Pikiran Rakyat
USD Jual 14.619,00 Beli 14.521,00 | Badai petir, 21.1 ° C

Telur Ayam

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

BEBERAPA jam setelah istri saya pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji, saya duduk melamun di dapur rumah kami. Hampir dinihari, dan anak-anak sudah terlelap. Saya merasa seakan-akan sedang berada di sebuah pusat kekuasaan yang baru saja ditinggalkan oleh penguasanya.

Tentu, sebagaimana ruangan-ruangan lain di rumah kami, dapur itu tidak asing buat saya, bahkan dapat dikatakan sudah jadi salah satu perluasan dari tubuh saya sendiri. Sering saya menulis kolom di dapur, sambil menemani sang patih goah. Namun, baru kali itu, berbagai rincian dapur terasa lebih kuat membetot perhatian saya.

Tabung elpiji 12 kg, kompor gas, barisan piring, kelompok sendok, wajan, botol minyak goreng, dan banyak lagi, seperti merongrong mata saya. Seekor cicak yang terperosok ke dalam wadah sampah meloncat panik dan menjauh. Di antara begitu banyak rincian, ada satu yang malam itu jadi pusat perhatian saya: telur-telur ayam dalam rak plastik.

Memang sempat terlintas pertanyaan sederhana: apa yang dapat diperbuat dengan telur-telur ayam di luar variasi dadar, ceplok, dan rebus? Namun, soal itu segera saya halau. Anak sulung kami, meski lagi sibuk menyusun skripsi, sudah menerima mandat untuk bertindak layaknya acting president selama 40-an hari ke depan.

Bukan, bukan itu. Entah karena berita dan editorial koran belakangan ini, entah karena faktor lain, saya merasa ada yang patut direnungi pada telur, juga daging, ayam hari ini. Kalau dipikir-pikir, hidup kami, dari hari ke hari, amat bergantung pada bangsa unggas. Kami adalah bagian dari masyarakat ayam.            

Ada telur, ada kemajuan



Di dapur kami, telur ayam adalah indikator kemakmuran. Jika telur ayam tersedia, apalagi jika dilengkapi telur bebek, ekonomi sedang baik. Sebaliknya, jika telur ayam tinggal satu-dua butir, apalagi jika nihil sama sekali, ekonomi sedang buruk.

Saya tidak tahu, mana yang lebih dulu, telur ataukah ayam? Yang penting bagi saya, ketersediaan telur dan daging ayam mencerminkan kemajuan hidup sehari-hari. Boleh dibilang bahwa kini kami tiap hari makan ayam. 

Di masa anak-anak saya dulu, di kampung, telur dan daging ayam terbilang makanan istimewa. Saking istimewanya, Ibu terampil sekali memutar wajan supaya telur dadar bisa lebar dan dapat dikerat buat sekian anak.

Boleh dibilang hanya ada dua peluang untuk menyantap ayam, yakni jika saya sakit atau jika ayam sakit. Kalaupun ada peluang ketiga, paling-paling waktu selamatan. Di hari penuh doa, Ibu menghidangkan tumpeng, gunung nasi kuning dengan telur ayam di puncaknya.

Memang, waktu itu ayam sudah jadi bagian hidup sehari-hari. Betina maupun jantan, induk maupun anak, berkeliaran di pekarangan. Mereka seperti teman sepermainan. Namun, menyantap telur dan daging ayam tidak sampai saban hari. Dalam sebulan bisa dihitung dengan jari.

Jika saya, juga istri saya, termasuk ke dalam generasi kurang ayam, lain halnya dengan anak-anak kami. Boleh dibilang, begitu mereka lahir ke dunia, anak-anak kami menjadi pewaris kebudayaan ayam goreng dunia.

Mereka memang tidak bergaul dengan bangsa ayam, bahkan anak sulung kami sebetulnya suka bergidik jika sesekali ketemu ayam di sekitar rumah kakeknya. Namun, telur dan daging ayam sudah melekat pada menu mereka sehari-hari, tak terkecuali yang berupa junk food. Berbeda dengan ayah dan ibunya, mereka adalah bagian dari generasi sarat ayam.

Telur naik, uang turun



Kata Mang Dado, sahabat saya di Bandung, orang Indonesia sebetulnya sudah bisa survive dengan mengandalkan telur ayam dan mie instant. Kebutuhan mereka akan protein dan kerbohidrat, katanya pula, sudah terpenuhi dengan itu. Dengan telur dan mie, mereka bisa punya tenaga buat melanjutkan hidup sehari-hari.

Saya kira ada benarnya. Kebutuhan ---dan bukan keinginan--- penduduk Republik Indofood memang sederhana. Di dapur kami sendiri, bahan makanan segar yang tersedia tak pernah jauh-jauh amat beringsut dari seputar telur dan daging ayam.

Soalnya menjadi tidak sederhana ketika koran mewartakan tentang naiknya harga telur dan daging ayam akhir-akhir ini. Pikiran Rakyat bahkan menulis editorial mengenai hal ini.

Kalau saya tak salah tangkap, rupanya di luar sana cuaca lagi kurang baik buat bangsa unggas. Ayam-ayam jatuh sakit. Ketersediaan telur di warung berkurang. Kesanggupan peternak buat membeli pakan impor melemah. Kesanggupan konsumen buat membeli telur melorot. Tegasnya, telur naik, uang turun, dan masyarakat telur terancam kurang protein.

Akhirnya saya beranjak dari dapur. Di tengah ancaman "telurisme", toh masih ada kabar gembira. Beberapa pekan lagi, selagi istri saya mencapai puncak musim haji nun di Saudi, kami di sini tentu bakal kebagian lagi kiriman daging sapi atau domba Idul Adha. Saya akan menyiapkan arang buat menyambut Lebaran Haji***

Bagikan: