Pikiran Rakyat
USD Jual 14.603,00 Beli 14.505,00 | Umumnya berawan, 28.1 ° C

Dua Bandung

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

DALAM pandangan saya yang rabun, Bandung adalah kota dengan dua wajah. Ada wajah utara, ada pula wajah selatan. Metafora spasialnya dapat kita temukan di Stasiun Bandung. Stasiun kereta itu punya dua gerbang, di utara dan selatan. Pagar dan penjaga memisahkan keduanya. Atmosfernya tidak sama.

            Di sekitar gerbang utara, saya mencium bau roti, melihat biru taksi, dan merasakan kedataran layar sentuh pada mesin pencetak tiket. Orang-orang berpakaian bersih turun dari mobil dan bergegas menyeret koper beroda. Di sekitar gerbang selatan, saya melihat bangkai lokomotif, mendengar pengamen di pintu kedai sate serta pengeras suara dari lapak penjual video bajakan. Di tengah hiruk-pikuk angkot dari berbagai jurusan, saya mencium “prekedel bondon” serta aroma tembakau.

            Sejak abad ke-19 rel kereta yang membentang dari barat ke timur, memisahkan utara dari selatan. Utara adalah daerah Belanda, selatan adalah daerah republik. Di Utara ada kampus ITB lengkap dengan taman buat mengenang Meneer Ijzerman. Di selatan ada tugu “lautan api”, pasar Astanaanyar, dan orang mengenang Muhamad Toha, sang pahlawan dari Bandung Selatan.

            Utara tampak terlihat gaya, suka bersolek, dan agak cerewet. Galeri seni, taman, outlet busana, dan cafe, banyak betul di utara. Kongres dan konferensi, apalagi diskusi dan seminar, tak terkecuali yang berlabel “internasional”, cocok betul dengan atmosfer utara. Selatan seakan tak punya banyak peluang untuk bersikap begitu, di antara sawah-sawah yang terdesak dan cerobong-cerobong pabrik yang tiada hentinya berasap.   

            Dalam tiga pekan terakhir, lebih dari sekali, saya mondar-mandir dengan sepeda motor rongsokan antara Ledeng di Utara dan Sukarno-Hatta di Selatan. Buat saya, itu adalah perjalanan menurun, seperti meluncur dari lereng gunung ke lembah, dan merasa amat gugup manakala saya masuk ke jalur bypass di antara begitu banyak kendaraan bermotor yang belingsatan seperti sedang kesurupan. Berangkat pagi, pulang sore. Perubahan hawa dari panas ke dingin terasa ketika saya masuk ke Cipaganti, di antara pokok-pokok mahoni. Saya merasa sedang mendekati kesejukan utara dan menjauhi kegersangan selatan.

            Tentu, panorama tak selalu tampak hitam-putih. Lagi pula, oposisi biner sering hanya ada dalam logika. Dalam hidup sehari-hari yang saya alami, sering saya melihat leburnya kedua atmosfer itu. Tetangga saya, seniman Kang Tisna Sanjaya, misalnya, kiranya dapat disebut sebagai tubuh selatan yang terjebak di utara. Ia sering berpaling ke Cigondewah, membuka “pusat kebudayaan” yang dikelilingi bekas lahan sawah yang telah jadi tempat pengolahan limbah plastik, dan ia tinggal di Ledeng serta mengajarkan seni rupa di ITB.

             Jelekong tak kalah menariknya. Di situ lukisan pemandangan bergaya Hindia Molek dibuat dari rumah ke rumah, dari masa ke masa. Lukisan-lukisan itu lalu diboyong ke Jalan Braga, mengalami semacam branding dan sangat mungkin memikat perhatian turis-turis asing. Jelekong ikut mendefinisikan Braga. Pada beberapa lukisannya, Kang Tisna memberi ruang bagi semacam jejak-jejak Jelekong berupa citraan pohon kelapa dan punggung gunung.  

             Saya bukan orang yang tepat untuk ikut mengomentari tata kota. Namun, sering saya merasa tidak ada dialog utara dan selatan. Kesibukan Bandung mematut diri, pada hemat saya, cenderung memusat di utara, khususnya di sekitar pendopo dan balai kota. Selatan, juga timur, seakan-akan hanya lampiran.

             Baiklah, itu semua cuma kesan dari pandangan yang rabun. Bandung barangkali akan terus menampilkan wajah ganda, selatan dan utara. Saya sendiri, sebagai penduduk utara Kota Bandung, pekan ini mau ikut berkumpul dengan sesama pengendara sepeda motor di Baleendah, Kabupaten Bandung, untuk bersama-sama pergi ke wilayah yang lebih selatan lagi.***

Bagikan: