Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan singkat, 24.5 ° C

Warisan Budi Brahmantyo, Kesukarelaan Berbagi Ilmu

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

*)Tulisan ini untuk acara mengenang Dr Budi Brahmantyo, Rabu, 30 Mei 2018, di aula Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika Kota Bandung pukul 15.30-17.30 WIB.

WARISAN terbesar dari Dr Budi Brahmantyo adalah kesukarelaannya dalam berbagi ilmu Geologi. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan antara hasil penelitian ilmiah di kampus dan lembaga penelitian dengan komunitas dan masyarakat. Sampai saat ini masih terdapat jurang keilmuan yang menganga antara kampus dengan masyarakat. Hal ini disebabkan karena masih langkanya ilmuwan yang menulis secara populer di media masa. Kekosongan inilah yang dimanfaatkan oleh perseorangan atau kelompok yang terorganisir untuk membuat informasi bohong, namun sepertinya ilmiah. Saat ini banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah hanyut dalam banjir bandang informasi bohong. Inilah pentingnya ilmuwan untuk menulis populer di koran, di medsos, untuk memberikan pencerahan, memberikan jawaban secara keilmuan terhadap gejala kebumian. Koran dan majalah populer dalam dunia digital saat ini menjadi sangat strategis, karena dapat menjadi jembatan penghubung antara dunia ilmiah dengan masyarakat. Dalam situasi penuh ketidak jelasan jawaban, Budi Brahmantyo berani menulis di koran tentang Atlantis, tentang Gunung Padang, misalnya, yang pada saat itu pendapatnya melawan arus deras asumsi tentang dua topik itu di masyarakat.

Untuk mendapatkan jawaban dari berbagai pandang, Budi Brahmantyo menjadi bagian dalam penyusunan buku yang diperuntukan bagi komunitas dan masyarakat. Pada April 2004, terbit buku Amanat Gua Pawon (Budi Brahmantyo dan T Bachtiar, penyunting, Kelompok Riset Cekungan Bandung). Tahun 2006, terbit buku Geowisata Sejarah Bumi Bandung (Budi Brahmantyo, Dhian Damajani, Seruni Kusumawardhani, dan T Bachtiar, Badan Geologi). Dalam buku inilah istilah geotrek untuk pertama kali diperkenalkan, ada 10 geotrek, dan mulai diperkenalkan kepada komunitas dengan cara mengadakan perjalanan ke lokasi-lokasi geotrek. Pada Maret 2009, terbit buku Wisata Bumi Cekungan Bandung (Budi Brahmantyo dan T Bachtiar, Truedee Pustaka Sejati).

Dalam menafsir gejala kebumian itu harus dapat menjawab rasa ingin tahu peserta geotrek. Interpreter harus dapat menjawaban pertanyaan dasar yang berkaitan dengan lokasi geotrek. Bila dilaksanakan di kawasan granit, misalnya, maka interpreter harus dapat menjelaskan mengapa granit itu ada di lokasinya sekarang? Bagaimana proses granit terbentuk? Berapa juta tahun yang lalu granit itu terbentuk? Berapa tebal atau berapa luas granit di kawasan itu? Bagaimana proses granit muncul di permukaan? Bagaimana proses terjadinya bentukan granit? Apa kegunaan granit? Bagaimana masa depan granit? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh interpreter pada saat geotrek. Di tangan Budi, ilmu Geologi menjadi cerita menarik yang dapat menjawab gejala kebumian.

Budi Brahmantyo melakoni peran sebagai juru tafsir kebumian secara sukarela dalam arti yang sesungguhnya. Dilakukan dengan suka cita, penuh kegembiraan dalam menjalankan peran sebagai interpreter, menjadi penulis populer, dan rela dalam melakoninya. Ia rela meluangkan waktu 1-3 hari kegiatan untuk memberikan pencerahan kepada sekurang-kurangnya 50 orang peserta pada setiap kegiatan Jelajah Geotrek bersama MataBumi. Kerelaan dalam berkegiatan itu saya menyebutnya sebagai personal social responsibility (PSR), sebagai tanggung jawab sosial pribadi. Dengan cara itu masyarakat umum mendapatkan penjelasan tentang berbagai gejala kebumian yang sedang terjadi. Sebagai seorang dosen di kampus, Dr Budi Brahmantyo mendapatkan dana dari APBN untuk penelitian-penelitian akademis, dan mendapatkan kepercayaan dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk mengadakan penelitian dan pelatihan bagi masyarakat.

Inilah yang membanggakan dari sosok Dr Budi Brahmantyo, yang tiada mengenal lelah untuk menyebarluaskan ilmu Geologi. Insya Allah, inilah ilmu yang diamalkan dalam praktek yang nyata, semoga menjadi amal kebaikan yang ganjarannya terus mengalir. Aamiin.*

 

Bagikan: