Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 20.9 ° C

Hoax, Hoaks, Hoak

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

DALAM bahasa Inggris, hoax (jamaknya hoaxes) diartikan sebagai isapan jempol yang mengibuli orang. Ada yang melucu, ada pula yang menyerang. Persisnya, istilah itu suka diartikan sebagai “a humorous or malicious deception”. 

Istilah itu bisa jadi nomina, bisa juga jadi verba. Ia mengacu baik kepada barangnya (dusta) maupun kepada perbuatannya (berdusta). Itulah sampah bahasa yang pembuatan dan penyebarannya tergolong ke dalam perbuatan tercela. 

Akhir-akhir ini, bahasa Indonesia menyerap istilah tersebut, dan mengadaptasikannya jadi hoaks. Para penyusun kamus menerangkan istilah ini sebagai kata sifat (adjektiva) yang berarti “tidak benar, bohong (tentang berita, pesan, dan sebagainya)” dan kata benda (nomina) yang berarti “berita bohong”.  

Buat penutur bahasa Sunda seperti saya, bunyi istilah tersebut tidak asing sama sekali. Dalam bahasa ibu saya, ada juga istilah hoak atau hohoak. Kamus Danadibrata mengartikan hohoak sebagai “gegeroan bari nangtang gelut” (berteriak-teriak sambil menantang berkelahi). 

Bunyi hoak dan hohoak memang dekat betul dengan bunyi haok dan hahaok. Istilah haok atau hahaok berarti “membentak-bentak”. Ada ungkapan, misalnya, sahaok kadua gaplok, sebentuk onomatope alias tiruan bunyi untuk perbuatan orang yang mudah marah atau gampang meledak.  

Tak jarang hohoak dan hahaok bertukar tempat. Lagi pula, kedua-duanya memang melibatkan nada tinggi. Dalam novel Déng karya Godi Suwarna, misalnya, ada deskripsi begini:

Rék jadi nanahaon sia téh, Yuli? Indit magrib! Balik beurang! Digawé di léstoran mah piraku ngampleng! Si Enur, tah, di léstoran Néng Umi, tara bet ampleng-amplengan! Padahal kurang kumaha riweuhna!” kadéngé sora Mang Juki keur hohoak di imahna.

Novel Kang Godi mengambil latar Indonesia pasca-Soeharto. Perubahan orde sedang berlangsung, kegentingan merambat ke mana-mana, tak terkecuali ke astana. Cukup banyak suara di dalamnya, selaras dengan salah satu kata kuncinya: harénghéng --- sepatah kata yang mengacu kepada suatu atmosfer umum yang sarat dengan tanda bahaya. 



Folklore Digital



Tahun 1990-an, terutama paruh kedua, juga merupakan masa kita melangkah ke dalam peradaban digital. Sarana komunikasi berkomputer memasyarakat, internet menciutkan jagat. Arus informasi kian menggelontor, aksesnya kian leluasa. Orang berharap, dunia bakal kian menyenangkan, politik akan semakin bijak. 

Namun, kita segera sadar bahwa harapan demikian naif adanya. Berbarengan dengan terbukanya gerbang peradaban digital, membuallah limbah informasi yang tidak kita perlukan. 

Anda tentu masih ingat pada tahun-tahun itu betapa banyak e-mail yang pada dasarnya hendak memperdaya banyak orang. Isinya macam-macam, mulai dari cerita tentang ancaman virus komputer hingga kisah kemalangan yang ujung-ujungnya rekening bank. Itulah e-mail hoaxes.

Sekarang popularitas beragam media sosial juga membawa hoaksnya sendiri. Orang menyusun berita palsu (fake news), mengkopi dan menyebarluaskan kabar kabur atau informasi sumir, dan seterusnya. Si Akal Bulus getol menyusun dan menebar disinformasi. Si Lugu menyerap, mengkopi, dan turut menyebarkan misinformasi. 

Ruang publik di tahun politik jadi ruang yang bising tidak karuan. Bahasa buruk bermunculan, sarkasme bertubi-tubi. Hanya karena berbeda pilihan, media pertemanan malah dipakai buat mengobarkan percekcokan. Sentimen melonjak, argumen merosot.  

Sebagai pengguna media sosial, saya tadinya menyangka beragam isapan jempol itu berasal dari dari orang-orang yang kurang kerjaan. Lambat-laun saya curiga, produksi dan sirkulasi berita bohong rupanya sudah jadi pekerjaan itu sendiri bagi segolongan orang. Jangan-jangan, sudah ada semacam industri kebohongan.

Dalam hati saya bertanya-tanya, apakah berbagai cerita yang dibikin-bikin dan tersebar luas melalui beragam media sosial itu, tak terkecuali yang fantastis lengkap dengan teori konspirasi, sudah jadi semacam folklore pada zaman digital kini? Saya tidak tahu. 



Tangkal Hoaks



Beberapa hari lalu, saya ikut dalam sebuah forum yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri RI di Gedung Merdeka, Bandung, sehubungan dengan peringatan ulang tahun ASEAN yang ke-51. Ratusan pelajar dan mahasiswa memenuhi salah satu ruangan Museum Konferensi Asia-Afrika. Di depan hadirin, pada sehelai kain bentang, ada sebuah frase yang menarik minat saya: “tangkal hoax”. 

Dalam bahasa Sunda, tangkal berarti “pohon”. Jadi terbayang sebatang pohon yang telah berurat berakar, beranting dan bercecabang. Namun, segera saya meyadari bahwa tulisan itu dibuat dalam bahasa Indonesia. Si empunya forum mengajak hadirin untuk bertukar pikiran tentang apa yang dapat diperbuat untuk menangkal atau menepis hoaks. 

Waktu saya ikut mendampingi Dirjen Kerja sama ASEAN Jose Tavares dalam jumpa pers menjelang “Seminar dan Pelatihan Tangkal Hoax”, saya hanya menambahkan bahwa edukasi dalam literasi media memang diperlukan buat menghadapi gejala menggilanya hoaks hari ini. 

Pohon hoaks barangkali akan terus tumbuh. Namun, para pengguna media yang bijak kiranya tidak akan kehilangan kesanggupan buat menanam berbagai pohon kebaikan.***   

Bagikan: