Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 22.8 ° C

Sibuk Cicing

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

JANG Osa terbang ke Itali buat belajar tinggal di negeri asing setahun lamanya. Nyi Teti baru saja pulang dari Arab Saudi setelah lebih dari sebulan menunaikan ibadah haji. Bu Neta kembali ke Bandung dari Padang, menyampaikan bingkisan buku buat saya dari Kang Miki yang singgah di Sumatra dalam perjalanan pulang dari Belanda ke Jepang. Orang-orang yang saya kenal bepergian melintasi banyak tapal batas dalam jagat yang amat luas.

Saya tidak ke mana-mana. Dalam lima pekan terakhir, saya hanya beredar di lingkungan sekitar, mengayuh sepeda ke Cibiru, Lembang, dan Astanaanyar, menggenjot motor tua buat mengantar anak ke sekolah dasar. Selebihnya, saya tinggal di rumah, menyatu dengan atmosfer kamar tidur, dapur, ruang tengah, ruang tamu, dan tepas.

Suatu sore, di kala senggang, saya membaca novel klasik dari Henry James, The Portrait of a Lady. Ada pria Amerika yang bermukim di Inggris. Ada wanita Inggris yang tinggal buat sementara waktu di Amerika. Ada Isabel yang, dalam dialognya dengan Bu Touchett, berkata, “Saya suka tempat-tempat di mana banyak hal pernah terjadi—sekalipun hal-hal itu menyedihkan (I like places in which things have happened—even if they’re sad things)”.

Apakah anda memilih bepergian atau lebih suka tinggal, tempat yang anda pilih memang sebaiknya punya jiwa. Atap, dinding, dan lantai, juga lingkungan sekitarnya, menyediakan ruang bagi sekian banyak gelak tawa dan isak tangis, memungkinkan terbentuknya atmosfer pengalaman manusia yang berada di situ. Kita toh suka sedih ketika harus menjual rumah yang sudah begitu lama kita tempati. Adapun rumah yang baru saja ditinggalkan penghuninya sering terasa geueuman —istilah Sunda yang sukar diterjemahkan—, seakan masih ada jiwa yang memilih bertahan.

Dari tempat-tempat yang berjiwa, orang yang bepergian mendapatkan pengalaman baru, terdorong memperbaharui diri, dan seringkali memancarkan pengaruhnya pada lingkungan asal. Di tempat-tempat yang berjiwa, orang yang memilih tinggal merasa betah, seakan-akan lemari baju, juga meja dan kursi di ruang tamu, sudah jadi bagian dari tubuhnya sendiri.

Memang, ada juga orang yang bepergian tapi tidak melihat apapun, juga orang yang tinggal di satu tempat tapi tidak kerasan. Selain ada tempat yang punya jiwa, ada pula pengunjung atau penghuni yang punya minat.

Kalau tidak ke mana-mana, saya sendiri cenderung suka membaca. Membaca buku, buat saya kira, berarti “sibuk cicing”. Ungkapan Sunda yang agak paradoksal ini pertama kali saya dengar dari sahabat saya, Mang Jamal dari Cihideung. “Sibuk” memang tidak harus berarti keluyuran atau hilir mudik. “Cicing” (diam) memang belum tentu berarti tidak berbuat apa-apa. Membaca, sebagaimana berpikir, menulis, atau bermain gawai, adalah kesibukan yang dapat dilakukan sambil duduk, berbaring, atau selonjoran. Membaca buku bisa juga dikatakan sebagai diam tapi juga bepergian, tidak ke mana-mana tapi sebenarnya bertamasya.

Kalau boleh saya mengutip The Practice of Everyday Life karya Michel de Certeau, membaca tergolong kegiatan “produksi senyap” (silent production). Dia bilang, “Nyatanya, kegiatan membaca mempunyai ... semua karakteristik produksi senyap: gerak perlahan di halaman, metamorfosis teks akibat gerak mata pembaca, improvisasi dan ekspektasi makna yang terserap dari beberapa kata, lompatan di ruang tertulis dalam tarian sesaat (In reality, the activity of reading has … all the characteristics of a silent production: the drift across the page, the metamorphosis of the text effected by the wandering eyes of the reader, the improvisation and expectation of meanings inferred from a few words, leaps over written spaces in an ephemeral dance)”.

Jang Osa, Nyi Teti, Bu Neta, Kang Miki, dan saya, juga anda, adalah bagian dari orang banyak yang pada dasarnya tidak pasif. Keluyuran atau tinggal di tempat, kita semua berupaya, dengan cara masing-masing, menjadikan jagat sehari-hari jadi bermakna.***

Bagikan: