Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 28.3 ° C

Persib, Seniman, dan Pilwakot Bandung 2018

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

KOTA Bandung dikenal sebagai kota kreatif penghasil seniman-seniman besar di berbagai bidang. Baik seni rupa, musik, tradisional, tari, hingga seni peran. Keberhasilan Bandung menghasilkan artis, dan musisi yang reputasinya diakui di tingkat nasional.

Seakan telah menjadi tradisi, tak heran jika para seniman memiliki peranan strategis dalam menjadikan Bandung sebagai barometer di Indonesia. Komunitas seni dan para seniman memiliki pengaruh penting terhadap tren dan persepsi warga Bandung, dan memengaruhi banyak hal tak hanya seni budaya, namun juga sosial, pendidikan, dan politik.

Tak hanya gemar berkesenian warga Bandung pun dikenal menggandrungi olahraga, utamanya sepak bola, patung sepak bola di Jalan Lembong menjadi bukti bahwa masyarakat kota kembang gila bola. Bicara sepak bola maka takkan bisa lepas dari kiprah Persib, klub kebanggaan warga Bandung. Layaknya para seniman, banyak pesepak bola asal Bandung sohor ke seantero negeri.

Variabel politik



Popularitas adalah kata yang tepat untuk menarik benang merah antara Persib dan seniman, karena keduanya mendapat apresiasi dan perhatian masyarakat. Dalam konteks kekinian benang merah itu akan semakin pekat. Jika kita kaitkan dengan konteks politik, khususnya ajang Pemilihan Wali Kota Bandung (Pilwakot Bandung 2018) yang akan diikuti oleh Nurul Arifin, Yosi Irianto, dan Oded sebagai calon wali kota. Setiap calon menjadi perlu untuk mempersepsikan dan mencitrakan diri mereka terhadap seniman dan Persib (sebagai bobotoh), jika di segmen seniman setiap calon memiliki loyalis masing-masing, maka di segmen Persib dan bobotoh lah sesungguhnya kepastian tak pernah bisa dicatat.

Ini melibatkan emosi individu setiap warga sehingga berafiliasi dengan komunitas tertentu tak pernah menjadi jaminan tren positif. Terlebih masyarakat Bandung yang dikenal cerdas dan rasional, sehingga mereka memahami betul batasan dan isu yang biasa “dimainkan” para politisi terkait Persib dan bobotoh. Jangan coba bicara masalah teknis dan pengelolaan klub apalagi menghubungkannya dengan target juara. Itu akan terdengar konyol dan mengada-ada jika melihat status Persib yang berada di bawah pengelolaan swasta melalui bendera PT Persib Bandung Bermartabat.

Meski demikian tentu selalu ada celah dan peluang untuk bicara tentang Persib dalam arena politik. Setidaknya isu diarahkan untuk menyentuh sisi emosional konstituen yaitu sebagai personal yang sama-sama bobotoh Persib. Uniknya cara pikir seperti ini bisa dikaitkan juga dengan selera para seniman kota Bandung yang dikenal juga sebagai bobotoh Persib.

Begitu banyak band-band kondang dari berbagai genre dan para musisi secara tegas menunjukkan sisi kebobotohannya secara vulgar melalui karya-karyanya. Semisal Pas Band, /rif, Harapan Jaya, Koil, hingga Doel Sumbang, mereka semua membuat lagu tentang Persib. Artis-artis seni peran pun tak mau kalah. Mereka begitu bangga terlahir sebagai bobotoh Persib, dari mulai yang eksis jaman now hingga yang telah menjadi bobotoh sejak era perserikatan seperti barudak Padhayangan Project, Aom Kusman, Kang Ibing, Rachmat Hidayat, Didi Petet, hingga Nurul Arifin.

Si Kabayan dan Gadis Kota



Jika anda ingin melihat persinggungan sekaligus kejayaan Persib dan seniman Bandung, maka tontonlah film Si Kabayan dan Gadis Kota yang rilis pada tahun 1989. Film ini dibintangi oleh nama-nama besar yang telah mendapat pengakuan di kancah nasional. Sebut saja Didi Petet, Paramitha Rusady, Meriam Bellina, Rachmat Hidayat, Kang Ibing, dan Nurul Arifin.

Sekadar mengingatkan, 29 tahun lalu belum marak internet apalagi media sosial seperti Youtube dan Instagram. Ketika orang begitu mudah dikenal dan meraih popularitas dengan cara instan. Puluhan tahun lalu mereka yang bisa dikenal publik. Apalagi bermain film nasional adalah orang-orang yang telah melalui proses dan tempaan selain tentunya memiliki bakat dan kualitas. Termasuk mereka yang terlibat dalam film Si Kabayan dan Gadis Kota ini.

Scene yang paling menarik adalah adegan ketika Si Kabayan (Didi Petet) dan Saribanon (Nurul Arifin) si gadis kota berada di Stadion Siliwangi Bandung saat pertandingan antara Persib dan Persija digelar. Dalam adegan itu pula muncul tokoh penting yaitu Alm. Ateng Wahyudi, Wali Kota Bandung saat itu yang memerankan dirinya sendiri.

Bisa kita bayangkan betapa dahsyat dan epiknya scene tersebut, kita dapat menyaksikan tokoh-tokoh Bandung yang berjaya dalam 3 bidang sekaligus di masanya (olahragawan, seniman, birokrat). Yaitu para pemain Persib (yang kemudian menjadi juara tak lama setelah film ini rilis). Kemudian para seniman Bandung (Didi Petet, Nurul Arifin, Aom Kusman, serta Kang Ibing) dan Alm. Ateng Wahyudi sebagai orang nomor 1 di Bandung saat itu sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum Persib. Kejayaan Persib turut pula mengharumkan nama Ateng Wahyudi di mata warga Bandung, saking identiknya Pak Ateng dengan Persib, Presiden Soeharto pun pernah memanggilnya dengan sebutan ketua Persib dalam acara resmi kenegaraan bukan dengan panggilan formil sebagai wali kota Bandung.

Tentu tak pernah terlintas dalam benak Nurul Arifin, bahwa 29 tahun setelah perjumpaan dengan walikota Bandung Ateng Wahyudi di Siliwangi, kini Nurul berpeluang menduduki jabatan yang disandang oleh Ateng Wahyudi saat itu. Namun satu yang pasti, scene di Stadion Siliwangi dalam film Si Kabayan dan Gadis Kota adalah jejak visual publik tertua yang memuat persinggungan calon walikota Bandung dengan hal berbau Persib, berpuluh tahun sebelum dimulainya Pilwakot Bandung 2018.***

Bagikan: