Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Sebagian berawan, 20.4 ° C

Pantai Sawarna

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

OMBAK yang pecah menghantam Pantai Sawarna, merupakan atraksi kolosal yang tak memboskan. Wisatawan yang datang ke pantai yang jaraknya 150 km. dari Kota Serang, atau 45 km. dari Kota Palabuanratu ini pada umumnya mendapatkan informasi dan rekomendasi dari teman atau saudaranya.

Derasnya kunjungan wisatawan pasti membutuhkan penginapan, sehingga warga berinisiatif menyewakan kamar, bahkan sebagian rumahnya. Setiap akhir pekan terjadi lonjakan wisatawan, dan mencapai puncak kunjungan pada akhir tahun atau pada libur hari raya. Banyaknya wisatawan ini telah mendorong warga untuk membuat “rumah tinggal” yang disediakan khusus untuk menginap para pengunjung. Namun sayang, inisiatif warga itu tidak mendapatkan arahan perencanaan yang matang. “Rumah tinggal” tidak ditata dengan baik, misalnya pengaturan jalan atau gang, gaya bangunan yang tidak memiliki kekhasan, arah hadap bangunan, dan hanya sedikit yang menyediakan fasilitas parkir motor atau sepeda.

Dari tempat parkir kendaraan menuju pantai Sawarna atau Tanjunglayar, wisatawan harus berjalan kaki atau naik ojeg sejauh 2 km melewati jembatan gantung di atas Ci Sawarna.

Nama geografi Sawarna, sangat mungkin berasal dari kata suwarna, seperti pada kata suwarnabhumi, yang berarti tanah emas. Di Jawa Barat, ada nama geografi Ciemas, sama dengan suwarna, berarti tanah emas, karena memang di dalam tanahnya mengandung emas, atau dapat juga berarti kawasan itu bernilai emas, bila dikelola dengan baik dan berkesinambungan untuk kesejahteraan warganya. Perubahan pengucapan dari kata  su menjadi sa, dalam masyarakat yang masih kuat dalam tradisi lisan, sudah lazim terjadi, seperti dari kata: suwala menjadi sawala, surasa menjadi sarasa, sumeru menjadi semeru, surak menjadi sorak, sungsung menjadi songsong, dan lain-lain.

Pesona Tanjunglayar dengan batu berbentuk layar yang tegak berdiri di antara pantai dan laut. Batulayar terlindung dari deburan ombak, karena ada benteng alami berupa batuan yang keras di sisi selatannya. Ketika pasang surut, dasar batulayar dapat dilalui, dan akan tergenang pada saat pasang naik. Batu yang mirip layar perahu bila dilihat dari tengah laut itu sangat menarik untuk difoto, terutama menjelang pagi dan petang. Sinar mentari pagi yang menyorot batulayar akan memancarkan warna keemasan. Pada petang menjelang malam, lembayung akan membersitkan warna merah kekuningan dengan siluet batulayar.

Tanjunglayar, tempat batulayar berada, batuannya bukan terdiri dari batu karang seperti pada umumnya batuan di pantai, tapi berupa breksi atau konglomerat aneka bahan, tuf, lava, dan batuan terubah. Kekhasan batuan di Tanjunglayar inilah yang menjadikan kawasan ini menjadi sangat berarti, dan perlu ditetapkan sebagai Cagar Bumi. Batuannya berupa endapan turbidit dari Formasi Cimapag, berupa endapan atau batuan yang terendap dari arus keruh, yang terjadi antara 22,5 – 17 juta tahun yang lalu, seperti yang terekam dalam lapisannya yang tersusun. Deburan ombak menghancurkan bagian yang lemah. Ombak yang datang dari samping menggerus, membentuk ceruk, membentuk gua pantai, yang akan terus membesar, kemudian atap guanya ambruk, menyisakan, yang semula dinding luar akan membentuk bongkah raksasa yang terpisah. Ombak akan menggerus bongkah ini, dan bila bentuknya menyerupai layar perahu, maka disebutlah batulayar.

Dari batulayar di ujung Tanjunglayar, bila melepas pandang sejauh 4 km ke arah barat, akan terlihat Karangbokor. Semula, Karangbokor pun bersatu dengan ujung karang di pulau induknya. Secara evolutif, ombak menghantam batugamping anggota dari Formasi Citarate, yang berupa batugamping, napal, dan batupasir, kemudian membentuk ceruk, membentuk goa laut, yang lama-kelamaan membentuk goa yang tembus, di atasnya membentuk jembatan alami. Goa laut akan semakin membesar, dan jembatan alaminya tidak akan kuat lagi menopang beban, maka akan ambruk, dan yang semula menjadi dinding goa, kini menjadi bagian yang mandiri. Karena bentuknya yang menyerupai bokor, maka batugamping yang terbentuk antara 22,5 – 17 juta tahun yang lalu itu dinami Karangbokor.

Bila dari Pantai Sawarna ini perjalanan diteruskan dengan menyusuri jalan yang sejajar dengan garis pantai menuju Kota Bayah, pada jarak 6 km terdapat Pulau Manuk yang menjadi persinggahan burung-burung migrasi. Kawasan ini termasuk ke dalam kawasan yang sudah dilindungi, sehingga ekosistemnya masih terjaga. Selama dalam perjalanan itu akan disuguhi berbagai daya tarik, bukan saja bentang alam yang memesona, tapi juga kehidupan masyarakatnya yang khas, seperti menyaksikan salah satu tahapan pada saat menanam padi. Paling indah bila dating saat panen padi dengan menggunakan etem, aniani, lalu padi diikat dan dijemur di ladang berhari-hari. Bila sudah kering, padi diikat ulang, dirapihkan, kemudian dibawa ke kampung, disimpan di dalam leuit, lumbung, sebagai persedian bahan makanan sampai musim tanam berikutnya.***

Bagikan: