Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 22.7 ° C

Politik Jersey

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

DARI Graha Persib di Sulanjana, saya mendapatkan jersey Maung Bandung. Ada dua pilihan, “otentik” dan “replika”. Yang disebutkan lebih dulu, tentu, lebih bagus dan lebih mahal ketimbang yang disebutkan belakangan. Kami beli dua, satu buat saya, satu lagi buat Gilang. Alhamdulillah, honorarium kolumnis cukuplah buat dipakai berlagak “otentik” sebagai bobotoh.

Buat saya, entah buat anak saya, satu-satunya hal yang kurang elok dari jersey ini ialah ramainya logo sponsor Persib yang ikut nimbrung dalam penampilan. Tubuh kami, sebagaimana tubuh para patriot bola di lapangan, tak ubahnya dengan papan reklame. Apa daya, olahraga adalah olah pasar juga.

Selebihnya, right or wrong my jersey. Dengan ini, kami merasa ikut menyatakan diri sebagai bagian dari kegembiraan kolektif dalam sokong-menyokong terhadap sebuah klub bola. Mudah-mudahan saja, busana ini tidak akan jadi alasan saya ditimpuki oleh orang gila pendukung kesebelasan lain.

Hal yang tak kurang pentingnya adalah pesatnya teknologi pakaian. Saya adalah warga kota yang biasa mengandalkan sepeda sebagai salah satu alat transportasi sehari-hari. Bahan pakaian yang tergolong dri-fit sangat nyaman buat dipakai keluyuran. Cepat kering, tidak lengket di badan. Menanjak sambil mengayuh, tidak usah jadi ripuh.

Pernyataan Pakaian



Para akademisi yang menyumbangkan tilikan dalam Outward Appearance: Dressing State & Society in Indonesia (1997) suntingan antropolog Henk Schulte Nordholt, turut meyakinkan diri saya akan pentingnya peran dan makna pakaian dalam tindakan sosial.

Sayang, memang, mereka kayaknya tidak bisa membedakan mana sarung mana samping. Yang jelas, studi mereka menunjukkan betapa pakaian turut mendefiniskan identitas kelompok, menyatakan sikap tersendiri terhadap suatu kondisi, bahkan turut menegaskan kuasa dan otoritas.

Apa yang disebut “masyarakat” (society) oleh para sosiolog, hingga batas tertentu, memang tak ubahnya dengan keramaian pameran busana, entah busana mahal entah busana murah, entah pakaian baru entah pakaian bekas. Pokoknya, tiap individu bisa menyatakan bahwa aku adalah apa yang kukenakan.

Jangan harap anda bisa meminta Kiai Tantowi Musaddad naik mimbar dengan memakai jubah dan sorban meski pangersa pernah belajar di Timur Tengah. Pangersa senantiasa tampil dengan tutup kepala berupa bendo, yang biasanya dipadukan dengan kemeja batik.   

Pernah saya mendengar, dalam sebuah forum di Bandung, Kiai Tantowi mengatakan bahwa bendo dan batik adalah bagian dari upaya pangersa merealisasikan sikap keberagamaan yang berpijak pada budaya setempat.

Baju Adat dan Jaket Bomber



Pada zaman Jokowi hari ini, busana Nusantara mendapat tambahan peluang buat ditampilkan di atas pentas nasional. Pada 17 Agustus, dalam upacara kenegaraan, presiden dan para petinggi negara tampil dengan mengenakan busana adat yang penuh warna, berbagai rupa, seperti sedang merayakan kenduri pernikahan.

Dalam upacara Hari Kemerdekaan RI tahun ini presiden dan ibu negara memilih busana Aceh, seperti sedang mengundang asosiasi ke Serambi Mekah. Dengan busana demikian, ia muncul ke tempat upacara seraya menuntun cucu, dan ibu negara sempat mengajaknya selfie dulu. Negara pada hari yang penting itu seperti menghadirkan pemerintahan etnografis.

Sehari-hari Jokowi memerintah tanpa safari. Ia mengenakan kemeja yang dibiarkan terbebas dari ikat pinggang, seakan memberikan citra santai pada lembaga kepresidenan. Pada saat yang sama, lengan kemejanya digulung, seperti penegasan tersendiri bagi jargonnya yang berbunyi, “kerja, kerja, kerja”.  

Efek Jokowi dalam urusan pakaian terasa hebat juga. Setidaknya, saya sendiri ikut merasakannya baik di Taman Cilaki maupun di Pasar Gedebage. Dalam pandangan saya yang rabun, Jokowi adalah panglima ceking yang mengenakan jaket bomber di atas kapal perang. Saya perlu menabung dulu buat mendapatkan jaket sejenis, produk Alpha Industries, meski barang loakan dan agak kegedean.

Betapapun, buat saya, adegan yang tak mungkin terlupakan dalam urusan busana presiden berasal dari zaman Gus Dur. Pada hari-hari terakhir kekuasaannya, Presiden Abdurrahman Wahid terlihat di depan istana dengan mengenakan celana pendek.

Apapun busananya, kita memang tidak perlu mengenakan tubuh orang lain. Dengan jersey, busana adat, atau terserah pakaian macam apa, kita tetap perlu tampil sebagai diri sendiri.***

Bagikan: