Pikiran Rakyat
USD Jual 14.619,00 Beli 14.521,00 | Berawan, 21.1 ° C

Kars Pangkalan Situs Tarumanagara

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

UNUR, bukit-bukit kecil itu terlihat menonjol di antara hamparan persawahan yang luas. Bila ditarik garis lurus, lalu dibuat penampang utara-selatan, akan terlihat unur tertinggi mencapai 8,08 m. dari permukaan sawah, dan unur terendah setinggi, 3,75 m. Unur-unur itu oleh penduduk dimanfaatkan menjadi kebun. Dengan mengorek sedikit saja permukaan unur, akan terlihat tumpukan bata merah, yang sebelum tahun 1985, tak ada yang menyangka bahwa itu adalah bangunan candi. 

Kini, lokasi candi yang dibangun pada masa kejayaan Kerajaan Tarumanagara itu berada di Kecamatan Batujaya dan Pakisjaya, Kabupaten Karawang. Pada saat kejayaannya, candi-candi itu berada di muara Ci Tarum, di pinggir pantai. Namun kini, kompleks percandian Batujaya ini berada pada ketinggian 2 m.dpl. Pangangkatan daratan secara evolutif, telah mengasingkan kerajaan-kerajaan bahari, tak terkecuali Kerajaan Tarumanagara. 

Bagi para peziarah ke Candi Batujaya pada masa lalu, sebelum bersandar di muara Ci Tarum, akan melihat komplek percandian ini laksana teratai yang mekar di atas air. Candi-candinya berwarna putih, karena bata merahnya dilapisi, dilepa, diplester dengan stuko (stucco) dengan kapur padam. Sejak abad ke V, teknologi lepa stuko sudah dikenal dan menjadi salahsatu keahlian warga di Kerajaan Tarumanagara. Menurut Hasan Djafar (2000, 2010) hampir di semua kaki candi di komplek percandian Batujaya terdapat lapisan kapur padam antara 1-2 cm. 

Teknologi beton tidak bertulang pun, pada abad ke V-VII sudah dipergunakan di sini, terutama untuk bagian pelataran yang memerlukan pengerasan. Beton stuko yang dicampur dengan batu kerikil, menghasilkan adukan yang sangat kuat. Sekarang pun semen itu bahan utamanya adalah batu kapur lebih dari setengahnya, sisanya lempung dan pasir silika dengan tambahan gips. Teknologi pemanfaatan kapur tohor/kapur padam itu, selain untuk lepa dan beton stuko, juga dimanfaatkan dalam pembuatan ornamen relief dan arca-arca kecil. 

Di dalam komplek percandian ini terdapat lebih dari 24 candi. Untuk memplester seluruh bagian candi diperlukan bahan dalam jumlah yang banyak. Kapur tohor dihasilkan dari batugamping yang mengalami proses pemanasan atau kalsinasi. Batu kapur itu dibakar pada suhu antara 6000-9000 C. Batugamping bakar ini dikenal dengan sebutan kapur tohor. Apabila kapur tohor disiram dengan air secukupnya, akan menghasilkan kapur padam (hydrated/slaked quicklime, atau apu menurut istilah setempat. Mutu kapur tohor terbaik adalah yang terbakar secara lunak, yang menghasilkan kapur yang sarang dan tidak begitu mengkerut. Sedangkan kapur tohor yang bermutu kurang baik, bila proses pemanasannya terlalu masak, sehingga kapurnya mengerut, kompak dan kurang sarang.

Bila satu candi sedikitnya memerlukan antara 30-35 kubik kapur padam, untuk 24 candi memerlukan 24 x 35 kubik = 840 kubik. Dapat dipastikan keperluan kapur padam ini lebih dari jumlah itu, karena jumlah candi dapat dipastikan lebih dari 24. Ditambah lagi, setiap candi memerlukan beton stuko untuk mengeraskan pelatarannya, sehingga jumlahnya akan semakin bertambah.

Pada abad ke V-VII di Kerajaan Tarumanagara sudah memiliki banyak ahli, seperti ahli yang dapat mencari sumber bahan, ahli yang mengetahui bagaimana memroses batu kapur menjadi kapur tohor/kapur padam, ahli pengangkutan dari tempat pembakaran ke pusat percandian, ahli yang dapat membangun candi dengan baik, ahli pembuat beton stuko, dan melepanya dengan stuko, sehingga bangunan candi menjadi putih dan kuat, ada ahli patung, ahli desain eksterior, sehingga berbagai materai (votive tablet) tanahliat dan arca dibuat dengan baik. 

Bahan kapurnya didapat dari kawasan batukapur di Pekapuran, Pangkalan, Karawang, dipilih karena kualitas bahannya yang istimewa, dan adanya kemudahan dalam pengangkutan. Batukapur sebagai bahan lepa dan beton ini diproses di Pekapuran, di lokasi bahan bakunya, hasilnya, kapur padamnya diangkut ke lokasi pembangunan percandian melalui jalur sungai. Lokasi sumber bahan yang memenuhi dua syarat itu adalah perbukitan kapur, di Pekapuran, Pangkalan, yang telaknya 27 km di selatan kota Karawang.

Ketika Kerajaan Tarumanagara giat membangun kompleks percandian Batujaya, perbukitan kapur tingginya antara 48-118 m dpl. (sekarang antara 50-120 m dpl.). Di kawasan kars Pangkalan sepanjang 20 km ini terdapat sungai yang memudahkan pengangkutan hasilnya, yaitu Ci Beet, anak Ci Tarum. Sungai itu menjadi sarana tranportasi yang sangat baik untuk mengangkut kapur tohor/padam ke Batujaya sejauh 62 km.

Kars Pangkalan merupakan perbukitan rendah dengan puncak-puncaknya seperti Gua Haji, Gua Bagong, Gua Walet, Pasir Lengis, dan Leuweungsurupan. T Martadipura (1977), menggambarkan, batugamping di Pangkalan ini terdiri dari dua jenis, pertama batugamping pasiran yang cadangannya tidak banyak, dan kedua batugamping murni, dengan sifat batugampingnya yang kompak, keras, berwarna putih agak abu, dan cadangan mencapai puluhan juta ton. Kars Pangkalan ini termasuk Formasi Parigi, melintang barat-timur sejajar garis pantai. Secara Geologi, umurnya antara 10-15 juta tahun yang lalu. 

Kawasan batugamping di Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, nilainya menjadi sangat tinggi, karena selain kualitas karsnya yang bagus, seperti tercantum dalam Peta Klasifikasi Kawasan Kars Provinsi Jawa Barat tahun 2006, kawasan ini pun termasuk ke dalam situs sejarah Kerajaan Tarumanagara. Bila mengacu pada Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 20 Tahun 2006, kawasan kars kelas I ini merupakan kawasan yang wajib dilindungi dan tidak diperbolehkan untuk kegiatan budidaya yang merusak fungsinya. Pasal 13 dalam Pergub itu dinyatakan bahwa peruntukan kawasan kars ini sebagai kawasan lindung, yang dapat dimanfaatkan, namun hanya untuk kegiatan yang sifatnya tidak menurunkan mutu lingkungan dan biofisik. 

Kawasan kars Pangkalan mempunyai nilai yang sangat tinggi, baik secara alam maupun budaya.***

Bagikan: