Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 20.9 ° C

Milu Mijah

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

BAHASA ibu saya mengajarkan agar orang tidak suka ikut-ikutan. Salah satu ungkapan yang tetap saya ingat adalah “lauk buruk milu mijah”. “Lauk” adalah istilah untuk “ikan”, sedangkan “mijah” bisa berarti banyak aksi. Ungkapan itu bisa tertuju kepada perilaku orang yang ikut-ikutan heboh dalam urusan orang lain atau dalam perkara yang tidak sepenuhnya dia pahami. Dalam ungkapan khas penyair Sayudi, itulah perilaku “burayak milu nenggak”.

Sebutan lauk buruk itu sendiri, pada hemat saya, belum tentu berkonotasi buruk. Paling tidak, sebutan itu bisa mengingatkan kita akan pentingnya berendah hati. Menganggap diri kita teri atau rebon, yang menimbulkan kesan kecil dan hina dina, belum tentu merupakan pertanda rendah diri. Lagi pula, apa anda bisa tidur nyenyak sekiranya anda menganggap diri anda hiu, paus, kakap, todak, atau sekurang-kurangnya lobster?

Sebagai lauk buruk, ikan yang hina dina, saya sendiri selalu berupaya untuk tidak mudah percaya atau tidak gampang terhasut. Hidup sudah hina dina begini, tak usahlah dibikin tambah susah. Kalau hiu-hiu sedang bertarung, jika todak-todak saling menistakan, itu urusan mereka. Mengapa pula rebon yang hina dina ini mesti ikut-ikutan? Enak saja kalian. 

Kalaupun sebutan lauk buruk dianggap berkonotasi buruk, hal itu tidak mengurangi simpati saya terhadap makhluk hina dina ini. Sekurang-kurangnya, dengan tetap berupaya agar tidak mudah diajak “milu mijah”, saya tidak memperburuk keadaan saya sebagai “lauk buruk”. Hidup bisa dibikin lebih sederhana tanpa aksi ini dan itu. 

Memang, hari ini, ketika media sosial atau media kerumunan --- atau apalah namanya --- kian dominan, godaan untuk “milu mijah” terasa kian menjadi-jadi. Lagi pula, kita sendiri kian gandrung pada salurannya, yakni perangkat pintar yang ringan dijinjing dan mudah dibawa. Kita kian jatuh cinta kepada gawai. Layaklah kita disebut “pegawai”, yakni orang yang kerjanya menyentuh gawai. Dengan perangkat komunikasi dalam genggaman, di tengah pusaran kontes demagogi, hidup kita jadi penuh dengan hasutan, sejak saat bangun tidur hingga saat tidur lagi.   

Di tengah dunia yang tiada hentinya berkecumik, hal tersulit untuk dilakukan adalah menjadi pendiam. Sepertinya kita begitu khawatir mendapat julukan “apatis”, “kurang gaul”, “tidak update”. Jika terkena predikat demikian, seakan-akan kita mengalami kematian perdata. Seolah-olah kita sedang meyakini bahwa “hidup adalah abring-abringan”.

Sebagai pegandrung gawai, saya sendiri sering merasa bahwa situasi komunikasi hari ini tak ubahnya dengan percakapan di pinggir jalan raya yang lalu-lintasnya bukan main ramainya. Percakapan itu terpatah-patah, putus-nyambung tidak karuan, sebab tiap sekian saat kita terpaksa membiarkan kebisingan knalpot, klakson, dan sirene menguasai segalanya.

Di tengah kebisingan politik abring-abringan, di tengah pusaran kekacauan sentimen, barangkali kita merasa sedang merealisasikan apa yang disebut “partisipasi”. Padahal, bisa jadi, apa yang kita lakukan hanyalah membiarkan diri tersedot ke dalam pusaran “mobilisasi”. Suara kita hanya memperbesar gemuruh keplok bagi segelintir pesolek yang tidak tahan jika harus hidup kesepian. 

Segera terasa adanya dua tarikan, antara gairah menonjolkan diri personal --- melalui swafoto atau cara lain --- dan gairah melenyapkan diri ke dalam gelembung massa. Beberapa teman saya kelihatannya mendapatkan cara yang ganjil untuk mendamaikan kedua betotan itu, yakni dengan membuat swafoto berlatar belakang situasi demonstrasi di Jakarta. Sewaktu mendapat kiriman foto-foto itu, saya seakan sedang mendengar pernyataan berbunyi, “Ini aku, bagian kecil dari lautan demonstran.”

Betapapun, lagi-lagi sebagai lauk buruk, saya tidak sampai antusias dibuatnya. Saya hanya memandangi salah satu foto yang masuk lewat akun WhatsApp. Pakaian sang teman terlihat bersih, senyumnya merah menyala, dan wajahnya dihiasi kacamata hitam. Tugu Munas tampak tegak persis di balik punggungnya, seakan-akan jalan yang akan segera membawanya ke langit. Saya merasa sedang kehilangan teman. 

Anda mungkin menyangka saya ingin segera melemparkan gawai ke kawah Tangkubanparahu dan menutup telinga dengan kapas. Jangan salah sangka. Saya justru sedang berupaya mencintai gawai dengan cara saya sendiri, yakni dengan menyadari bagian-bagian yang buruk dari tabiatnya supaya tidak sampai mengurangi kebaikannya.

Sederhananya, antara lain, perangkat informasi dan komunikasi saya manfaatkan buat memungkinkan diri saya melanjutkan hidup sehari-hari, tidak merepotkan orang lain, dan leluasa mengurus diri sendiri. Adapun media pertemanan sedapat mungkin tidak dipakai buat mengobarkan permusuhan. Singkatnya, bukan untuk “milu mijah”.***

Bagikan: