Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Cerah berawan, 25.6 ° C

Pangandaran

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

WISATA di Kabupaten Pangandaran itu seperti pasar yang menyediakan banyak pilihan wisata, seperti wisata pantai, wisata gua, dan aliran sungai, yang menyuguhkan banyak daya tarik. Beragamannya atraksi wisata alam semakin memperkuat daya tarik. Atraksi utama wisata Pangandaran masih tetap, pantai yang aman untuk berenang, karena terlindung oleh kawasan konservasi Pananjung seluas 532 hektare. Ombak di pantai selatan Pulau Jawa yang terkenal dengan hantamannya yang kuat, energinya nyaris dihabiskan saat menghantam sisi selatan Pulau Pananjung. Ombak kemudian melemah di balik pulau, sehingga menjadi tempat yang aman untuk berenang.

Menurut TO Simandjuntak dan Surono (1992) dalam Peta Geologi Lembar Pangandaran, antara 34-23 juta tahun lalu, kawasan Pangandaran ditutupi material letusan gunung api yang lebarnya antara 15-20 kilometer. Karena dinamika bumi yang terus berlangsung, secara evolutif terjadi pengangkatan kawasan Pangandaran secara regional. Dalam perjalanan waktu, juga terjadi penurunan selebar kurang lebih 6 kilometer, termasuk satu per tiga Pulau Pananjung bagian utara, sehingga antara yang terangkat dan yang turun, secara evolutif membentuk cekungan dengan beda ketinggian sekitar 300 meter. Ke dalam cekungan itu air laut masuk, menyatu dengan laut di sekitarnya, sehingga bagian yang terangkat di selatan menjadi pulau tersendiri, kemudian dinamai Pulau Pananjung yang terpisah dari pulau induknya yang sekarang dinamai Pulau Jawa.

Kira-kira 4-5 kilometer dari ujung utara Pulau Pananjung, rona buminya sangat datar. Wisatawan akan merasakan keadaan ini, pada saat memasuki jalan yang mengarah utara-selatan, mulai gerbang karcis masuk sampai ke arah pantai di selatan, yang di kiri kanannya sudah dibangun permukiman, dan semakin ke selatan semakin banyak didirikan penginapan, hotel, dan rumah makan. Kawasan yang sudah padat inilah yang pernah tergenang laut dangkal yang jernih antara 34-17 juta tahun lalu.

Ketika tergenang laut dangkal yang tenang dan jernih itulah di sisi utara "Pulau Pananjung" tumbuh binatang koral. Setelah terumbu itu tumbuh jutaan tahun sambil terangkat ke permukaan secara evolutif kemudian mati, terus mendapatkan pengaruh dari panas matahari dan air hujan yang melarutkan batu karang. Jejak peninggalannya berupa batu gamping terumbu di Pulau Pananjung bagian utara, yang umurnya sekitar 17 juta tahun yang lalu.

Koral terangkat ke permukaan kemudian mati, menjadi batu gamping terumbu setebal kurang-lebih 80 meter, lalu berbagai tumbuhan hidup di atasnya. Akar-akar pohon membawa air hujan meresap jauh ke dalam, melarutkan batu kapur secara perlahan. Selama jutaan tahun, batu kapur yang melarut itu membentuk celah, rongga, kemudian melarut lebih besar menjadi gua-gua kapur.

Sementara di bagian selatan Pulau Pananjung tidak terdapat gua kapur karena batuan penyusunnya berupa material gunung api purba. Deburan ombak dari arah Samudra Hindia yang kuat, merontokkan bagian yang lemah, membentuk ceruk, lorong yang semakin panjang membentuk gua pantai. Ketika gua terus membesar, sementara atap guanya tak kuat lagi menahan bebannya sendiri, maka atap gua itu akan ambruk, meninggalkan bentukan yang terpisah. Bagian yang lemah akan dihancurkan, sementara bagian yang kuat akan bertahan, membentuk apa yang dikenal dengan sebutan stack. Karena bentuk stack-nya menyerupai layar, maka batu tegak itu dinamai Batulayar.

Setelah gelombang dari Samudra Hindia itu menghantam sisi selatan Pulau Pananjung, energi ombaknya melemah di sisi barat dan timur pulau, dan semakin melemah di bagian belakang pulau. Proses inilah yang telah mengendapkan material berupa lumpur, pasir, dan kerikil, kemudian menyambungkan kembali Pulau Pananjung dengan Pulau Jawa yang pernah terpisah, disebut tombolo. Sekarang, di permukaan tombolo itulah dibangun jalan, hotel, rumah makan, dan fasilitas wisata lainnya. Setelah tombolo, terbentuklah pantai yang melengkung di kedua sisinya, di sebelah timur dinamai Teluk Pangandaran dan di sebelah barat dinamai Teluk Parigi.

Sepajang pantai di Kabupaten Pangandaran berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, tempat lempeng Samudra Indo-Australia menunjam lempeng benua Erasia. Karenanya, kawasan wisata pantai yang indah ini tidak lepas dari pengaruh peristiwa alam seperti gempa bumi tektonik yang dapat memicu tsunami. Kenyataan ini pernah terjadi ketika gempa bumi tanggal 17 Juli 2006 dengan kekuatan 6,8 pada skala Richter, yang memicu tsunami yang meluluhlantakkan bangunan serta penghuninya. Di pantai-pantai yang tidak memiliki sabuk hijau, terbukti menderita kerusakan paling parah.

Belajar dari kejadian tsunami, seharusnya bangunan dirancang agar dapat melindungi pengunjung dan masyarakatnya. Hal yang sangat mendesak untuk segera dilakukan adalah membuat sabuk hijau, menjadikan hutan pantai yang rindang dengan naungan. Fungsinya, selain menjadi sabuk hijau yang dapat melemahkan hantaman tsunami dan melunakkan udara pantai, juga menjadi jalur sepeda dan pejalan kaki.***
Bagikan: