Pikiran Rakyat
USD Jual 14.433,00 Beli 14.335,00 | Cerah berawan, 27.4 ° C

Cordelia

Karim Suryadi
Karim Suryadi

Karim Suryadi

CORDELIA adalah putri bungsu Raja Lear dalam sandiwara King Lear karya William Shakespeare. Sandiwara yang ditulis pada 1608 tersebut mengambil cerita dari dongeng Inggris kuno. Pada babak satu tersaji panggung politik dengan bahasa politik sebagai konstruksi utamanya. Beberapa plot dialog pada babak ini terasa aktual, khususnya dalam membaca gaya bertutur para bakal calon gubernur, bupati/wali kota, serta cara-cara mereka menampilkan diri.

Dikisahkan Sang Raja memutuskan untuk mewariskan kekayaan (termasuk kekuasaan kerajaannya) kepada tiga putrinya. Untuk mendapatkan warisan, ketiga putrinya diminta mengungkapkan seberapa besar mereka mencintai ayahnya. 

Putri tertua, Goneril, mengaku mencintai ayahnya melampaui luas dunia, bahkan melebihi hidupnya sendiri. Seakan tak mau kalah oleh kakaknya, Regan pun menyatakan hal yang kurang lebih sama. Berbeda dengan kedua kakaknya, Cordelia tampak tidak antusias, dan berkata "Aku tidak bisa membuat hatiku berkata-kata. Aku mencintai Yang Mulia sesuai dengan tali pertalianku, tidak lebih tidak kurang."

Raja Lear yang diliputi kepercayaan diri yang berlebih rabun dalam melihat ketulusan ketiga putrinya. Ia terperangkap sanjungan yang memuakan, sehingga Goneril dan Regan mendapatkan warisan kekayaan yang besar. Sedangkan Cordelia, yang banyak diam dan menolak menjelaskan apa maksud perkataannya menuai murka Sang Raja, sehingga putri bungsu tersebut dibuang dan pemberian yang telah diterimanya ditarik kembali.

Namun belakangan, seperti tergambar dalam babak selanjutnya, Cordelialah yang tulus mencintai ayahnyanya. Sedangkan kedua kakaknya, yang mewarisi kekayaan terbesar dan kekuasaan ayahnya, bukan hanya tidak mencintai namun mempermalukannya di depan umum.

Raja Lear terbuai tipuan yang sempurna. Alih-alih menggambarkan apa yang mereka rasa, Goneril dan Regan mengatakan sesuatu yang diinginkan Sang Raja. Yang Mulia Raja Lear begitu mudah termakan rayuan yang memuakan karena dua sebab. 

Kesatu, Raja Lear dibutakan oleh egonya. Melebihi rakyat pada umumnya, Raja Lear menganggap ketiga putrinya mencintainya dengan tulus, tanpa syarat. Padahal, Goneril dan Regan mencintai ayahnya sejauh tepian kepentingan. Mereka memandang ayahnya sebagai sekutu dalam merengkuh impiannya sebagai penguasa baru. Tidak lebih dari itu.

Ego Sang Raja pula yang membutakannya dari ketulusan Cordelia, yang mencintainya secara alami. Cinta seorang anak kepada ayahnya, yang alamiah dan tanpa syarat. Dalam kondisi apa pun, ia akan mencintai ayahnya kendati tak lagi bermahkota raja.

Kedua, Raja Lear gagal memahami “bahasa maksud”. Janji mendapatkan kekayaan yang banyak bila menunjukkan rasa cinta yang besar telah memabukkan Goneril dan Regan, sehingga memilih kata-kata palsu dan menipu. Raja Lear bukan hanya gagal memahami maksud terselubung Goneril dan Regan, tetapi juga tidak dapat membaca sikap diamnya Cordelia, sebagai bentuk protes atas kepura-puraan kakaknya, sekaligus penolakan atas sikap ayahnya yang memercayai kebohongan yang jelas.

Dramaturgi politik



Perangkap bahasa yang menjebak Raja Lear bisa dialami para pemilih ketika berkomunikasi dengan para kandidat yang memburu kuasa. Mereka tampil dalam balutan dramaturgi yang luar biasa. Mereka bisa mengatakan sesuatu yang tidak mereka maksudkan, sambil menyembunyikan maksud yang sebenarnya.

Cobalah mereka yang bernafsu memburu jabatan gubernur, bupati/wali kota tanya, "Mengapa Anda mengejar jabatan itu?" Mereka akan berputar-putar mencari alasan dan pembenaran moral, namun tidak akan pernah secara jujur mengatakan "Karena saya menginginkan jabatan".

Pengejaran jabatan seakan pantang diucapkan, bahkan sekadar diketahui pun dianggap cela. Itulah sebabnya, para kandidat bukan hanya mengenyahkan ikon pemburuan kekuasaan, tetapi juga menampilkan diri dalam cara-cara yang dikesani sebagai pejuang yang berpijak pada landasan moral yang sahih. Maka tak heran, baju Muslim dan peci menjadi pilihan utama ketika nampang di baliho, lengkap dengan gambar tokoh yang dinisbatkan sebagai ikon partai sebagai latar belakangnya. Untuk menyempurnakan dramaturgi, mereka pun tak lupa tampil dalam cara-cara yang dikesani sebagai pribadi santun, "someah", dan sedapat mungkin dipandang rendah hati.

Politik tanpa dramaturgi tak ubahnya daging tanpa garam. Karena itu, untuk menghindari jebakan politis pilihannya bukan menolak berkomunikasi, atau agar dikesani jujur, politisi memilih diam dan berhemat kata-kata. Untaian kata seperti rangkaian asam dan basa, ungkapan yang satu bisa melemahkan yang lainnya.

Kuasa kata bertepi pada pembuktian. Dalam konteks pemilihan pemimpin, kuasa kata-kata seorang kandidat bersandar pada apa yang telah kandidat lakukan sehingga mereka berdiri di depan ide-idenya, datang membagikan harapan, dan menempatkan pemilih sebagai manusia, yang memantulkan semua emosi seperti yang dia rasakan. Intensitas ketiga aspek inilah yang akan mengamplifikasi kehadirannya, dengan atau tanpa kata-kata.

Melebihi kosa kata mana pun, pemakaian bahasa politik lekat dalam balutan maksud. Maksud yang dikandung bahasa politik takkan sebening kristal, atau sesempit penjelasan kamus. Butuh kecermatan dalam memahami bahasa yang digunakan politisi dalam panggung politik, termasuk cara-cara mereka menampilkan diri. Bisa jadi, yang nampak hanya bayangan motif politisnya.

Tentu saja tidak semua pemilih secermat Cordelia dalam menyibak kepalsuan tabir politik. Namun pemilih paling lugu sekalipun akan merasakan bedanya parade kebohongan yang jujur diantara kebenaran telanjang tanpa sapuan kepura-puraan.***

Bagikan: