Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 28.3 ° C

Gunung Ijen

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

DINI hari, rombongan-rombongan kecil itu sudah mulai meninggal Paltuding, ketika suhu di lembah di kaki Gunung Ijen itu sangat dingin. Rupanya dorongan untuk menyaksikan api biru dari dekat telah mengalahkan rasa kantuk dan dingin. Memang, atraksi alami api biru di dasar kawah Gunung Ijen itu sedang menyedot minat banyak kalangan.
Paltuding yang berada di lembah antara Gunung Ijen dan Gunung Rante, baik dari arah Bondowoso maupun dari Banyuwangi menjadi tempat akhir berkendara, dan titik awal untuk menuju bibir kawah Gunung Ijen yang akan dicapai setelah berjalan kaki selama 3 jam. Bagi yang berminat untuk menyaksikan api biru, perjalanan dilanjutkan menuruni lereng dalam kawah sampai di dasar kawah, dengan kemiringan yang sangat terjal.

Kawah Ijen sangat populer di kalangan peminat wisata bumi. Namun harus tetap waspada, sebab bila turun samapai dasar kawah pada saat subuh, beragam gas gunung api belum terurai oleh Matahari. Bila angin menghembuskan uap belerang yang pekat, wisatawan yang turun ke dasar kawah harus sudah mengetahui tindakan apa yang akan dilakukan, misalnya dengan menempelkan kain atau handuk yang sudah dibasahi.

Danau kawah Gunung Ijen yang melingkar indah, ukurannya 960 x 600 meter, dengan bagian terdalam mencapai 200 meter. Air danau kawahnya tercatat sebagai air danau gunung api terasam, pH-nya kurang dari 0,2. Air super asam inilah yang menjadi hulu Kali Banyupait, kemudian mengalir ke hilir, bercampur dengan anak sungai lainnya seperti dengan air panas Blawan, Kali Sat, dan Kali Sengon, kemudian nama sungainya berubah menjadi Kali Banyuputih yang bermuara di Selat Madura.

Karena air sungainya masih mengandung belerang yang sangat asam, berdampak bagi kesehatan masyarakat, yang secara langsung memanfaatkan air sungai itu. Dampak yang paling terlihat adalah gangguan dan kerusakan gigi.

Gunung Ijen merupakan satu dari 22 kerucut gunung api yang lahir setelah terbentuknya kaldera Gunung Kendeng. Disebut kaldera karena diameter kawahnya lebih dari 2 kilometer. Gunung Kendeng atau Gunung Ijen Tua sebelum meletus dahsyat antara 300.000-50.000 tahun yang lalu, tingginya mencapai lebih dari 4.000 meter. Pada saat letusan, tekanan gasnya sangat tinggi, mendorong dan menghamburkan material vulkanik sebanyak 80 kilometer kubik, hingga terjadi kekosongan di perut gunung. Akibatnya, bagian atas gunung tidak kuat lagi menyangga beban, lalu ambruk, membentuk kaldera dengan diameter antara 14-16 kilometer. Ketebalan material letusannya antara 100-150 meter, dengan penyebaran paling luas di lereng utara kaldera.

Material letusan yang berupa abu, pasir, dan lahar, mengisi dasar kaldera, menyebabkan terbentuknya lapisan yang tidak dapat ditembus oleh air. Curah hujan yang tinggi di dalam kaldera, kemudian menjadi danau kaldera yang luas.

Di tempat yang kini dialiri Kali Banyuputih yang memotong dinding Kaldera Kendeng dengan arah utara-selatan, kawasan inilah yang menjadi zona lemah, karena sebelum danau ini terbentuk pun sudah terdapat Sesar Pedati. Erosi yang sangat kuat di sepanjang Sesar Pedati itu telah menggerus dinding kaldera secara kuat hingga mencapai permukaan danau kaldera purba Kendeng. Kegiatan di sepanjang Sesar Pedati yang dibarengi erosi yang kuat, menyebabkan kawasan Blawan ini menjadi tempat pembobolan danau Kaldera Kendeng. Akhirnya air danau surut dan kering. Di bagian terendah dari dasar kaldera ini, erosinya sangat tinggi menggerus lapisan danau yang lunak hingga mencapai batuan dari material letusan Gunung Kendeng yang mengalasi danau purba ini.

Adanya endapan danau dengan ketebalan lebih dari 50 meter. berupa batuapung halus, pasir, dan batulanau, yang luasnya lebih dari 20 kilometer persegi, mencirikan bahwa kaldera ini pernah tergenang cukup lama, antara 300.000-50.000 tahun yang lalu.

Dinamika kulit bumi terus berlangsung, tekanan tektonik yang kuat membentuk Patahan/Sesar Blawan, Sesar Watucapi, dan Sesar Kukusan yang berarah barat daya-timur laut. Peristiwa bumi yang terjadi di sesar ini telah memicu terbentuknya kerucut gunung api pascapembentukan kaldera, seperti lahirnya Gunung Merapi dan Ijen di sisi timur, dan Gunung Raung di bagian barat.

Kini, di atas endapan danau itu, atau di dasar kaldera Gunung Kendeng, sudah dihuni banyak warga dengan berbagai aktivitasnya, seperti yang bermukim di Desa Blawan dan sekitarnya. Air terjun yang terdapat di sana menjadi salah satu daya tarik wisata, sehingga ada warga yang berinisiatif menyediakan rumah tinggal bagi para pelancong.

Bagian dinding kaldera yang terlihat jelas terdapat di bagian utara, melengkung sepanjang 18 kilometer, biasa disebut Gunung Kendeng. Dinamai kendeng (e dilafalkan seperti melafalkan kata emas), secara harfiah berarti urat, tali busur, panjang, baris, atau jajar. Jadi, nama geografi Gunung Kendeng mempunyai makna rangkaian gunung yang memangjang laksana urat bumi. Rangkaian gunung yang berjajar memanjang sambung- menyambung.

Dengan lereng kalderanya yang curam, terutama di bagian tengah dan timur, tingginya antara 200-360 meter, dan melandai ke arah barat, sehingga menjadi jalan masuk ke dasar kaldera dari arah Bondowoso. Dinding kaldera bagian barat, selatan, dan timur, sudah tidak terlihat lagi, karena sudah menjadi gunung-gunung yang lahir setelah Kaldera Kendeng terbentuk, seperti: Gunung Suket (+2.950 meter), Gunung Jampit (+2.338 meter), Gunung Rante (+2.644 meter), Gunung Merapi (+2.799 meter), dan Gunung Ringgit (+1.965 meter).

Di bagian dalam kaldera lahir kerucut-kerucut gunung api, seperti: Gunung Mlaten, Gunung Lingker (+ 1.630 m), Gunung Gendingwaluh (+1.519 meter), Gunung Cemara (+1.784 meter), Gunung Anyar (+1.276 meter), Gunung Genteng (+1.712 meter), Gunung Pendil (+2.375 meter), Gunung, Cilik (+1.872 meter), Gelaman (+1.726 meter), Kukusan (+1.994 meter), Gunung Blau (+1.774 meter), Gunung Pawenen (+2.123 meter), Gunung Papak (+2.099 meter), Gunung Widodaren (+2.100 meter), Gunung Ijen (+2.386 meter), Gunung Papak (+2.203 meter), dan Gunung Kunci (+1.788 meter).

Keragaman bumi Kaldera Kendeng merupakan pusaka bumi yang harus diolah dan disajikan menjadi informasi tentang keragaman bumi, merupakan upaya sosialisasi ilmu-ilmu kebumian secara nyata dan langsung dan sampai kepada wisatawan di tempat peristiwa kebumian itu terjadi.***
Bagikan: