Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 22 ° C

Calik dina Bangbarung

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

PETANG itu kami berdua sedang mendengarkan kaset jadul berisi rekaman wayang golek dari mendiang Ade Kosasih Sunarya. Kisahnya berjudul, Dawala Aral. Salah seorang putra Semar lagi gusar. Dia berkeluh-kesah, lalu minggat dari rumah, pergi jauh menuruti kata hatinya, bahkan sempat berniat bunuh diri. Dalam salah satu bagian dari dialognya, terdengar Dawala mengucapkan kata bangbarung.

“Wah, lama benar, ya, kita tidak dengar kata bangbarung,” gumam saya.

Bangbarung itu bagian dari bangunan rumah, kan?” timpal istri saya seraya menyetrika pakaian sekolah anak-anak kami.

Dalam kamus Danadibrata, kata bangbarung diartikan sebagai “bagian lawang panghandapna anu nyambungkeun tihang panto (bagian lawang paling bawah yang menghubungkan tiang-tiang pintu)”.

Dulu, rumah orang kebanyakan, khususnya rumah panggung yang terbuat dari kayu dan bambu, lazim dilengkapi dengan bangbarung. Di antara kedua bagian vertikal dari kusen pintu, ada semacam papan yang sejajar dengan lantai. Itulah bagian penting dari lawang.

Baru saya sadari betapa lama sudah istilah bangbarung jarang terdengar hari ini. Arsitektur jelas berubah. Bahasa penghuni rumah menyesuaikan diri dengan perjalanan waktu. Rumah yang kami diami kini, yakni rumah tembok yang bertopang pada beton bertulang, jelas tidak memerlukan bangbarung.

Lambat-laun saya jadi teringat pada sebuah lagu Sunda yang pernah begitu populer pada masanya, dalam berbagai genre-nya, mulai dari kliningan hingga pop. Saya, juga istri saya, termasuk ke dalam generasi yang ikut mendengar lagu itu di masa kanak. Judulnya, Dikantun Tugas. Itulah lagu tentang penantian seorang perempuan atas kekasihnya ---atau mungkin suaminya--- yang pergi ke medan perang.

Baik saya petik bagian awal liriknya. Begini bunyinya:

Calik dina bangbarung

anteng ngahurun balung

Nyawang anu ngalangkung

sedih manahna nguyung

Mohon maaf, saya tidak sanggup mengindonesiakannya. Permainan bunyi sengau di ujung tiap larik, yang masing-masing terdiri atas tujuh suku kata, menyiratkan kemustahilan penerjemahan. Saya hanya sanggup mengadaptasikan deskripsinya. Si aku lirik sedang duduk di lawang sambil melihat orang lewat dengan air muka yang murung.    

Menurut petatah-petitih lama, tidaklah patut perempuan duduk di atas bangbarung. Jika gadis, ia bakal sulit mendapat jodoh. Jika sedang berbadan dua, ia bakal sulit mengalami persalinan.

Benar ataukah tidak, saya tidak tahu. Wallahu’alam. Saya hanya dapat membayangkan seorang perempuan yang sedang duduk di atas bangbarung sambil memandang jalan dengan wajah murung. Pada hemat saya, itulah gambaran tentang situasi diri yang berada di garis batas. 

Bangbarung adalah garis batas antara “dalam” dan “luar”, antara ruang pribadi dan ruang publik, antara tinggal dan pergi, bahkan mungkin antara sabar dan putus asa. Jika dilihat dari sudut pandang orang luar, bangbarung adalah bagian dari “dalam”. Bila dipandang dari titik tilik orang dalam, bangbarung adalah bagian dari luar.

Di atas bangbarung, Dawala yang sedang bertamu memposisikan dirinya sebagai orang luar. Di atas bangabrung, perempuan yang ditinggal pergi oleh panutannya adalah orang dalam yang sedang memandang ke luar. Dengan kata lain, bangbarung adalah titik pertemuan “dalam” dan “luar”.

Garis batas dalam berbagai urusan memang lazim menimbulkan kegelisahan. Seringkali, di atas garis batas, orang perlu memastikan tindakan yang tepat.

Coba simak, misalnya, deskripsi mendiang Supriatna dalam kumpulan esainya yang penuh kenangan, Sumedang Harita. Katanya, “Aki Asim, Ma Nioh, Né Sawi, dimana rék angkat-angkatan téh sok nyelang gegerenyeman heula bari ngajanteng dina bangbarung. Teuing kumaha da ukur gegerenyeman. Aki Asim mah sok terus nénjrag bangbarung lalaunan, tilu kali. Deg, deg, deg, léos wéh. (Aki Asim, Ma Nioh, Né Sawi, setiap kali hendak bepergian selalu menyempatkan diri berkomat-kamit dulu sambil berdiri di atas bangbarung. Entahlah, sekadar berkomat-kamit. Aki Asim sendiri biasanya terus menjejak bangbarung perlahan, tiga kali. Deg, deg, deg, lalu pergi.)”

Dawala yang gusar, perempuan yang rindu, dan orang-orang tua yang banyak upacara, mewartakan hal penting bagi diri saya. Petang itu, sehabis menyimak cerita wayang dan membolak-balik buku dan catatan, saya sendiri merasa sedang duduk di atas bangbarung. Meski tak selalu tegas, hidup ini rupanya terdiri atas sekian garis batas.***

Bagikan: