Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 21.4 ° C

Sukamiskin, Meninjau Masa Lalu Menatap Masa Depan

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

KITA layak mengapresiasi Menteri Hukum dan HAM yang berani tampil di dua program TV populer dengan ratting tinggi yaitu ILC dan Mata Najwa. Justru di saat institusi yang dipimpinnya tengah disorot dan berada dalam persepsi negatif usai Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK menjerat anak buahnya. Yaitu Kalapas Sukamiskin Bandung.

Sebagai pimpinan tertinggi di institusi yang salah satu unit utamanya tengah dicap buruk, tentu menghadapi publik secara langsung bukanlah hal yang mudah dan menyenangkan. Apapun yang diutarakan akan dianggap sebagai pembelaan semata.

Oleh karena itu gestur “menerima” dan “legowo” serta mengajak seluruh jajaran untuk introspeksi dan berbenah secara serius tentu menunjukkan itikad baik dan jauh dari pembelaan diri. Walau kenyataannya ini semua memang bukan kesalahan langsung dari Menkumham, karena dalam pelaksanaan di lapangan akan begitu banyak celah dan manuver negatif yang dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Tentu hal tercela itu tidaklah selaras dengan instruksi dan komitmen di tingkat atas.

Tulisan ini mencoba berbagi tentang pengamatan saya ketika beberapa kali berkunjung ke Lapas Sukamiskin. Utamanya kunjungan terakhir tahun lalu ketika marak pemberitaan Napi Koruptor pelesiran hasil investigasi majalah Tempo. Ketika itu saya datang dengan tim peneliti dari unit pusat Kemenkumham, namun tentu yang akan saya bagi di tulisan ini adalah pengamatan dan pandangan pribadi.

Napi istimewa



Entah karena dalam rangka tugas, kunjungan terakhir saya ke Lapas Sukamiskin tahun lalu berjalan lancar tanpa hambatan sejak di pintu utama pemeriksaan, HP yang biasanya menjadi sasaran penggeledahan tetap bisa saya bawa, namun seingat saya dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya. Ketika saya belum menjadi bagian dari keluarga besar Kementerian Hukum dan HAM pun biasanya HP tetap lolos dari pemeriksaan dan bisa saya bawa ke dalam.

Saya mendapati kesan yang mengejutkan ketika pertama kali menginjakkan kaki dan melihat bagian dalam Sukamiskin, terpidana seumur hidup Akil Mochtar melintas tepat di hadapan. Ketua Mahkamah Konstitusi itu sedang jogging rupanya, dan petugas-petugas yang berpapasan dengannya menunjukkan gestur “terlalu hormat”. Tentu ini tak bisa dijadikan indikator apa-apa, terlebih kultur Bandung yang dikenal ramah, someah dan santun.

Tapi jika kita menyaksikan langsung adegan “Akil Mochtar Jogging” itu, maka niscaya kita memang akan menyadari bahwa narapidana di Sukamiskin ini memang masih memiliki sesuatu yang membuat mereka mendapatkan hormat dan penghargaan tak wajar bahkan dari petugas lapas.

Selama di Sukamiskin, saya berpapasan dengan orang-orang yang pernah menduduki posisi-posisi strategis di negeri ini, dari mantan gubernur, mantan menteri, petinggi partai, hingga ketua MK. Sulit rasanya untuk menjadi naif dan menganggap napi-napi ini sama saja dengan napi lainnya. Terlebih pada kenyataannya mereka memang tidak dianggap sebagai napi biasa, penempatan mereka di lapas tematik khusus koruptor sebenarnya sudah menjadi pertanda bahwa orang-orang yang ditahan adalah orang-orang khusus--jika kata istimewa terkesan sebagai sanjungan.

Menghadapi napi-napi pintar, berpendidikan tinggi, memiliki uang banyak, beberapa masih memiliki pengikut yang loyal, bahkan ada yang diduga masih memiliki akses ke titik kekuasaan bukanlah perkara mudah. Seharusnya napi-napi khusus ini ditangani juga secara khusus dan oleh orang-orang khusus. Menkumham mengatakan bahwa godaan di lapas sukamiskin sangat berat, tak mempan belasan juta, puluhan juta. Ternyata tembus juga jika digoda ratusan juta dan mobil mewah, mirisnya yang tergoda itu adalah orang yang berada di puncak pimpinan sukamiskin yaitu kapalas yang seharusnya dari sisi kesejahteraan, tunjangan dsb. unggul jika dibanding aparat lain yang menjadi anak buahnya.

Maka bisa kita bayangkan bagaimana lebih rentan jajaran di bawahnya yang bisa jadi berpenghasilan maksimal belasan juta selama satu bulan tiba-tiba digoda napi yang bisa menghadirkan puluhan juta hanya dalam hitungan jam misalnya. Tentu dugaan ini tak bisa menggeneralisasi, karena masih banyak petugas pemasyarakatan yang memegang teguh kehormatan dan integritas. Namun setidaknya pengamatan saya terhadap gestur petugas yang berpapasan dengan Akil Mochtar seperti yang saya ceritakan di awal tulisan ini sedikit banyak bisa menggambarkan bahwa memang walau statusnya napi namun bukan berarti napi-napi ini inferior, namun justru unggul dalam berbagai hal dibandingkan orang yang bertugas menjaga mereka.

Bukan ancaman, tapi tetap tidak benar



Apa yang terjadi di Sukamiskin sebenarnya bukan ancaman seperti halnya napi narkoba ataupun teroris yang masih bisa mengendalikan jaringan ataupun pengaruh berbahaya dan berpotensi menimbulkan kejahatan baru. Jika kita lihat konteksnya, apa yang terjadi di Sukamiskin adalah keistimewaan-keistimewaan yang tak sepatutnya didapat oleh orang yang sedang menjalani hukuman, seperti fasilitas, barang-barang mewah, kamar premium, alat komunikasi dsb. Saya menyimpulkan bahwa napi-napi ini terbiasa hidup serba enak dan mudah ketika masih belum menjadi penghuni sukamiskin dan berusaha mempertahankan segala kenikmatan yang mereka peroleh sebelumnya walau tentu tidak berada di level yang sama.

Berbeda dengan napi pada umumnya, dengan kecerdasan dan sumberdaya yang mereka miliki (termasuk uang), napi-napi koruptor ini memang paham dan mengerti apa saja yang harus dilakukan agar mereka tetap bisa hidup enak (setidaknya tidak terlalu susah) selama menjalani hari-hari di Lapas Sukamiskin. Selain fasilitas tentu saja kebutuhan untuk bertemu dan berkumpul bersama keluarga pun menjadi hal penting bagi napi-napi ini.

Ketika saya masih berprofesi sebagai wartawan, selentingan tentang jadwal kumpul keluarga salah seorang napi mantan kepala daerah di salah satu hotel di jalan Riau sudah sering saya dengar, begitupun tentang kamar-kamar tahanan ala kost-an yang ada di rutan dan lapas, belakangan kabar ini memang terkonfirmasi oleh pemberitaan sidak tentang kamar-kamar mewah yang dilakukan oleh pihak aparat itu sendiri, dan ternyata tak hanya di Bandung, Jakarta yang merupakan pusat pemerintahan justru menjadi tempat ditemukannya kamar-kamar tahanan mewah.

Sementara itu kasus napi pelesiran tahun lalu mengonfirmasi rumor kumpul-kumpul keluarga napi koruptor yang saya dapat ketika masih menjadi wartawan. Ketika sudah menjadi bagian keluarga Kementerian Hukum dan HAM barulah saya tahu bahwa modus yang biasa digunakan para napi untuk meninggalkan lapas adalah izin berobat, terkait mekanisme, proses dan kebijakan tentu tak perlu saya bahas disini, namun betul yang Menkumham katakan bahwa andai saja SOP dan keputusan izin keluar dilaksanakan dengan benar dan cermat maka hal-hal seperti ini (napi pelesiran, jual beli izin keluar lapas dsb) tidak akan terjadi.

Sempat juga saya telusuri apa hal yang biasa dilakukan jika seorang napi bisa keluar karena mengantongi izin, sekali lagi yang mereka lakukan bukanlah hal-hal yang berbahaya. Mereka biasa menemui keluarga, makan di tempat umum, berobat, hingga mungkin menyalurkan kebutuhan biologis. Asumsi terakhir saya dapatkan ketika mendapat info bahwa beberapa napi yang pelesir tahun lalu seringkali singgah di salah satu apartemen di Jalan Ahmad Yani Bandung yang saya tahu betul bahwa di apartemen itu banyak sekali perempuan-perempuan muda yang bisa diajak kencan dan transaksi seksual.

Motif-motif yang saya sebutkan tentu tidak memasuki kategori mengancam keamanan ataupun berpotensi menimbulkan kejahatan baru yang identik seperti yang dikhawatirkan terhadap napi teroris dan narkoba, namun tentu saja pelesiran apalagi tanpa pengawalan melekat bukanlah hal yang dibenarkan terlebih praktik ini berdampak kepada suap jual beli izin keluar lapas yang menjadi penyebab dilakukannya OTT oleh KPK.

Raja-raja di lapas



Seperti telah dibahas sebelumnya, bahwa napi penghuni  lapas sukamiskin ini adalah orang-orang yang biasa hidup nyaman dan serba enak, gaya hidup seperti itu ingin dipertahankan walau sudah menyandang status narapidana. Maka tak perlu heran jika beberapa orang masih merasa dirinya penguasa, tak ingin repot dan memegang uang banyak untuk mempermudah keinginan (temuan uang hingga ratusan juta rupiah di lapas sukamiskin bisa menjadi bukti).

Saya memiliki dua kolega yang menjadi tahanan di lapas sukamiskin, mereka adalah Dada Rosada mantan wali kota Bandung dan Edi Siswadi mantan sekretaris daerah kota Bandung. Perkenalan dengan keduanya karena ketika menjadi wartawan TV dulu saya memegang program khusus Persib. Di masa lalu, keduanya merupakan pengurus Persib, walikota Bandung sebagai ketua umum Persib dan sekda kota Bandung sebagai ketua harian Persib. Keduanya seringkali menjadi narasumber program yang saya pegang.

Berkunjung dalam rangka besuk menemui Dada Rosada menjadi pengalaman cukup unik, karena konsepnya masih seperti kita menghadap seseorang yang memiliki pengaruh. Kita akan diterima bersama pembesuk lain di ruangan yang cukup besar seperti aula, dan alih-alih kita yang memberi support dan simpati kepada orang yang menjalani hukuman, malah kita yang disuguhi dan dijamu oleh Dada Rosada. Sekadar informasi, memang Pak Dada ini termasuk banyak tamunya. Selain karena kedekatan personal dengan para tamu sebagai imbas kebaikan Pak Dada ketika masih berkuasa, namun sering juga orang-orang penting bertemu Dada di Sukamiskin. Dari mulai pejabat, anggota dewan hingga pimpinan ormas, entah apa sekarang ini masih ramai jika ingin membesuk Pak Dada.

Sementara itu menemui Edi Siswadi relatif lebih mudah, karena dirinya tidak menerapkan konsep menerima tamu secara khusus di ruangan tertentu, namun bisa langsung ditemui secara spontan. Dirinya menjadi pimpinan DKM di sukamiskin sehingga mudah dijumpai di sekitaran masjid, kesibukan lain Edi Siswadi adalah memberdayakan warga lapas dengan program-program yang menunjang konsep lapas produktif. Edi Siswadi memang cukup “menikmati” hukuman selama di Lapas, dirinya pernah berkata bahwa secara spiritual sangat bersyukur, karena hukuman ini menjadikan dirinya lebih dekat dengan Tuhan, tak ada lagi menunda-nunda shalat lima waktu hanya karena urusan rapat dan pemerintahan.

Bahkan Edi Siswadi tetap produktif menulis buku selama di lapas sukamiskin, mantan ketua harian Persib ini memang dikenal sebagai orang yang cerdas secara akademis. Beberapa buku yang ditulisnya sebelum menjadi terpidana menjadi rujukan mereka yang mendalami ilmu pemerintahan. Dalam beberapa diskusi dengan kawan, kami sering berasumsi, andai saja Edi Siswadi tak masuk penjara, maka karir cemerlangnya bisa saja berlanjut di Kementerian Dalam Negeri, terlebih gelar S3 dan produktivitasnya dalam menulis sangat memungkinkan untuk dikukuhkan sebagai guru besar (Profesor). Tapi inilah jalan Tuhan, semua yang terjadi sudah terjadi, semoga para napi bisa menahan ego mereka dengan status sebagai terpidana serta tak melakukan manuver-manuver negatif dan jajaran pemasyarakatan serta Kemenkumham bisa menjadikan kejadian OTT ini sebagai momentum untuk berbenah serius, karena masih banyak orang-orang dengan integritas tak terbeli yang layak mengemban amanah di Lapas Sukamiskin.***

Bagikan: