Pikiran Rakyat
USD Jual 14.449,00 Beli 14.351,00 | Umumnya berawan, 26.6 ° C

Asian Games 2018 sebagai Ajang Konsolidasi Bangsa

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

UPACARA pembukaan Asian Games tadi malam sungguh meriah. Kesuksesan acara pembuka ajang internasional memang suatu keniscayaan. Itu karena hampir seluruh energi (termasuk uang, infrastruktur dan SDM) akan tercurah ke sana. Terlebih upacara pembukaan pun biasa dijadikan parameter kesiapan panitia untuk menggelar suatu even besar.

Dalam konteks sinisme, upacara pembukaan adalah bagian terpenting dari jargon sukses penyelenggaraan. Dan sukses sebagai penyelenggara biasa digaungkan sebagai pembelaan dan pelipur lara ketika sang negara penyelenggara justru anjlok dari sisi prestasi.

Milik Siapa?



Beberapa waktu lalu saya menjadi narasumber dalam acara yang digagas oleh Badan Olah-Raga Profesional (BOPI). Dalam kesempatan itu pula terungkap bahwa tingkat ketahuan masyarakat tentang ajang Asian Games 2018 di Indonesia sangatlah minim, tak sampai 30%. Padahal di sisi lain kita lihat sosialisasi gencar dilakukan seperti iklan diberbagai media, umbul-umbul, bendera raksasa hingga kegiatan-kegiatan praeven.

Tak cukup di situ, pengerahan sumber daya negara pun dilakukan, nuansa Asian Games dikondisikan diseluruh kantor instansi pemerintah. Asian Games bak hegemoni yang harus dianggap penting oleh seluruh Aparatur Negara. Suatu langkah sosialisasi yang menguras energi walau belum tentu tepat sasaran, karena justru masyarakat di daerah lah yang lebih perlu mengetahui bahwa di negaranya telah diadakan even olah raga terbesar di asia.

Retorika dan teori tentang dampak positif penyelenggaraan suatu even besar disuatu negara seakan mencadi candu dan pembenaran. Selain peluang meningkatnya harga diri bangsa, dampak ekonomi pun biasa dijadikan harapan (dan alasan). Kisah manis bicara tentang devisa, perputaran uang yang akan terjadi, tingkat hunian meningkat, kebutuhan kuliner, penjualan merchandise dan lain sebagainya. Namun jika kita mau jujur, sesungguhnya yang paling merasakan dampak ini hanyalah segelintir pihak saja, dan itu pun adalah mereka yang memiliki akses ke lingkaran kekuasaan dan penyelenggara Asian Games.

Mari kita simak perputaran dana yang paling nyata, itu ada disektor pembangunan infrastruktur. Lainnya mungkin di bisnis media, pengadaan barang jasa, para vendor dan rekanan panitia, hingga bisnis merchandise yang kini semakin serius digarap terkait hak ekslusifnya. Hal baik yang di lain pihak justru menggerus peluang masyarakat umum untuk menikmati keuntungan di segmen ini. Itu karena logika hak kekayaan intelektual justru tumbuh di kultur individualistis yang sebenarnya agak kurang menyenangkan bagi masyarakat yang katanya komunal seperti Indonesia. Atau mungkin masyarakat kita sudah dianggap semakin individualis? Entahlah.

Namun yang pasti segmen-segmen yang akan menerima dampak paling nyata memang bukanlah segmen masyarakat yang seringkali kita sebut sebagai rakyat, utamanya rakyat kecil, rakyat di daerah, ataupun mereka yang termarginalkan dan masih belum sejahtera serta mendapat perlakuan maksimal dari negara. Sehingga tanpa mengurangi komitmen kita untuk menyukseskan Asian Games 2018 namun hegemoni dan euforia dengan embel-embel bahwa Asian Games ini hajatan rakyat Indonesia tentunya bisa dikatakan berlebihan.

Terlebih jika kita melihat kenyataan kondisi makro negara yang tidak ideal, terkait perekonomian, nilai tukar rupiah dan berbagai isu dalam negeri. Maka sebenarnya akan banyak pihak berharap bahwa energi yang begitu besar ini difokuskan untuk memperbaiki kondisi internal bangsa ini ketimbang melayani dengan sangat baik lebih dari 17.000 atlet dan ofisial asing dari 45 negara peserta yang datang ke Indonesia.

Bahkan di negara lain pun akan selalu ada suara kritis di setiap penyelenggaraan ajang olahraga internasional yang besar, mungkin kita masih ingat insiden invasi lapang yang dilakukan oleh para aktivis saat final Piala Dunia di Rusia beberapa waktu lalu. Empat tahun sebelumnya di Brasil, gelombang demo menolak penyelenggaraan Piala Dunia di negeri Samba pun terjadi, dan ketika timnas Brasil tersingkir lebih awal dan gagal menjadi juara dunia, banyak yang mengatakan bahwa kegagalan timnas Brasil justru adalah kemenangan sejati rakyat Brasil. Karena jika Brasil juara maka segala persoalan internal dalam negeri, seperti kemiskinan, pemukiman, pendidikan dan hal minor lain akan tertutup oleh euforia juara dan klaim keberhasilan negara.

Kecenderungan untuk “mengorbankan” warga sendiri untuk kepentingan warga asing memang jamak terjadi setiap kali even besar berlangsung. Contoh paling simpel adalah terganggunya Liga Indonesia karena beberapa lapang tak bisa digunakan demi kepentingan Asian Games. Lalu pengorbanan warga yang terkena imbas peraturan nomor ganjil-genap yang diperluas dan diperpanjang durasinya di Jakarta. Puluhan sekolah yang terletak di sekitar venue pertandingan yang dipaksa diliburkan karena khawatir menyebabkan macet dan menghambat agenda pertandingan (mari kita baca: pendidikan warga negara tidak lebih penting dari pertandingan olah raga).

Dalam konteks keamanan, aparat menjadi lebih agresif dan terkesan lebih berani melewati aturan main penegakkan hukum demi terciptanya kondisi stabil selama Asian Games. Pengondisian oleh aparat ini tak hanya dilakukan di Jakarta dan Palembang. Namun juga daerah penopang seperti Bogor misalnya yang terus dilakukan operasi cipta kondisi selama suasana Asian Games. Perlu diingat bahwa pengondisian tak hanya ditujukan kepada pelaku kriminal saja. Namun mereka yang dianggap mengganggu ketertiban seperti pengemis, pengamen, gelandangan dan anak jalanan yang notabene tetap rakyat Indonesia walau dalam kondisi apapun.

Jika dipaksa untuk menyebutkan satu hal positif secara makro terkait dampak Asian Games 2018 untuk negara ini, daripada bicara dampak ekonomi, prestasi, harga diri bangsa dan hal semu lainnya, saya lebih suka mengatakan bahwa ajang Asian Games 2018 ini tepat jika dijadikan ajang konsolidasi bangsa menjelang tahun politik 2019. Soalnya saya melihat bangsa ini masih sangat cinta dengan negeri ini dan tak keberatan bergandengan serta menjabat erat “rival” demi berjayanya Indonesia. Semua akan tetap bernyanyi lantang ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan, penuh haru dan kebanggaan. Apa kita melihat dua kubu pendukung calon presiden saat menyaksikan pertandingan timnas sepak bola Indonesia tengah bertanding? Tidak!... kita hanya melihat satu saja: Orang Indonesia.   

Bagikan: