Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 20.6 ° C

Emansipasi Bobotoh

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

SELAIN penampilan gemilang Persib saat menekuk Borneo FC 3-1 di GBLA, Sabtu kemarin pun menjadi istimewa karena bertepatan dengan momentum Hari Kartini.

Tulisan ini takkan membahas secara historis dan mendalam tentang Kartini dan emansipasi perempuan. Namun,  akan bercerita tentang geliat perempuan di pusaran sepak bola (baca: Persib). Khususnya perempuan-perempuan Bandung, utamanya kesan dan momentum empirik yang saya alami.

Mojang bobotoh



Segala hal yang maskulin memang akan lebih menarik dan istimewa jika diwarnai oleh sesuatu yang feminin, sebut saja dunia otomotif dan sepak bola. Kehadiran sosok perempuan justru membuat industri dunia olah raga lebih humanis dan menghibur, tak terkecuali kehadiran para makhluk manis di tribun stadion.

Sepak bola memang bukan semata milik kaum pria, meski mereka mendominasi setiap sudut stadion. Tentu saja, sosok-sosok manis di stadion selalu menjadi perhatian dan Persib selalu memiliki tradisi tentang eksistensi suporter perempuan, bahkan sejak Persib masih menjadikan Stadion Siliwangi sebagai home base.

Selain simpatisan bobotoh perempuan yang sulit dipetakan, ada pula jejak yang lebih formil seperti mereka yang tergabung dalam organisasi bobotoh. Kita mengenal adanya Ladies Vikers dan Mojang Bomber yang berafiliasi dengan dua kelompok bobotoh terbesar.

Otoritas sepak bola



Tak hanya di segmen penikmat, eksistensi mojang Bandung pun merambah ranah praktisi dan otoritas sepak bola tanah air. Adalah Papat Yunisal, mantan pesepak bola putri nasional, pendiri SSB Queen yang kini duduk di kepengurusan PSSI, bahkan ia dipercaya sebagai ketua asosiasi sepak bola wanita.

Pencapaian Papat Yunisal bukanlah sesuatu yang instan. Sejak mengenalnya belasan tahun lalu, tampak ia memang berkomitmen terhadap perkembangan sepak bola wanita di Indonesia. Pengorbanannya cukup banyak dan jalan terjal dia lalui mengingat tren sepak bola di Indonesia masih belum berpihak pada segmen sepak bola perempuan.

Dulu, saya sangat menikmati perjumpaan dengan Papat Yunisal. SSB Queen binaannya menggunakan lapangan di daerah Rajawali Kota Bandung sebagai tempat latihan. Sembari berbincang, kita bisa mencuri pandang melihat anak-anak asuhnya yang tengah berlatih. Di antara penampilan mereka yang tomboy, mereka tetap ada senyum manis yang akan membuat kita sulit tidur.

Jadi, jika anda mengira emansipasi perempuan baru dimulai di era sekjen PSSI Ratu Tisha Destria --yang lucu itu-- maka bisa dipastikan bahwa Anda keliru. Otoritas sepak bola akan lebih solid jika berkolaborasi dengan otoritas pemerintah yang memiliki perhatian dan keberpihakan pada sepak bola wanita.

Peranan pemimpin di daerah menjadi penting karena pembinaan sepak bola wanita berarti bicara pula tentang pembinaan sektor amatir yang masih bergantung pada anggaran negara (karena sponsor masih menganggap sektor ini tidak komersil). Jangan lupa, masih perlu penyediaan infrastruktur yang menjadi kewenangan pemerintah.

Sekadar info, saya dan Panglima Viking almarhum Ayi Beutik seringkali menggoda Ceu Papat (panggilan akrab Papat Yunisal) dengan sapaan: "Pat... Ceu Papat... preman preman" 

Panggilan itu adalah plesetan dari lirik lagu preman yang dipopulerkan oleh Ikang Fawzi, jika Anda mengetahui lagu itu pastilah paham bagian mana yang diplesetkan.***

Bagikan: