Pikiran Rakyat
USD Jual 14.619,00 Beli 14.521,00 | Badai petir, 21.1 ° C

Pesepak Bola Negeri Sipil

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

DALAM sepekan terakhir, setidaknya ada tiga berita besar nasional yang memiliki korelasi dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pertama, tentang komitmen pemerintah terhadap atlet-atlet peraih medali di ajang Asian Games 2018 yang akan diangkat sebagai PNS.

Kedua, berita tentang lebih dari 2.000 PNS yang telah dijatuhi vonis berkekuatan hukum tetap (inkracht) karena tindak pidana korupsi, namun belum diberhentikan sebagai PNS. Ketiga, rilis resmi  bahwa pemerintah akan membuka kembali rekrutmen PNS secara besar-besaran bulan September 2018.

Paradigma



Bagi banyak orang, menjadi PNS adalah suatu pencapaian. Tidak jarang kita mendengar cerita perjuangan orang untuk menjadi PNS. Mulai dengan cara-cara legal hingga kotor seperti menyogok, nepotisme, dan sebagainya. Kadang saya pun heran ketika mendengar teman yang sudah memiliki posisi baik di perbankan, perusahaan swasta bonafide dengan gaji besar.

Ternyata mau berubah haluan dengan menjadi PNS, yang jika dilihat dari pendapatan sah dan resmi, jauh lebih kecil dari tempat lama. 

Berbagai alasan dan motif mendorong orang untuk menjadi PNS. Dari mulai kepastian hingga pensiun, aman dari PHK, persepsi sosial di masyarakat, hingga keinginan untuk mengabdi bagi negara. Terdapat juga alasan klise lainnya yang sebenarnya tak seluruhnya relevan jika kita mengacu kepada peraturan perundang-undangan terbaru yang mengatur tentang ASN (Aparatur Sipil Negara). 

Dalam konteks kekinian, sejatinya PNS memang disebut ASN. Namun masih banyak yang lebih suka menggunakan sebutan PNS karena dianggap lebih prestise dan khas jika dibanding ASN. Merujuk regulasi terbaru, asumsi-asumsi terkait status PNS tidak lagi tepat. Misalnya aman dari pemecatan, PNS bisa santai dan berleha-leha dalam bekerja, ataupun ketiadaan target.

Sekarang seorang PNS sangat bisa dipecat sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. PNS pun memiliki target dan komitmen yang wajib dipenuhi secara periodik. Secara keseluruhan adalah berubahnya paradigma PNS menuju ASN yang profesional dan memiliki kompetensi. Dengan tuntutan seperti itu bisakah posisi strategis ASN dijalankan oleh orang-orang yang awalnya dipersiapkan untuk menekuni profesi lain, seperti pesepak bola misalnya.

Profesional vs amatir



Ketika klub sepak bola masih dikelola oleh pemerintah daerah jamak kita temui pemain sepak bola yang juga berstatus 'PNS pemda'. Sebuah kultur amatir ketika itu membuat para pemain justru termotivasi bermain bola agar kelak diangkat menjadi PNS. Sehingga bisa dikatakan bahwa tujuan akhir karier justru bukan sepak bola itu sendiri. Selain menjadi PNS, pesepak bola di masa lalu pun berharap menjadi karyawan di bank ataupun BUMD-BUMN melalui kewibawaan ataupun pengaruh sang kepala daerah. Ketika itu kepala daerah biasanya merangkap sebagai ketua umum klub sepak bola. 

Jika kita bicara Persib Bandung, maka mantan-mantan pemain akan mudah kita temui di Dinas Pelayanan Pajak (dulu dikenal Dispenda) Pemkot Bandung. Sebut saja Yaris Riyadi, Sujana, Zaenal Arif, Cecep Supriatna, Roy Darwis, hingga Yadi Mulyadi. 

Ketika ketua umum Persib adalah ex.officio wali kota Bandung tentunya proses pengangkatan bukanlah hal yang sulit. Terlebih jika sang kepala dinas pun turut menjadi pengurus Persib, maka izin, cuti ataupun segala hal terkait kehadiran bisa menjadi sangat fleksibel. Tentu saja karena sang pemain memiliki bos yang sama baik di klub maupun di kantor. 

Selain Persib, rangkap status pemain bola dan PNS pun marak di daerah lain, yang eksistensinya terbilang hangat. Sebut saja Persipura Jayapura, karena kita bisa menyebut dua nama yang masih aktif bermain. Yaitu Boaz Salosa dan Ricardo Salampesy yang berkerja di Dinas Olah Raga Pemda setempat. Selain dua nama itu tentu masih banyak nama PNS lain yang lebih dikenal saat mereka berbaju Persipura Jayapura. 

Kenyataan ini rupanya bisa mematahkan argumen bahwa pemain sepak bola berharap jadi PNS, karena dahulu di era perserikatan uang sebagai pemain tidaklah seberapa. Tidak ada kepastian masa depan saat usia atlet terlewati. Rupanya Boaz dan Ricardo yang aktif di era profesional dengan gaji tinggi dan kepastian kontrak pun masih mengingankan dan bisa bertatus PNS. 

Perspektif ideal tentang profesionalisme hari ini tentu menginginkan para pesepak bola profesional benar-benar total dan loyal pada profesinya. Mengingat tanggung jawab dan penghargaan yang semakin baik di industri sepak bola. Soalnya di masa lalu, loyal dan total di sepak bola tak menjamin hidup menjadi sejahtera di masa tua. 

Mantan Rektor Unpad sekaligus mantan pemain Persib dan mantan pengurus Persib, Prof. Himendra Wargahadibrata pernah mengatakan kepada saya. Bahwa konsep memberdayakan para pemain di instansi-instansi negara di masa lalu adalah karena begitu banyak mantan pemain sepak bola yang berjaya dan berkecukupan ketika masih aktif bermain namun hidup susah setelah tak lagi bermain bola. Ketika sepak bola negeri ini masih bergulir di fase amatir tentu berbagai kebijakan seperti dijelaskan di atas takkan mendapatkan resistensi dan kritik. 

Namun hari ini, ketika paradigma profesional terus didengungkan, sorotan dan daya kritis masyarakat yang semakin cerdas, politik anggaran dan pemberdayaan aparatur negara berbasis kompetensi terus digalakkan. Tentunya manuver pesepak bola profesional merangkap PNS bukan lagi hal yang dianggap baik, karena ketika seorang pesepak bola merangkap sebagai PNS. Maka sulit untuk menyebut dia sebagai seorang pesepak bola profesional. 

Begitu pun sebaliknya, sulit untuk menyebut seseorang sebagai ASN profesional ketika dirinya masih berstatus sebagai pemain sepak bola yang bermain di klub profesional. Namun jangan lupakan, bahwa kita bicara tentang orang Indonesia dengan segala kultur dan persepsi masyarakatnya. Maka jangan heran jika esok nanti masih akan kita temui, seorang pesepak bola dengan kontrak milliaran rupiah beserta segala hak ekslusif dan fasilitas yang melekat, masih ingin “nyambi” sebagai PNS dengan gaji jutaan rupiah saja. 

Kok mau yah? Bisa jadi si pemain akan kesulitan menjawab secara rasional dan logis, mungkin dia hanya menjawab “yang penting jadi PNS”.*** 

Bagikan: