Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan, 22.4 ° C

Kembali ke Alunalun Bandung

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

DALAM Peta Kota Bandung yang diterbitkan tahun 1933, ditulis dengan sangat jelas Oost Aloenaloen, Alunalun Timur, Alunalun Barat, dan Alunalun Selatan. Pemerintah kolonial saat itu sudah membuat rencana besar jantung Kota Bandung yang akan terus berdenyut memompa darah spirit sebagai warga Kota Bandung yang penuh damai, riang, kreatif, sehingga warganya terus mencipta, terus berkarya, yang menjalar ke ke berbagai sudut kota.

Alunalun sebagai jantung kota merupakan pusaka, karena sejarah mulajadi kota ini berangkat dari alunalun. Olehkarena itu, siapa lagi yang akan mempertahankan nilai pusaka suatu kawasan, bila tidak diperjuangkan oleh warganya? Otoritas Negara justru tidak peduli dengan spirit Kota Bandung, yang mempunyai naluri dasar selalu bergandengan tangan secara damai untuk kemajuan warga kota dengan menjunjung kejujuran berkreasi demi nilai kemanusiaan.

Ingatan akan kota ini dimulai dari alun-alun. Dan bila ingatan akan kotanya dengan sengaja dihilangkan dengan membangun gedung-gedung yang sesungguhnya di lahan milik publik, milik warga Kota Bandung, milik warga Jawa Barat, maka lahan publik itu dijadikan alat untuk mendapatkan uang, tapi dengan merampas hak-hak warga kota untuk mendapatkan lingkungan yang nyaman, merampas hak warga kota untuk mempunyai tempat yang nyaman untuk beristihatat, berkumpul, bercengkerama, membaca, atau makansiang di luar gedung setelah 4 jam berada di ruangan berac.

Berapa miliar otoritas Negara mendapatkan uang dari sewa lahan itu selama berapa puluh tahun, namun berapa triliun, kalau diuangkan, mungkin lebih, warga kota telah kehilangan pohon yang menghasilkan oksigen setiap waktu. Berapa triliun kalau dirupiahkan sekian juta warga kota yang riang gembira di taman kota, dan keuntungan lainnya, yang tak ternilai, dan uang sewa lahan itu menjadi sangat kecil artinya bila dibandingkan dengan nilai kemanusiaan yang akan menjadi spirit warga kota.

Oleh karena itu ada kegembiraan ketika gedung bekas gedung Palaguna itu dibongkar. Ada harapan yang bermekaran, semoga lahan yang dirancang sebagai Alunalun Timur oleh penjajah, yang oleh bangsa ini sering disebut sebagai penghisap darah dan predikat buruk lainnya, ternyata mereka sudah membuat rencana besar yang sangat baik bagi lingkungan hidup dan nilai kemanusiaan.

Di Alunalun selatan sudah dibangun pendopo, dan di sebelah selatannya sudah dibangun gedung perkantoran milik Kabupaten Bandung. Di samping pendopo sudah berdiri bank dengan bangunan bertigkat. Di Alunalun Timur kemudian dibangun gedung bioskop, lalu berganti menjadi mall, dan sekarang semua gedung itu sudah dibongkar.

Sebelah utara alunalun kini sudah berdiri bangunan bertingkat, sehingga kalau pagihari berada di alunalun, sudah tidak dapat lagi melihat Gunung Tangkubanparahu, gunungapi yang banyak menginspirasi warga Kota Bandung, dan sudah memberikan kesegaran udara dan air yang jernih. Sebelah barat sudah ada masjid agung dan Swarha.

Konon, di alunalun timur, lahan bekas Palaguna itu lahannya akan disewakan beberapa puluh tahun, akan dibangun gedung-gedung bertingkat dengan tujuan murni komersial.

Bila itu menjadi kenyataan, berdiri gedung-gedung bertingkat di alunalun timur, akibat otoritas Negara tidak berpihak kepada warga kota, maka Alunalun Bandung akan seperti dasar sumur kering berbentuk persegi. Gedung-gedung yang murni komersial, pasti sangat menghindari kerumuman massa. Terbayang kawasan itu menjadi kawasan yang steril dari warga kota kebanyakan. Akan terlihat ramai yang berdatangan untuk tujuan bisnis atau berobat, tapi semua dalam diam, dalam mulut yang rapat, sepi, tidak adak keceriaan.

Dampak sosial lain bila gedung-gedung tinggi itu terus diizinkan dibangun di Kota Bandung, maka suhu lingkungan akan terus meningkat semakin tinggi. Selain dampak dari efek pantul dari dinding gedung, apalagu memakai dinding kaca, juga dari buangan ac, yang akan terhimpun menja dipulau-pulau panas di pusat kota. Sungguh mengerikan dampak semakin banyaknya pulau-pulau panas di pusat kota, selain berdampak fisik, juga berdampak sosial.

Dengan suhu udara di perkotaan yang semakin panas maka kerja jantung akan bertugas semakin berat untuk memompa darah lebih cepat, karena harus menyesuaikan dengan suhu di luar tubuhnya, dengan ciri, orang itu akan keringetan. Bila itu yang terjadi, maka orang itu tidak dapat ber konsentrasi secara baik. Konsentrasi yang menurun sangat berhubungan dengan prestasi pelajar yang akan menurun, dan bila karyawan, maka prestasi kerjanya akan menurun. Dan yang paling dikhawatirkan adalah dampak panas kepada sikap warga kota menjadi beringas.

Oleh karena itu, mengembalikan alunalun timur kembali menjadi lahan milik warga kota, milik publik merupakan itikad dan bakti yang mulia, yang menjunjung tinggi nilai-nilai alam dan kemanusiaan. Lahan itu sangat bermanfaat bila dijadikan taman kota yang nyaman untuk berkumpulnya warga kota di bawah naungan pohon-pohon besar. Di taman kota inilah warga kota akan melakukan interaksi sosial yang membawa pesan damai, di tempat yang dibangun nyaman untuk berkegiatan di luar ruangan antara pukul 10.00-16.00.*

Bagikan: