Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Berawan, 22 ° C

Balon dan Paslon

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

HAL terpenting yang saya catat dari forum debat calon gubernur Jakarta adalah "paslon". Istilah ini bukan kata baru. Setidaknya, sejak politik di Indonesia ramai dengan pemilihan kepala daerah dan presiden, penutur bahasa Indonesia sering memakai istilah ini. Melalui forum itu, istilah "paslon" kedengarannya tambah populer, setidaknya dalam dua pekan terakhir. 

Pertama-tama, saya tertarik oleh bunyinya yang mengingatkan saya kepada istilah Arab "faslun". Dalam kegiatan membaca dan menafsirkan kitab klasik di madrasah atau pesantren, lazim kita dengar tiap-tiap uraian diawali dengan ungkapan "faslun fi..." dan seterusnya, yang segera diartikan oleh mentor menjadi "ari ieu pasal halna mertélakeun... (adapun pasal ini berisi uraian tentang...)" dan seterusnya. 

Tentu, istilah paslon merupakan akronim dari "pasangan calon". Lagi-lagi, kita diingatkan bahwa politik memang cenderung menyunat apapun, tak terkecuali kata-kata. Di gelanggang rebutan kekuasaan, akronim bermunculan. Mungkin tidak berlebihan jika kita katakan bahwa kekuasaan cenderung menyunat kata, dan kekuasaan yang absolut niscaya menimbulkan akronim yang absolut pula.

Saya tidak tahu sebab-musabab akronim yang dipilih bukan, misalnya, "pascal" atau "nganlon", melainkan "paslon". Kalau boleh menduga-duga, saya ingin mengatakan bahwa dipilihnya istilah "paslon" dalam gelanggang pemilu tidak punya sangkut paut dengan pengaruh Arab dalam politik Indonesia. Setidaknya, istilah "paslon" diawali dengan huruf "p", sedangkan istilah "faslun" dimulai dengan huruf "f". 

Bunyi "on" juga terdapat dalam akronim politik lain yang tak kurang menariknya, yakni "balon". Akronim yang satu ini berasal dari "bakal calon". 

Sejumlah komentator telah mempersoalkan istilah "bakal calon" sehubungan dengan kandungan artinya yang terbilang ajaib. Kalau dipikir-pikir, kandungan arti kata "bakal" dan "calon" dapat dibilang sami mawon. Bakal itu calon. Calon itu bakal. Paling tidak, calon mayat berarti bakal mati.

Betapapun, dalam urusan politik "balon", saya sendiri tidak punya keberatan apapun. Pasalnya, Kamus Besar Bahasa Indonesia menerangkan bahwa salah satu arti kata balon diserap dari bahasa Jawa. Anda tahu artinya kan? Ya, menurut si empunya kamus, kata serapan balon berarti "pelacur".

Kalau kita perhatikan balada kedua istilah itu, tampaknya di antara "balon" dan "paslon" terbentang proses yang muskil. Jika nasib Anda masih penuh dengan ketidakpastian, dan Anda harus seruduk sana seruduk sini mencari pinangan, kiranya Anda layak disebut "balon". Begitu ketidakpastian anda sedikit berkurang, sudah ada kubu yang siap mengusung potret Anda ke berbagai penjuru, apalagi setelah Anda dan rekan Anda mendapat restu dari KPU, kiranya anda patut disebut "paslon".

Jika anda sudah duduk di deretan paslon dalam siaran televisi, Anda diharapkan terampil bersilat lidah. Istilahnya "debat". Terserah Anda, gayanya mau bagaimana. Mungkin Anda memilih gaya deklamator pemula yang harus menghafal kata-kata. Boleh jadi Anda memilih gaya sedikit urakan, menyampaikan pesan tanpa banyak hiasan. Mungkin juga Anda memilih gaya ceramah yang tertib.

Namun, ingat, wahai para paslon, setiap giliran bicara mesti singkat, tidak boleh bertele-tele. Silakan saudara-saudara berargumen, tapi hanya dua menit, bahkan lebih singkat lagi. Itulah debat versi televisi. Durasinya ketat, diselingi banyak iklan. Cicero dan Socrates bisa-bisa bangkit dari liang kubur.

Syukurlah, sejauh yang terlihat pada layar televisi, forum debat di Jakarta itu dipungkas dengan swafoto semua paslon. Dan pemenangnya adalah: Ira Koesno.***

Bagikan: