Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 20.9 ° C

Joko Driyono

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

DI berbagai kesempatan saya selalu mengatakan bahwa sosok paling “sakti” di PSSI sepanjang masa adalah Nugraha Besoes, alasannya adalah Kang Nunu (panggilan akrab Nugraha Besoes) telah menjadi sekretaris PSSI sejak saya duduk di bangku SD dan tetap eksis hingga saya lulus pendidikan tinggi. Ia tak tergoyahkan selama  puluhan tahun di federasi sepak bola Indonesia sementara pimpinan dan pengurus lain silih berganti. Namun tampaknya “kesaktian” Kang Nunu mulai mendapat saingan, bahkan pesaingnya kali ini bisa dikatakan lebih unggul dari beberapa sisi.

Sebut saja namanya Jokdri, namun jika tak akrab sebutlah nama panjangnya, Joko Driyono. Pria ini ramai dibicarakan khalayak setelah diketahui bahwa ternyata dirinyalah pemilik dominan klub Persija Jakarta secara de jure. Faktor kepemilikan ini menjadi bibit prasangka karena Joko Driyono menyandang status orang nomor 2 di PSSI, bahkan menjadi orang nomor 1 selama menjadi Plt Ketua Umum PSSI yang tengah sibuk betarung di ajang Pilkada Sumut. Tulisan ini takkan menambah daftar hujatan, tuduhan, dan prasangka kepada Joko Driyono. Namun, mencoba memahami betapa seorang Joko Driyono memang sangat beralasan untuk bisa menguasai seluruh lini organisasi sepak bola di Indonesia. 

Perkenalan



Saya mengenal Joko Driyono saat masih menjadi jurnalis TV. Beberapa kali mengikuti konferensi pers dan wawancara dengan Joko Driyono yang saat itu menjabat sebagai CEO PT LIGA, operator kompetisi Liga Super Indonesia. Kesempatan untuk bisa bicara lebih banyak dengan Jokdri terjadi ketika PT LIGA melakukan workshop di Bandung beberapa tahun lalu. Saat itu saya digandeng PT LIGA untuk menjadi moderator di beberapa sesi diskusi.

Pemahaman Jokdri terkait sepak bola sangatlah baik dan komprehensif. Dari pembinaan usia dini, kompetisi profesional, partner seperti sponsor, dan media, semua dipahami dan mampu disampaikan dengan retorika yang baik pula. Pemahaman yang didukung relasi dan kesempatan bisa membuat Joko Driyono memegang peranan di 3 elemen utama kompetisi sepak bola yaitu klub, operator, dan federasi. Karir Jokdri sulit dipisahkan dari nama Bakrie. Ia mulai dikenal ketika menangani klub Pelita Jaya yang saat itu berafiliasi dengan Krakatau Steel. 

Jejak ini pula yang membuat imejnya sebagai orang kepercayaan Nirwan Bakrie menjadi sulit dibantah. Ketika menjadi CEO, posisinya di operator liga pun sebenarnya sangat aman, satu-satunya alasan yang membuat dirinya “seakan-akan” melepas jabatan paling strategis di operator liga adalah karena dirinya berstatus sebagai  Wakil Ketum PSSI. Betapa tidak patutnya jika terjadi rangkap jabatan seperti itu walau pada kenyataannya Joko Driyono pernah melakukan rangkap jabatan yang sangat langka saat dirinya menjabat sekjen PSSI sekaligus CEO PT LIGA.

Jika kita lihat daftar kolega Joko Driyono di federasi dan operator liga maka kita dapat menyimpulkan bahwa peranan Joko Driyono di dua institusi sepak bola itu tetap sama strategisnya walau tak melakukan rangkap jabatan. Seluruh kebijakan akan diwarnai oleh sosok Jokdri. Pemahaman, pengalaman dan “kesaktian” membuatnya tak pernah benar-benar terlempar dari lingkaran utama penguasa sepak bola negeri ini walau rezim silih berganti, bahkan di era rontoknya Nurdin Halid. 

Ketika begitu banyak orang lama yang terlempar, begitupun eksistensi PT Liga Indonesia yang terancam karena kepengurusan baru di bawah Djohar Arifin Husein membentuk operator baru di bawah bendera PT Liga Prima Indonesia Sportindo. Dalam kondisi serba tak menguntungkan seperti itu, Joko Driyono justru mampu tetap eksis dan melakukan serangan balik dengan menduduki jabatan Sekjen PSSI dan memimpin kembalinya gerbong lama PSSI ke puncak kekuasaan.

Bandul kekuasaan sepak bola kembali berubah, rezim Djohar Arifin yang disupport oleh pengusaha Arifin Panigoro harus menelan pil pahit dan salah satu penyebab utama terjadinya serangan balik dari orang-orang lama adalah ketidaksiapan operator liga yang baru (PT LPIS) untuk menggelar kompetisi liga primer Indonesia. Joko Driyono dengan pengalaman dan relasi PT LIGA diyakini mampu menggelar kompetisi yang lebih berkualitas. Persepsi stake holders sepak bola dimulai saat PT LPIS merilis penyusunan jadwal yang dianggap kacau. Momentum ini langsung dimanfaatkan oleh kelompok lama hingga akhirnya mereka kembali menguasai otoritas sepak bola Indonesia. Kejadian ini memberi pelajaran bahwa untuk mengubah sesuatu tak cukup hanya bermodalkan niat baik saja, namun juga diperlukan pemahaman, ilmu yang memadai serta kesiapan. Joko Driyono adalah sedikit orang yang memiliki itu semua. Padahal saya ingat betul tentang keputusasaan Jokdri terkait eksistensinya di sepak bola Indonesia pasca tumbangnya rezim Nurdin Halid. Melalui pesan singkat Jokdri menyatakan pamit dari hiruk-pikuk sepak bola, dan hari ini terbukti bahwa ucapannya saat itu hanya karena galau belaka.

Hilangnya Kepercayaan



Beberapa waktu lalu salah seorang reporter tirto.id (media yang membuat liputan tentang kepemilikan saham Joko Driyono di Persija) memang sempat menghubungi saya terkait kepemilikan saham beberapa klub sepak bola tanah air utamanya Persib di bawah naungan PT PBB (Persib Bandung Bermartabat), namun ternyata tirto.id membuat liputan yang melebihi perkiraan saya. Dalam liputan itu diulas juga tentang pengakuan Joko Driyono yang mengakui hal terkait kepemilikan saham tersebut, pengakuan ini dipertegas oleh Jokdri di media-media utama tanah air.

Saya sudah menduga bahwa Jokdri takkan berkelit karena menyangkal fakta dan akta PT yang sudah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM hanya akan membuat sulit dirinya. Namun seiring pengakuan itu pula, tentu Joko Driyono sudah menyiapkan argumen yang akan sangat logis dan rasional terkait isu ini. Asumsi yang harus dibangun tentunya akan erat dengan kepentingan sepak bola nasional, terlebih kondisi persija jakarta sebagai klub ibu kota yang tak ideal. Sulit sponsor, home base tidak jelas, hutang menumpuk dan sebagainya, sehingga PSSI perlu mendampingi, asistensi dan hal lain yang akan terdengar baik. Orang secerdas Joko Driyono takkan sulit beretorika dan memanfaatkan akses media untuk meredam isu negatif yang berkembang (dugaan saya isu ini akan benar-benar bersih di awal April). Namun Yang Terhormat Wakil Ketua Umum PSSI Bapak Joko Driyono harus memahami, yang kini terjadi bukanlah persoalan menabrak regulasi yang tentu takkan dilakukan orang secerdas Joko Driyono. Namun ini tentang ketidakjujuran, yang berkaitan dengan etika dan moral. Walau moral dan etika pun dapat dinilai oleh perspektif masing-masing bahkan oleh orang yang dianggap melanggarnya. Namun kini persepsi masyarakat sepak bola tidak akan pernah sama lagi. Akan ada ketidakpercayaan dan kecurigaan yang selalu muncul jika bicara PSSI, dan itu bukanlah hal yang baik untuk silaturahmi anak bangsa.***

Bagikan: