Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 24.6 ° C

Lutung ka Bandung

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

PEMANGKU hajat adalah Java Instituut, lembaga ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Dari 17 hingga 19 Juni 1921 lembaga yang dipimpin oleh Prof. Hoesein Djajadiningrat ini menyelenggarakan kongres di Bandung. Pelindungnya, sudah pasti, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang saat itu dijabat oleh Dirk Fock. Diskusi, pameran, dan pertunjukan diselenggarakan di pendopo kabupaten dan sekitarnya. 

Salah satu acara penting dalam sesi pertunjukan adalah teater “Lutung Kasarung”. Pentas digelar pada hari kedua kongres, Sabtu, 18 Juni 1921 di pendopo. Acara dimulai sekitar jam 9 malam. Inilah pentas kesenian yang melibatkan orang penting dalam pemerintahan, bangsawan, seniman, sastrawan, ilmuwan, dan lain-lain. Regent Bandung kala itu, Wiranata Kusumah, adalah salah seorang tokoh penting di balik pertunjukan. 

Untuk ukuran masa itu, mengangkat kisah terkenal dari tradisi carita pantun ke atas panggung teater niscaya terlihat sebagai terobosan. Dalam uraiannya yang terperinci mengenai pentas tersebut, dengan nada terpukau, jurnalis dan pejabat kolonial H.J. Kiewiet de Jonge menyebutnya sebagai “sprongevolutie” (evolusi pesat).

 “Nauwelijks geboren uit een pantoenzang, schrijft dit Soendaasch toneelstuk aldus, gesterkt door Javaansche tradities, onmiddellijk de richting in der moderne wereldtheater kunst (Maka lahirlah sudah dari sebuah nyanyian pantun, pertunjukan sandiwara Sunda, yang diperkuat oleh tradisi Jawa, langsung di jalur seni teater dunia modern),” tulis De Jonge dalam buku acara kongres, Programma voor het Congres van het Java-Instituut (1921).

Lutung Kasarung adalah kisah sakral yang hidup dalam tradisi lisan Sunda berupa carita pantun. Di Tatar Sunda carita pantun adalah sejenis teater tutur, kisah langitan yang disampaikan oleh pujangga kelana yang memetik kacapi, dan biasanya dilengkapi gesekan tarawangsa. 

Adapun Kisah Lutung Kasarung, yang bercerita tentang turunnya seorang pangeran kahyangan ke bumi dalam wujud kera dan tersingkirnya seorang putri dari istana ke hutan belantara, tak dapat dilepaskan dari tradisi pertanian padi. Dalam kisah ini, bukit dibuka jadi huma, sungai dikelola buat keperluan manusia, dan padi tumbuh dalam pancaran kharisma Nyai Pohaci, Sang Bunda Padi. Dari Kanekes hingga Cirebon, terdapat sekian versi mengenai kisah ini. Tak pelak lagi, inilah kisah yang amat penting, dan lazimnya disampaikan pada waktu dan tempat yang tidak sembarangan.    

Tahun 1921 berjarak sekitar lima tahun dari saat L. Heuveldorp dan George Krugers mengangkat “Lutung Kasarung” ke dalam film pada 1926, dan sekitar 28 tahun dari saat F.S. Eringa mempertahankan disertasi tentang “Lutung Kasarung” pada 1949. 

Segera terbayang sedikitnya dua kesulitan tatkala pada 1921 minat kultural dan artistik zaman kolonial hendak mentransformasikan kisah sakral dari tradisi lisan sepenting Lutung Kasarung ke atas panggung teater. Pertama, kesulitan menyangkut presentasi, semisal peran, dramaturgi, panggung, musik, kostum, dll. Kedua, kesulitan menyangkut motif pertunjukan.  

Soal pertama niscaya menuntut kerja tim. Regent Wiranata Kusumah menyediakan pendoponya, juga berkolaborasi dengan J. Kunst buat menyiapkan musiknya. Raden Kartabrata, dengan bantuan D.K. Ardiwinata, M. Joedabrata, dan lain-lain turut menyiapkan naskahnya, tentu setelah berkonsultasi dengan kalangan jurupantun. Kostum, tata cahaya, dan banyak lagi diserahkan pula kepada ahlinya, tak terkecuali para ahli dari Technische Hoogeschool alias ITB kini. 

Adapun soal kedua dikaitkan dengan ruwatan. Waktu itu pusat pemerintahan kabupaten di Bandung baru saja mengalami renovasi, dan sebagai peresmiannya diselenggarakan ruwatan. Itulah semacam “wijdingceremonie” alias upacara peresmian menurut orang Belanda. Adat setempat rupanya tetap diingat, sedangkan pengejawantahannya disesuaikan dengan alam pikiran yang sedang dominan. Tradisi Sunda dipadukan dengan pengetahuan dan keahlian yang diserap melalui Belanda.

Hari ini, sekitar 96 tahun sejak tonil “Lutung Kasarung” dipentaskan di Bandung, kota ini terlihat masih punya semangat dalam hal ruwat-meruwat. Perhelatan seni dengan sumberdaya dan sumber dana yang terbilang besar konon bakal ada lagi. Namun, terasa ada satu hal yang sudah lama cenderung dilupakan. Itulah dasar kultural yang menopang adat setempat, khususnya yang bertautan dengan kesanggupan merawat bumi seraya menghayati pertanian padi. Lutung Kasarung sudah lama meninggalkan Bandung.***

Bagikan: