Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Umumnya berawan, 25.3 ° C

Saat Klub Profesional Diperlakukan Amatir

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

TERJADI tragedi kecil yang menjadi viral beberapa waktu lalu, yaitu terkait pernyataan pelatih kepala Persib, Mario Gomez yang mempertanyakan match fee saat Persib bertanding di Tasikmalaya beberapa waktu lalu. Pernyataan Gomez ini disusul oleh elemen tim lainnya seperti Soler dan koleganya yang mengecam panitia game Tasikmalaya dan mengancam takkan lagi mau memenuhi undangan bertanding di Tasikmalaya. Rangkaian-rangkaian tersebut membuat seakan Persib tak bersalah sama sekali dan dalam posisi terzalimi, bahkan dosa panitia pun seakan pantas ditanggung oleh sebagian besar bobotoh yang berada di Priangan timur karena asisten pelatih mengancam Persib takkan pernah lagi mau bermain di sana. Mari kita balik logikanya dengan pertanyaan: Bagaimana mungkin klub profesional seperti Persib Bandung bisa-bisanya  mengalami perlakuan tidak profesional dari orang-orang amatir dan bagaimana pula elemen tim seperti asisten pelatih justru lebih banyak bicara terkait persoalan ini?

Kemenangan mental amatir



Padahal kita semua mengakui kapasitas dan profesionalisme orang-orang yang kini memegang kendali PT Persib Bandung Bermartabat, dalam konteks ini jangankan perusahaan dalam negeri, mesin uang dengan embel-embel perusahaan multi nasional yang lintas benua pun mereka garap dengan sangat baik sekali. Maka janganlah terlalu menunjuk panitia yang jelas-jelas berisikan amatiran yang bisa jadi hanya berpikir pragmatis demi rezeki keluarga, namun tunjuk diri sendiri mengapa tim profesional bisa dikadali oleh orang-orang amatir. Jika ternyata memang ada wanprestasi maka seyogyanya diredam pula dengan cara profesional. Sangat tak elok  mengungkit lelahnya pemain, perjalanan yang lama, lapangan yang buruk dan sebagainya. Seakan menyesali telah bermain di Tasikmalaya. Belum juga statement membandingkan perlakuan baik dari panitia Banten yang menjadi tujuan Persib bertanding setelah Tasikmalaya.

Tulisan ini bukan untuk menyepelekan uang puluhan juta hak Persib yang sebenarnya receh untuk ukuran PT PBB, karena kewajiban panitia memang harus tetap dipenuhi dengan segala itikad baik dan rasa tanggung jawab. Namun jangan lupakan hakikat historis dan emosional bahwa tanpa embel-embel uang pertandingan pun Persib seharusnya memiliki moral untuk tetap bersuka cita menyapa ribuan penggemar yang sangat antusias menyambut kehadiran mereka di Tasikmalaya. Terlebih kita tak pernah tahu pengorbanan apa yang mereka lakukan untuk bisa melihat Persib di Tasikmalaya karena bobotoh yang hadir bisa saja datang bersusah-payah dari Banjar, Ciamis, Pangandaran ataupun daerah Jawa Tengah. Kehadiran Persib di Tasikmalaya bisa jadi sangat dinantikan karena sungguh tak mudah bagi mereka untuk dapat menyaksikan pemain-pemain kebanggaan yang biasanya berlatih dan eksis di Kota Bandung.

Tak semua harus ditakar dengan uang semata, silakan tanya pada Gomez bagaimana perasaannya ketika mengetahui ternyata tim yang dia latih masih saja ada banyak penggemar walau bermain di luar kota Bandung, dan dengan intensitas yang lebih gila, orang yang sangat mengapresiasi kehadiran suporter seperti Gomez pasti akan sangat terkesan dan menikmatinya. Sekali lagi pernyataan ini tak mendukung dan membenarkan panitia Tasikmalaya yang terlambat memenuhi kewajibannya, hanya saja memang ada baiknya jika kita tak terbiasa menganggap tim yang kita puja selalu benar terlebih untuk hal-hal di luar lapangan.

Berkacalah bobotoh



Berbicara tentang panitia-panitia yang mengundang Persib untuk bermain ke daerahnya, tentu kita berprasangka baik bahwa mereka pun sejatinya adalah bobotoh. Celakanya bobotoh sendirilah yang terkadang membuat mental amatir merasuki para pemain. Entah berapa kali saya memergoki bobotoh yang sukses merayu pemain untuk terlibat dalam kepentingan bobotoh, kondisi sekarang memang membuat banyak bobotoh begitu mudah untuk mengakses para pemain Persib.

Tingkatan paling tidak bertanggung jawab dari bobotoh terhadap pemain Persib adalah saat bobotoh justru menawari pemain untuk bertindak tidak profesional dengan bermain tanpa sepengetahuan klubnya. Entah dalam laga dengan kemasan apapun, apa itu promosi sponsor, sekadar laga persahabatan dan sebagainya. Di masa lalu bahkan sering juga pemain Persib bermain tarkam (gacong) karena tawaran bobotoh. Memang sudah gila rasanya, di sisi lain bobotoh banyak yang berkoar tentang profesionalisme namun di sisi lain ada juga yang justru membuat para pemain merendahkan dan membunuh karir profesional mereka. Tentu ini pun harus membuat kita semua introspeksi dan melakukan otokritik, karena ternyata dalam beberapa hal peran bobotoh sebagai suporter menjadi bias. 

Ada interaksi yang membuat bobotoh justru mengambil keuntungan dari eksistensi Persib dan para pemainnya dalam bentuk yang bermacam-macam. Walau bisa jadi keuntungan pun diperoleh oleh si pemain, namun apakah itu arah yang kita tuju? Suporter yang bermitra dengan tim melebihi dukungan di lapangan dan menyentuh ranah materi, uang, dan keuntungan?***  

Bagikan: