dari gaya luncurnya, maka lereng akan stabil. Sebaliknya, bila gaya menahan lebih kecil dari gaya luncurnya, maka akan terjadi longsor.

Guyuran hujan lebat umumnya terjadi tengah hari sampai sore. Bila kandungan air di dalam tanah itu melebihi kemampuan tanah untuk menahannya, maka lahan tersebut akan jenuh oleh air.

Pada malam hari sampai subuh, ketika tanah mencapai puncak kejenuhannya, maka lahan itu akan urug, longsor, yang akan menarik lahan di atasnya, dan akan mendorong lahan di bawahnya.

Keadaan Jawa Barat semakin sempurna, sifat alamiah lahannya sangat memungkinkan banyak terjadinya urug, yang disebabkan oleh faktor geologi, geomorfologi, dan curah hujan, ditambah hutan sudah banyak menghilang menjadi kebun bawang dan kentang di lereng-lereng yang terjal, dapat memperbesar daya dorong terjadinya urug.

Menghadapi musim hujan tahun ini, penting untuk bergerak bersama mengurangi kerugian sekecil-kecilnya.

Secara mandiri dan swadana masyarakat perlu mengadakan ronda lingkungan untuk mengontrol lereng-lereng bukit barangkali ada yang reta-retak atau rekah, agar segera bergotong-royong menjejalinya sampai padat, memperbaiki saluran-saluran airnya agar bila hujan turun, airnya tidak masuk ke dalam rekahan tersebut.

Keadaan itu harus diperiksa ulang setelah hujan, untuk memastikan bahwa rekahan itu tertutup dengan baik. Ronda lingkungan ini penting untuk mengamati gejala awal terjadinya longsor, seperti adanya gejala-gejala alam berupa: ada kerikil atau tanah yang berjatuhan dari tebing yang curam, keluarnya mataair baru yang muncul tiba-tiba, ada pohon atau tiang listrik yang kemudian miring, dan ada kolam yang tiba-tiba mengering.

Ronda lingkungan akan memperkuat ketahanan masyarakat, bukan saja dalam mengantisipasi terjadinya longsor, tapi juga banjir.

Sempadan-sempadan sungai yang sudah ada tanda-tanda akan tergerus banjir, dapat menjadi perhatian bersama, sehingga ada tindakan penyelamatan sebelum kejadian yang menyedihkan terjadi.

Sifat alamiah Jawa Barat yang sangat memungkinkan rawan longsor, semakin sempurna karena kehancuran ekologis yang semakin parah, maka kewaspadaan harus ditingkat berlipat-lipat, sebab urug akan menjadi ancaman yang mematikan kehidupan.***

Bagikan: