Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 25.6 ° C

Palembang 4 Tahun Lalu

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

NYARIS saja tulisan yang anda baca ini berkutat seputar tema aktual euforia kemenangan Persib kemarin sore atas Bhayangkara FC di Stadion PTIK Jakarta. Kemenangan yang layak dibahas dari berbagai sisi.

Misalnya saja bukti bahwa Persib memang tak terbendung jika bermain dengan skuat asing lengkap. Sehingga jika ingin hendak menghambat laju Persib maka salah satu solusinya memang dengan membuat tidak bermain seluruh atau sebagian pemain asing yang dimiliki Persib. 

Namun niat untuk menulis seputar pertandingan tersebut saya urungkan setelah saya menyadari ada momentum yang sangat menarik untuk diingat. Hari ini tanggal 4 November, tepat empat tahun lalu, publik sepak bola Bandung pun diliputi euforia karena Persib dipastikan lolos final Liga Indonesia 2014 usai menjinakkan Arema di semifinal. Berbagai kisah meliputi laga krusial tersebut.

#Lawankemustahilan



Menjelang partai semifinal empat tahun lalu, tagar #lawankemustahilan yang digaungkan oleh pendukung Persib di media sosial mampu menjadi tren pembahasan, khususnya di Twitter. Tagar tersebut berangkat dari kegelisahan dan kekhawatiran. Bahwa Persib akan dikerjai dan diganjal langkahnya oleh hal-hal non teknis. Asumsi tersebut menyeruak usai didapatinya nuansa settingan yang diyakini akan memuluskan langkah Arema menuju final. 

Wajar saja jika bobotoh gelisah, karena setelah menanti belasan tahun kali ini peluang klub kesayangan sangatlah terbuka untuk kembali membumikan supremasi tertinggi sepak bola nasional di tanah Pasundan. Tak ayal berbagai gestur untuk menyemangati Persib pun dilakukan. Dari mulai janji akan mendukung langsung perjuangan Persib di Palembang, tulisan-tulisan bernuansa dukungan hingga ribuan kalimat pelecut semangat di dunia maya. Walau jika kita cermati sesungguhnya bobotoh justru mulai menganggap bahwa kemenangan atas Arema menjadi suatu hal yang mustahil.

Memang mustahil untuk melawan faktor non teknis di sepak bola Indonesia jika tidak menguasai lini-lini tabu tersebut. Ketika secara tak sadar bobotoh menganggap mengalahkan Arema adalah suatu hal tak mungkin alias mustahil, maka upaya berikutnya adalah gerakan untuk berjuang dan melawan kemustahilan tersebut dengan bermain maksimal dan dukungan maksimal. Hasil dari #lawankemustahilan sudah kita ketahui bersama, Persib lolos ke final untuk menantang Persipura Jayapura.



Pulang atau bertahan



Seperti telah dibahas di atas, bahwa secara psikologis tagar #lawankemustahilan memang mengartikan sebenarnya bobotoh pun merasa menang atas Arema. Kemenangan adalah hal yang tak mungkin, dan itu berarti mereka menganggap laga semifinal menghadapi Arema adalah pertandingan terakhir di musim 2014. 

Dengan asumsi seperti itu maka para bobotoh tentu tak ingin melewatkan pertandingan “terakhir” tersebut, sehingga dimulailah gerakan untuk melakukan invasi besar-besaran ke Palembang. Bobotoh ingin menjadi saksi pertarungan “terakhir” Persib, terlebih yang dihadapi adalah Arema yang notabene memang layak untuk dijadikan lawan istimewa. Mobilisasi bobotoh ke Palembang untuk laga semifinal bisa dikatakan melebihi ekspektasi. Alih-alih menunggu laga puncak beberapa hari kemudian, banyak bobotoh memilih untuk mengejar pertandingan semifinal karena memang mereka tak yakin Persib akan lolos ke final. 

Usai Persib dipastikan lolos ke final, situasi sulit dan dilema akhirnya dihadapi oleh bobotoh yang berangkat ke Palembang dengan kemampuan akomodasi memadai hanya untuk satu partai saja. Karena mereka telah menghabiskan segala yang mereka bisa di laga semifinal. Sedih memang rasanya melihat  bobotoh segmen ini justru harus pulang meninggalkan Palembang saat Persib lolos ke final dan akan bertanding  beberapa hari lagi. 

Namun bertahan dengan memperhitungkan biaya makan, menginap, dan kebutuhan sehari-hari bukanlah perkara sederhana bagi sebagian orang. Maka pulang adalah jalan terbaik. Karena salah satu karakter khas dari suporter Bandung adalah gengsinya yang tinggi, sehingga walau pas-pasan mereka pantang untuk meminta-minta dan membuat repot warga kota. Terlebih para bobotoh ini inginnya enak, mereka enggan tidur sembarangan. Rata-rata inginnya tetap tidur di hotel walau hotel kelas bawah dan harus berdesak-desakan dengan banyak bobotoh lain. Sementara mereka yang memilih bertahan di Palembang adalah mereka yang memang memiliki kemampuan finansial memadai,dengan menjual barang yang dimiliki ataupun cukup beruntung bisa menunggu transferan dari kolega yang dimiliki. 

Kondisi ideal menjadi milik mereka yang pulang ke kota masing-masing untuk beraktivitas seperti biasa. Lalu kembali lagi ke Palembang tiga hari kemudian untuk menyaksikan laga final liga Indonesia 2014 antara Persib Bandung vs Persipura Jayapura, mereka mendapatkan dua pesta. Pesta juara dan pesta kemenangan melawan kemustahilan.***

Bagikan: