Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Umumnya berawan, 23.8 ° C

Persib dan Pengusaha Tionghoa

Eko Noer Kristiyanto
Eko Noer Kristiyanto

Eko Noer Kristiyanto

GONG xi fa cai, tren ucapan momentum imlek itu selalu mengingatkan pada kolega-kolega Tionghoa yang merayakan, beberapa jelas terkait dengan Persib dan itulah inti tulisan ini. 

Akan tetapi, sebelumnya penting untuk mengingatkan bahwa adalah keliru jika kita menganggap Persib hanya berurusan (dan diurus) oleh pengusaha tionghoa ketika konsorium masuk dan terlibat dalam pengelolaan di era PT. Persib Bandung Bermartabat. 

Terkait pengusaha kakap tionghoa yang berafiliasi dengan Persib dalam konteks kekinian, tak sulit menelusuri jejak formal mereka melalui internet. Walau mungkin tak lengkap dan detail, setidaknya seluruh jejak bisnis mereka terdaftar resmi dan mudah dipahami.

Kita pun dapat mengetahui betapa Glenn Sugita, Peter Tanuri dkk melakukan manuver bisnis di ranah sepak bola dalam beberapa tahun terakhir, termasuk menguasai salah satu media sepak bola paling berpengaruh di Indonesia, menjadi operator kompetisi, hingga masuk ke struktur organisasi PSSI. 

Bisa jadi, itu semua adalah hal yang tak akan terpikirkan oleh mereka seandainya tak mengelola Persib. 

Melalui Persib, muncul kesadaran penting tentang potensi bisnis sepak bola Indonesia (terlepas dari segala risiko dan dampak negatifnya) ketika sepak bola diurus secara profesional. 

Lalu bagaimana peranan para pengusaha tionghoa yang lebih eksis sebelum kedatangan konsorsium? Saya mencatat dua nama penting. Bisa jadi lebih, namun memang hanya dua nama itu yang pernah berinteraksi dengan saya secara langsung.

Mereka adalah Deny Susanto dan Hasan Saputra. Keduanya wajib disebut jika bicara Persib dalam konteks judul tulisan ini.

Denny Susanto



Urusan pertama saya dengan Deny Susanto awalnya bukan tentang sepak bola. Namanya muncul justru ketika saya diminta menelusuri nama Attila Graziana, seorang pengacara yang masuk bursa sebagai calon hakim add hoc belasan tahun lalu. 

Nama Deny Susanto muncul karena Attila Graziana menjadi kuasa hukum dari para pemain Polandia (Muharski, Orlinski, Dolega) yang menggugat Persib karena kontrak mereka diputus di tengah kompetisi. 

Denny Susantolah yang menghadirkan trio Polandia di Bandung. Tanpa membahas kasusnya, kita bisa mengetahui betapa besar pengaruh seorang Denny Susanto karena mampu membuat Persib mengingkari tradisi selalu menggunakan 100% pemain lokal untuk mengarungi kompetisi. 

Kehadiran trio Polandia memang gagal mendongkrak prestasi, tetapi itu adalah momentum kehadiran pemain asing pertama di Persib dan membuat Persib selalu menggunakan jasa pemain asing di musim-musim berikutnya. 

Bahkan, pengaruh Denny Susanto terkait kehadiran pemain asing di tahun-tahun itu masih cukup kentara karena pemain-pemain beraroma latin asal amerika selatan berikutnya masih terkait dia. 

Jika Anda bertemu Julio Lopez hingga Lorenzo Cabanas, katakan saja ada salam dari Mr. Denny Susanto karena mereka memang sangat dekat. 

Koneksi Denny Susanto dengan para pemain amerika latin terjadi karena afiliasi kuatnya dengan agen pemain bernama Nelson Sanchez yang memang dikenal sebagai agen spesialis pemain asal amerika selatan. 

Minat sepak bola Deny Susanto bisa dikatakan lengkap. Dia memahami dan memiliki akses untuk bermain di sektor putih, abu-abu, hingga sektor yang paling tabu untuk dibahas. 

Dulu, biasanya saya menjumpai Denny Susanto di lapangan Tegallega sembari menemani menonton sepak bola. 

Terkadang juga di tempat spa miliknya. Denny Susanto memang menggarap cukup banyak bisnis, yang utama adalah bengkel mobil. 

Selain itu, dia pun memiliki perusahaan rekaman, tempat spa, hingga memiliki tabloid Maung Bandung, tabloid yang pernah mencuri perhatian publik karena menjadi tabloid yang fokus memberitakan Persib. 

Jika Anda pernah mendengar nama klub bernama Pro Duta dan Maung Bandung, keduannya adalah bentukan Denny Susanto juga. 

Insting dan pembacaan Denny Susanto terhadap hitam-putih sepak bola Indonesia bisa dikatakan cukup teruji, hal yang wajar mengingat dia telah “ngurus bola” sejak tahun 80-an.

Hasan Saputra



Meski telah berpulang beberapa tahun lalu, dedikasi Hasan Saputra untuk sepak bola masih dapat kita lihat jika melintas ke daerah Batununggal setiap akhir pekan. Di lapangan yang terletak di tengah perumahan elite itulah kita dapat melihat eksistensi klub yang didirikan olehnya.

Jika Anda melihat seragam berlogo menyerupai Yin Yang berwarna merah-putih, Anda telah dekat dengan markas klub Saint Prima.

Saya Pertama kali melihat sosoknya di tabloid Bola, di kolom berita yang memuat foto orang  berfoto dengan kapten Ajax Amsterdam sekaligus legenda sepak bola Belanda, Dany Blind. 

Belakangan, saya tahu bahwa dia memang memiliki koneksi yang sangat baik dengan otoritas sepak bola di Belanda. 

Beberapa kali Hasan Saputra menggandeng KNVB (Federasi Sepak Bola Belanda) untuk menggelar acara klinik pelatihan di Bandung dan saya dipercaya menjadi penerjemah bagi para instruktur yang didatangkan langsung dari Belanda. 

Bicara Hasan Saputra adalah bicara tentang kepercayaan. Bisa jadi itulah mengapa even-even yang diinisiasi Hasan Saputra selalu dihadiri nama-nama besar seperti Widodo C Putro, Rahmad Darmawan, Sutan Harhara, hingga mantan asisten pelatih timnas, Wolfgang Pikal.

Belum termasuk nama-nama besar mantan pemain Persib yang juga selalu antusias, padahal even-even tersebut sungguh jauh dari aroma komersal. 

Selain menggandeng instruktur dari Belanda, Hasan Saputra pun pernah menghadirkan Lucas Netto, pelatih asal klub Sao Paolo Brasil yang menemukan talenta Ricardo Kaka.

Bicara Hasan Saputra, maka tak lepas pula dari kehadiran pemain-pemain asal Thailand di Persib Bandung. Selain Belanda, koneksi Hasan Saputra adalah sepak bola Thailand. 

Pertemuan pertama saya dengan Hasan Saputra adalah ketika saya ingin mewawancarai mantan kiper Persib Kosin di awal kedatangannya ke Bandung.

Berbeda dengan Denny Susanto yang ekspresif, Hasan Saputra adalah tipe orang yang tidak terlalu banyak bicara. Bahkan untuk obrolan-obrolan strategis, seringkali Hasan Saputra didampingi oleh juru bicara yang tak lain adalah istrinya. 

Kepercayaan dan profesionalitas adalah aset sosial Hasan Saputra yang paling berharga. Tak heran jika hingga detik ini saya belum pernah sekali pun mendengar cela terkait kiprah Hasan Saputra di sepak bola semasa hidupnya. 

Kebaikan dan karakternya yang tak meledak-ledak seringkali dimanfaatkan termasuk oleh orang-orang yang pernah dia angkat dan besarkan namanya. 

Intrik dalam sepak bola memang selalu ada, tetapi Hasan Saputra memang tak pernah tertarik untuk larut di ranah ini.

Kosin dan Suchau adalah contoh nyata bagaimana pemain sepak bola dibawa dan berproses dengan karakter dan kesan yang baik di Bandung. 

Keluarga Hasan Saputra yang memosisikan sebagai orangtua angkat bagi kedua pemain tersebut membuat kelakuan duo Thailand ini terjaga baik di dalam maupun di luar lapangan. 

Saya pernah mendengar sendiri bagaimana Kosin sempat flu karena diajak begadang di kafe oleh seseorang yang tak mungkin dia tolak ajakannya. 

Kosin tak terbiasa seperti itu karena dalam kesehariannya, Kosin memang anak rumahan yang hobinya bermain gitar dan membaca buku. 

Terhadap pemain lokal pun Hasan Saputra memang demikian. Tak cukup kemampuan di lapangan, Hasan Saputra sangat memperhatikan pula sikap seorang pemain sepak bola.

Terakhir saya melihat Hasan Saputra adalah ketika jasadnya terbujur kaku di rumah duka di daerah Hollis. Duka mendalam saya rasakan. Rasanya terlalu cepat seorang Hasan Saputra pergi. 

Pengalaman beberapa tahun mengenalnya cukup membuka wawasan tentang pembangunan sepak bola secara menyeluruh, terlebih kami memiliki pandangan yang sama. 

Kami sama-sama percaya sistem, kurikulum, dan pendidikan yang tepat dalam sepak bola akan melahirkan pemain yang hebat. Bakat hanyalah penunjang, kerja keras dan pendampingan yang tepatlah yang menentukan.***

 

Bagikan: