Pikiran Rakyat
USD Jual 14.503,00 Beli 14.405,00 | Umumnya berawan, 24.4 ° C

Delay

Karim Suryadi
Karim Suryadi

Karim Suryadi

SAYA terus bertanya-tanya ketika pada dinding  kereta bawah tanah (underground) atau yang populer dengan sebutan tube (mungkin karena moncong kepalanya menyerupai kapsul), yang beroperasi menyambungkan kota-kota di kawasan London,  tertulis sebait puisi berjudul Delay. Puisi yang ditulis Elizabeth Jennings tersebut berisi bait-bait berikut: The radiance of that star that leans on me/ Was shinning years ago./ The light that now/ Glitters up there my eye may never see,/ And so the time lag teases me with how/ Love that loves now may not reach me until/ Its first desire is spent./ The star’s impulse/ Must wait tor eyes  to claim it beautiful/ And love arrived may find us somewhere else.

Meski judulnya delay, faktanya kereta datang tepat waktu, tidak bergeser semenit pun dari jadwal. Boleh jadi, delay bercerita tentang keterlambatan apresiasi warga terhadap sesuatu yang biasa atau rutin. Regularitas tube dalam melayani warga akan membuat warga lerlambat mengapresiasi keunggulannya.

Bagi saya yang bukan sastrawan, yang bersetuju dengan gagasan medium is the message-nya McLuhan, kehadiran bait-bait puisi di dinding kereta bawah tanah (poems on the underground) tadi sudah mengandung pesan. Inilah bentuk penghargaan atas pemikiran seseorang, sekaligus menunjukan masyarakat London dan United Kingdom pada umumnya sebagai masyarakat pembaca (readers society).

Namun lebih dari sekedar menunjukan identitas warga kota, kemunculan puisi di atas kereta menunjukan komitmen pemerintah untuk hadir di saat-saat warga sedang bengong, melamun, duduk tak tenang karena bergegas atau berdesakan. Inilah totalitas pelayanan Walikota London, masyarakat bukan hanya dipermudah akses trasportasinya, tapi juga dihibur, diorangkan,  dan dididik untuk apresiatif tentang sesuatu yang positif.

Jadi ketika seorang warga naik kereta, ia bukan hanya akan dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, tapi akan dihantarkan layaknya tamu kehormatan, atau ditemani dengan penuh perhatian layaknya kekasih. Meski kereta sangat mekanis, namun pelayanannya sangat manusiawi.

Pemanfaatan waktu luang (leisure) di atas kereta difasilitasi hingga setiap orang punya pilihan untuk melakukan sesuatu yang bernilai positif. Bila Anda punya waktu tempuh satu jam, berada di dalam kereta bawah tanah yang tak menyuguhkan pemandangan luar ruang yang menarik, maka pilihan aktivitasnya tetap variatif: bisa tidur,  baca koran (yang tersedia gratis di pintu stasiun),  baca puisi, atau sekedar duduk diam.

Totalitas Wali Kota London dalam menghadirkan pilihan leisure di atas kereta bisa jadi karena moda transportasi ini dibutuhkan semua warga dan diakrabi semua kalangan. Pemerintah hadir dalam semua spot yang tiap saat diakses warga. Dari sisi komunikasi, inilah bentuk promosi yang mengambil bentuk pelayanan. Pejabat tidak hadir lewat baliho, spanduk, atau layar kaca, melainkan menancapkan kesan di benak khalayak lewat kebijakan yang dibuatnya.

Aktivitas naik kereta menjadi kegiatan rutin warga kota London dan para pengunjung kota ros tersebut. Melihat kemudahan akses dan kenyamanannya, menggunakan angkutan umum bukan hanya kebutuhan untuk membantu aktivitas fisik, melainkan aktualisasi kesadaran. Kesadaran tentang pentingya memarkir kendaraan pribadi di garasi rumah demi mengurangi beban kota, dan membebaskan diri dari kesulitan parkir, memilih jalan bebas bea, dan kecakapan membaca google map untuk memilih jalan alternatif yang bebas macet.

Ketika mata mengeja bait-bait puisi tadi, dalam benak saya terbayang bagaimana perjuangan seorang pemudik di tanah air. Ada yang memaksa naik motor berempat (membonceng dua anak dan istri, plus bagasi tambahan untuk barang bawaan) dengan dalih lebih murah dan mudah. Ada yang berebut naik bis dengan resiko disergap kemacetan yang menggila. Ada yang memilih naik kereta atau pesawat udara, namun terpaksa harus menunggu dengan duduk-duduk atau rebahan di lantai karena kursi di ruang tunggu terbatas.

Ini adalah fragmen yang merusak penglihatan, namun terus berulang, sebab peningkatan fasilitas transformasi baru sebatas wacana. Betul Pemerintahan Jokowi telah menggenjot pembangunan infrastruktur, namun masalah transportasi yang menahun tak bisa selesai dalam sekejap.

Inilah tugas pemerintah sebagai planner yang masih menjadi pekerjaan rumah: menciptakan beragam aktivitas bagi pengguna agar bisa memanfaatkan waktu luang secara positif. Bukan hanya ketika warga berada di stasiun, pelabuhan udara, atau terminal, tetapi juga ketika ia berada di mall, taman kota, atau ketika sedang menghabiskan waktu dengan menyusuri trotoar.  

Makin maju sebuah negara maka makin mudah mengakses fasilitas publiknya. Inilah hukum dialektika kemuliaan pajabat publik:  kemuliaan seorang pejabat publik hanya akan tampak bila ia dengan nyata memuliakan warganya.***

Bagikan: