Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Dari Santri Gagal

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

MAS Natawiria mengarang roman Tjarios Ki Santri Gagal. Commissie voor de Volkslectuur (kini Balai Pustaka) menerbitkan buku ini pada 1921. Tipis betul, 31 halaman saja.

Dalam bahasa Sunda, sebutan “Ki” jelas buat lelaki. Adapun lelaki yang dipanggil Bung Santri dalam buku ini bernama Kurnia. Ia anak bengal, terbiasa dimanja oleh kedua orangtuanya. Masuk sekolah umum cuma bertahan seminggu. Belajar di pasantrén tak sampai hatam dan malah minggat.

Hidupnya royal. Harta warisan dihambur-hamburkan. Kalau bukan di meja judi, uang ia habiskan di pelacuran. Karena malas belajar, ogah masuk sekolah, gampanglah ia ditipu.

Seorang “pokrol bambu”dari Cikopo bernama Wasita memanfaatkan keluguan Bung Santri. Akhirnya, ludeslah uangnya dan ia hidup dari belas kasihan orang lain. 

Cerita ini bersifat didaktis. Penerbitnya kan Komisi Bacaan Rakyat, lembaga kolonial yang salah satu misinya mengarah kepada  edukasi masyarakat. Mudahlah kita menangkap tendesinya, yakni mendidik atau mengajar pembaca. Intinya: orang mesti masuk sekolah, rajin membaca, dan suka menabung.

Terasa pula kecenderungannya jadi corong buat Kanjeng Gupernemen alias pemerintah. Kebijakan pemerintah, mulai dari penyediaan air minum di jalan umum hingga larangan bagi perkawinan usia dini, mendapat pujian di sini.

Pesan sponsor juga ikut masuk. Di sela-sela cerita, pengarang menyelipkan informasi tentang layanan dari sebuah perusahaan asuransi.

Latarnya memang kolonial. Eropa dijadikan model dalam banyak hal mulai dari soal bacaan hingga soal kesetaraan lelaki dan perempuan. Coba simak petikan ini:

"Paingan oerang Europa, ngagedekeun naker kana boetjoe-batja teh, da djaba ti moeloengan tjonto-tjonto, loeang-loeang anoe palinter teh, oge ngalegakeun rarasaan djeung tetendjoan.”

(Pantas saja orang Eropa begitu mementingkan kegiatan membaca, karena selain memberikan banyak contoh dan meningkatkan kepandaian, juga dapat memperluas rasa dan pandangan).

Itu soal literasi. Petikan menarik juga kita dapatkan dari masalah kesetaraan lelaki dan perempuan. Simaklah suara Nyi Elom, gadis yang dipaksa oleh ayahnya untuk dijadikan istri muda seorang haji rentenir. Katanya:

"… Eh, toegenah teuing koe bapa, naha aja pidoenja kabina-bina teuing. Naha andjeunna teu oeningaeun kitoe, jen awewe oge djelema? Naha andjeunna teu oeningaeun jen awewe oge boga kasoeka-kadoeka? Iraha atoeh waktoena harkat awewe bisa saroea djeung lalaki? Kilangbara bisa saroea teh, atoeh oelah dihina-hina teuing nepi ka dianggep saperti mahloek noe teu dipaparinan kasoeka kanjeri atawa akal-boedi!

(...Oh, sungguh sakit hatiku oleh ayah, mengapa dia begitu gila harta. Apakah dia tidak tahu, bahwa perempuan juga manusia? Apakah dia tidak tahu bahwa perempuan pun punya suka dan duka? Kapankah tiba waktunya harkat perempuan bisa sepadan dengan lelaki? Kalaupun belum bisa sepadan, setidaknya janganlah perempuan terlalu dihina sampai-sampai dianggap seperti makhluk yang tidak diberi rasa senang, rasa sakit atau akal budi!)

Mungkin karena motifnya memang edukasi, rincian cerita seakan diabaikan, kalah menonjol oleh wejangan. Kita tidak tahu, misalnya, Nyi Elom belajar di mana, dan bagaimana dia bisa punya aspirasi sedemikian majunya? Begitu pula bagian cerita yang mengabarkankematian Nyi Elom seakan muncul sambil lalu saja.

Cerita tentang perilaku Bung Santri sendiri sebetulnya baru ditekankan ketika narasi sudah mendekati bagian penghabisan. Fragmen yang lebih besar diisi oleh hubungan antara Nyi Elom dan Ujang Onon, lulusan sekolah yang bekerja di kantor pemerintah, juga oleh pengalaman orang tua Nyi Elom dalam kaitannya dengan Haji Sa’id sang rentenir poligamis.  

Betapapun, sebagai bahan bacaan dari masa silam, buku ini tetap layak disimak buat merekonstruksi perubahan masyarakat, tak terkecuali menyangkut bahasanya.

Sekadar contoh, dalam urusan bahasa, dapat kita catat beberapa kata yang hari ini sudah jarang dipakai dan punya hubungan yang dekat dengan istilah pamajikan (=istri). Ada istilah majik dan dipajikan.

Kita petik dua contoh:

Manehna tatjan boga pamadjikan, noe ngoeroes daharna batur sagawe bae, malah madjikna oge nja di dinja (Dia belum punya istri, orang yang menyediakan makannya pun rekan kerjanya, bahkan dia tinggal di situ).”

Palebah Tegallega, waktoe Onon keur pelesir sore djeung batoerna noe dipadjikan tea, prok papanggih djeung Asmawi, salakina bibi Elom. (Di Tegallega, sewaktu Onon sedang berjalan-jalan sore bersama teman serumahnya, ia bertemu dengan Asmawi, suami bibi Elom).”

Dengan kata lain, biarpun halamannya tipis, buku ini menyediakan bahan tilikan yang kiranya cukup tebal.***

Bagikan: