Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 19.9 ° C

Lorong Maut

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

MATI di rumah bukanlah ide yang baik jika Anda tinggal di ujung gang yang sempit dan buntu. Setidaknya, itulah yang terpikir oleh saya setiap kali ada tetangga yang meninggal. Kesibukan melaksanakan fardu kifayah, khususnya bagian yang menyangkut kegiatan memboyong jenazah ke pekuburan, selalu mengingatkan saya untuk segera menata ulang rumah kami sendiri. Diperlukan ruang dan jalan yang cukup leluasa buat mengangkut keranda.

Sepulang melayat ke rumah tetangga yang sedang berduka, beberapa hari lalu, istri saya sibuk memberi saya serentetan instruksi arsitektural. Pintu di bagian belakang ruang keluarga mesti digeser. Lawang yang menuju ke ruang tamu harus diperlebar.

Kita tidak memerlukan banyak dinding. Pokoknya, dia kembali mengingatkan saya bahwa di rumah ini saya tidak perlu berpikir seolah-olah saya adalah pegiat Bandung Heritage.

“Kalau boleh memilih sih sebaiknya kelak kita tidak meninggal di rumah, Bu Arsitek,” omong saya.

“Kita ini sebaiknya hidup dengan rencana membenahi rumah, Pak Kolumnis,” tukasnya.

Kalau direnungi dengan pikiran yang tenang dan jernih, saran demikian patut diterima. Terbayang, jika ruang tidak ditata ulang, dan jika kelak saya ditakdirkan mati di rumah, kematian saya niscaya bakal terlalu merepotkan tetangga, terutama ketika tubuh saya harus diangkut ke tempat pemandian dan penguburan. Niscaya fardu kifayah bakal menimbulkan keluh-kesah.

Renungan akan lebih melankolis jika kami memperhatikan jalan. Lorong yang menghubungkan bagian depan rumah kami ke Jalan Sersan Bajuri tidak begitu lebar, bahkan untuk sekadar dilalui dengan berjalan berdampingan. Dalam hal ini kami selalu mengikuti kearifan Kanekes, yakni pergi ke dunia luar dengan berjalan beriringan. Di antara rumah dan jalan rasa ada empat sudut siku-siku yang dibentuk oleh dinding-dinding rumah tetangga dan bangunan kontrakan buat mahasiswa.

Renungan spasial demikian sering menimbulkan imajinasiyang runyam tentang jenazah yang diangkut ke luar rumah dalam posisi berdiri. Terbayang betapa repotnya para anggota keluarga dan tetangga, terutama ketika mereka mesti memutuskan, apakah dalam situasi seperti itu mereka sebaiknya menangis ataukah tertawa.

Di situ, selama lebih dari dua dasawarsa terakhir, kami menyaksikan anak-anak tumbuh tanpa ruang terbuka yang hijau dan leluasa. Mereka belajar naik sepeda dan menendang bola dalam labirin gang sempit, sambil menghindari tukang bakso keliling, pengendara sepeda motor, dan gerobak sampah. Kerunyaman ruang hidup mereka hanya bisa diimbangi oleh kebersahajaan mereka dan kehadiran burung-burung gereja yang hinggap pada bentangan kabel listrik.

Sebagai penduduk “wallstreet”—begitulah julukan yang saya berikan pada lorong berliku itu—, saya sering mendengar politisi mengumbar janji untuk menyediakan ruang terbuka di setiap lingkungan rukun warga. Janji seperti itu sungguh menghibur, dan karena itu patut disambut dengan gelak tawa. Saya tidak tahu, uangnya dari mana, dan sanggupkah para pesolek politik merealisasikannya? Yang pasti, warga kota seperti kami perlu mengatur waktu dan anggaran tersendiri buat sesekali mengajak anak-anak pergi ke taman atau hutan.

Syukurlah, sejumlah mahasiswa seni rupa dari kampus terdekat mengatasi kemuraman dinding salah satu gang di sekitar rumah kami dengan lukisan mural. Terbentanglah gambar warna-warni, dengan berbagai kecenderungan artistik, sepanjang sekian puluh meter. Karya mereka lumayan bagus buat dijadikan latar belakang swafoto, meski bakal terlihat seperti ironi tersendiri manakala ada keranda lewat ke situ.

Tenaga warga, kreativitas kaum muda, terasa memberikan dorongan tersendiri untuk tetap mencintai ruang hidup kami sendiri. Hidup berpuluh tahun di gang sempit, di ujung lorong berliku, selalu meyakinkan diri kami bahwa kami ditakdirkan untuk panjang umur. Amin.***
Bagikan: