Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 19.9 ° C

Terowongan Curug Jompong

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

Dikabarkan dalam berbagai media bahwa di Curug Jompong itu akan dibuat terowongan, untuk menanggulangi banjir yang sudah menahun di selatan Bandung. Upaya membuat terowongan di Curug Jompong itu setelah pemapasan batuan di sana gagal dilaksanakan.

Pembuatan terowongan itu harus benar-benar dikaji sebelum dilaksanakan pembuatannya pada tahun 2018. Sudah berapa janji dengan berbagai proyek dilaksanakan, ternyata Bandung selatan masih banjir. Bagaimana janji sebelum penyodetan untuk meluruskan meander Ci Tarum, bagaimana janji tentang pengerukan dasar sungai dan pelebaran sungai di bebebrapa tempat di Ci Tarum, semuanya itu begitu saja dilupakan keberhasilan seperti yang ada sebelum proyek itu dilaksanakan. 

Kalau berbagai proyek itu dilaksanakan, dan hasilnya tidak seperti yang dijanjikan, tidak seperti yang disimulasikan, berarti ada faktor lain yang selama ini terabaikan Padahal, itu menjadi faktor utama yang menjadi penyebab banjir di Bandung selatan.

Upaya pengembalian lahan-lahan negara ke negara, misalnya, sebab hanya dengan cara itu pengelolaan lahan negara dapat dikendalikan dengan baik, sesuai dengan kepentingan negara dalam melindungi tanah airnya. Bila itu yang terjadi, tidak mungkin di lahan negara dengan tingkat kecuraman lereng yang sangat terjal dijadikan kebun bawang, kentang, dan sayuran lainnya.

Secara teori dan praktik, pastilah di lahan-lahan dengan kemiringan curam yang tanpa pohon pelindung, akan mengalirkan air meteori dengan deras sekaligus membawa lapisan tanah pucuk paling subur ke lembah-lembah, dan mengendap di dasar sungai dan danau.

Ci Tarum dengan anak-anak sungainya, keadaan lingkungannya sudah sangat mengkhawatirkan. Secara visual, secara kasat mata, sudah terlihat betapa erosi sudah sangat tinggi di kawasan itu, walau pun tidak diukur jumlah pelumpurannya.

Air sungainya berwarna tanah yang pekat, dapat dijadikan petujuk bahwa di kawasan itu telah terjadi erosi yang sangat kuat di daerah aliran sungainya (DAS).

Kerusakan ekologi



Potensi air Ci Tarum ini sebanyak 13 miliar meter kubik per tahun. Namun, karena kerusakan ekologis di DAS Ci Tarum yang sudah pada tingkatan membahayakan, lahan kritis di DAS Ci Tarum hulu sudah lebih dari 46.543 ha karena penebangan liar dan pengelolaan lahan yang keliru.

Sedikitnya 23 ha lahan di DAS hulu Ci Tarum sudah menjadi lahan kritis, yang bila hujan turun, tanah pucuk yang begitu subur akan tergerus air limpasan yang mengalir di permukaan, mengendap di dasar sungai dan danau. Keadaan ini sangat berdampak panjang bagi Ci Tarum.

Air hujan tidak ditangkap oleh pohon, lalu tidak diresapkan ke dalam tanah karena akanya sudah mati, telah menyebabkan tanah longsor dan erosi, sehingga jumlah air di sungai saat musim penghujan meluap sampai 81,4 miliar meter kubik per tahun. Tapi, ketika musim kemarau, yang tersisa hanya seper sepuluhnya, yaitu 8,1 miliar meter kubik per tahun. 

Kekurangan air bukan hanya akan menyulitkan penduduk dalam mendapatkan air untuk kebutuhan pertanian, perikanan, dan kebutuhan sehari-hari, namun dapat berdampak pada masalah sosial dan ekonomi. 

Ci Tarum strategis



Proyek pengerukan sungai untuk penanganan banjir sesungguhnya bak buah simalakama. Ketika sungai dikeruk, dasar sungainya diperdalam di suatu tempat, maka dari tempat itu kea rah hulu akan ada penyesuaian dasar sungai. Endapan di dasar sungai ke arah girang dari tempat proyek itu akan dengan cepat mengisi bagian yang sudah dikeruk dan mengerosi anak-anak sungai yang keadaannya sudah kritis.

Padahal Ci Tarum itu sungai yang sangat strategis, sangat vital. Air sungai ini dimanfaatkan untuk irigasi pertanian (87%), sumber air baku bagi DKI Jaya (6%), industri (2%), air perkotaan (0,36%), dan pemanfaatan untuk perikanan, tenaga listrik, dan pariwisata. Air yang begitu vital bagi kehidupan, dapat memenuhi kebutuhan air domestik sebesar 67% dan non domestik sebesar 33%, tapi, dikotori oleh manusia yang akan memanfaatkannya, dari hulu sampai muaranya. 

Kehancuran lingkungan itulah yang menjadi beban terberatnya. Pengerukan dasar sungai dan pelebaran sungai, penyodetan meander, dan rencana pembuatan terowongan di Curug Jompong, tidak akan menyelesaikan banjir di Bandung Selatan.

Selain kehancuran lingkungan sungai, kini fungsi ekologis anak-anak sungai sudah hilang, karena banyak anak sungai yang pinggirnya sudah dibeton. Fungsi sungai berubah hanya sebagai pipa untuk pengalirkan air.

Jangan heran, kalau di hulu dari anak-anak sungai itu hujan, maka dalam tempo setengah jam, air itu sudah sampai di Bandung selatan.

Pengerjaan terowongan di Curug Jompong akan menurunkan dasar sungai yang ada saat ini. Oleh karena itu, sangat tidak mungkin terowongan dibuat tanpa memindahkan lumpur yang ada antara Curug Jompong sampai anak-anak sungainya yang begitu tebal.

Padahal, Danau Saguling yang akan menerima limpahan endapan lumpur dari dasar Ci Tarum itu adalah objek vital penghasil listrik yang tokcer, yang langsung dapat disalurkan ke dalam jaringan Jawa Bali.

Siapkah manajemen UBP Saguling menerima limpahan endapan sebanyak itu? Bila endapan itu masuk ke Danau Saguling, dapat dipastikan volume air yang terdapat di danau akan sangat berkurang.

Apakah dengan volume itu UBP Saguling akan menghasilkan listrik seperti yang kemampuannya?

Bila endapan di Saguling akan digelontorkan ke hilir, apakah Danau Cirata siap? Kalau Danau Cirata menggelontorkan juga lumpurnya, apakah Danau Ir H Djuanda siap? Kalau Danau Ir H Djuanda menggelontorkan lumpurnya, apakah Ci Tarum hilir dan pengelola sawah di sana siap?

Melihat dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan yang sangat besar yang ditimbulkan dengan pembuatan terowongan Curug Jompong itu, sementara banjir akan tetap terjadi di Bandung selatan, maka pembuatan terowongan Curug Jompong ini perlu dipertimbangkan ulang.

Mari kita bersaksi untuk ini!***

Bagikan: