Pikiran Rakyat
USD Jual 14.449,00 Beli 14.351,00 | Umumnya berawan, 26.7 ° C

Ngindung ka Waktu

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

SAYA terlambat sekitar tiga minggu untuk mengetahui bahwa Pak Orok telah pergi. Dalam dua bulan terakhir saya memang tidak sempat lewat ke Jalan ABC tempat dia berjual-beli arloji sejak puluhan tahun silam. Minggu lalu saya bersepeda ke sana, dan tahu-tahu dia sudah tidak di sana.

Julukan baginya memang terdengar bertolak belakang dengan sosoknya. Setahu saya, orok berarti "bayi". Tak tahulah apa sebab julukan itu dialamatkan padanya. Yang jelas, Pak Haji Suryana alias Pak Orok adalah salah satu pedagang kawakan di Jalan ABC. Usianya sudah mendekati 80. Perjalanan hidupnya, saya kira, turut mencerminkan riwayat Bandung dari masa ke masa. Saban hari dia mangkal di atas trotoar, bagian tersendiri dari kota ini.

Sosoknya dalam benak saya tidak dapat dilepaskan dari lemari kayu setinggi lebih kurang satu meter dengan kaca transparan di depan dan kedua sisinya. Itulah etalase portabel tempat dia memajang berbagai jam tangan. Dia selalu duduk di balik etalase itu, melayani para pembeli. Dari rumahnya, di Baleendah, arloji-arloji itu ditenteng dalam sejenis tas lipat dari kain yang terdiri atas sekian saku kecil seukuran arloji sehingga barang-barang kecil itu tidak harus bergesekan satu sama lain dalam perjalanan.  

Pagi, sekitar jam sembilan, dia keluarkan arloji-arloji itu satu demi satu, seperti dukun sihir mengeluarkan jimatnya. Pada tiap-tiap arloji otomatis, dia periksa penunjuk menit dan tanggalnya, lalu jam itu dia goyangkan ke kiri dan kanan beberapa kali, buat memastikan jarumnya berjalan normal. Beberapa di antaranya mesti dijalankan dengan cara manual winding, yakni dengan memutarnya beberapa kali. Barulah kemudian barang-barang itu dipajang berderet dalam lemari. Sore, sekitar jam empat, dia masukkan lagi satu demi satu arloji itu ke dalam tas kain tadi. Begitulah dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun.

Kalau saya tidak salah mencatat, ia berasal dari Garut. Ia hijrah ke Bandung pada 1950-an, yakni dasawarsa tatkala banyak kawasan pedesaan di Priangan tidak lagi tentram akibat separatisme politik Darul Islam. Salah seorang teman sepergaulan Pak Orok di Bandung pada masa mudanya adalah Tan Joe Hok, legenda bulutangkis Indonesia.

Jalan ABC tempat ia berusaha termasuk kawasan tua di Bandung. Kalau kita membuka-buka advertensi koran Belanda dari permulaan abad ke-20, kita dapat mencatat nama “TOKO ABC” dan “ABC Straat” di kota ini. Jalan Alkateri menghubungkan tempat ini dengan Asia-Afrika. Jalan Pasar Selatan menghubungkan ABC dengan Pasarbaru di Jalan Oto Iskandar Dinata. Tempat ini juga tersambung dengan Suniaraja dan, tentu saja, Banceuy, salah satu kawasan pecinan di kota ini. Arloji, kaca mata, pemantik api, dan barang-barang elektronik mudah dicari di sini.

Kunjungan saya ke jalan itu sudah pasti tidak seperti muhibah turis Malaysia yang membawa sekian gepok ringgit ke Pasarbaru. Ketimbang datang buat memborong barang, lebih sering saya singgah buat menggali kisah. Ya, narasi bisa jadi penglipur tersendiri bagi frustrasi. Begitu pula yang sering saya upayakan jika saya menemui Pak Orok di di balik lemari kecilnya itu. Sebagaimana galibnya dari orang yang lebih tua, dari dirinya saya dapat menggali banyak pengetahuan pula, khususnya mengenai jam tangan. Saya pikir, dia adalah sejenis profesor arloji tanpa gelar universitas. Dia piawai membedakan, misalnya, antara arloji asli dan arloji tiruan, antara barang "ori" dan barang "KW", antara mesin Swiss dan mesin Jepang, dan banyak lagi.

Dari Pak Orok, saya masih menyimpan sebuah Mido Commander keluaran 1998. Arloji itu bundar, putih dari baja bersih, dan jarumnya masih berputar baik. Ada pula sebuah SEIKO Diver dari generasi yang sudah lewat. Pernah saya mendapatkan Titus darinya, tapi barang itu kemudian saya tukarkan dengan Tissot jadul dari pedagang lain. Pedagang kecil seperti Pak Orok selalu memperkuat dorongan untuk terus mencintai arloji otomatis. Menurut perasaan saya, arloji otomatis masih memberi saya ruang partisipasi dalam kegiatan mengukur waktu. Sungguh berbeda dengan arloji quartz yang melimpah dewasa ini.

Kisah Pak Orok, saya kira, seperti putaran putaran jarum jam itu sendiri. Dari kegiatan usahanya pernah ia punya tabungan lumayan besar. Lalu ada orang datang padanya, mengajak berkongsi dalam investasi. Ceritanya meyakinkan, prospek bisnisnya menggiurkan. Bolak-baliklah Pak Orok antara Bandung dan Jakarta, keluar-masuk hotel, mengurus ini dan itu. Namun, seiring berjalannya waktu, cerita akhirnya tinggal cerita. Bisnis yang dijanjikan ternyata isapan jempol belaka. Tabungan Pak Orok terkuras dibuatnya.

“Teras, kumaha atuh, Pa?” timpal saya sambil menyimak ceritanya suatu ketika.  

            “Nya dalah dikumaha. Da tadina gé ti Jalan ABC, nya balik deui wé Bapa téh ka Jalan ABC. Usaha jam tangan,” tutur Pak Orok.

Belakangan, saya lihat Pak Orok suka mengenakan kaca mata hitam. Jarak pandangnya kian terbatas. Ia terkenak katarak. Beberapa kali ia harus menemui dokter. Betapapun, ia tak pernah meninggalkan Jalan ABC, panggung utama dalam kahidupan sehari-harinya.

            “Apa yang kita pelajari dari jam mengenai waktu?” Ya, itu pertanyaan Martin Heidegger dalam ceramahnya tentang “The Concept of Time” (Der Begriff der Zeit) pada 1924. Apakah yang disebut “waktu” itu terukur, bergerak teratur, siklis, seperti yang kita lihat pada jam tangan? Apa yang dapat kita katakan tentang “waktu” di luar cara pandang orang yang terbiasa memakai mesin pengukur waktu seperti jam tangan?

Tidak pernah saya ajukan pertanyaan seperti itu kepada Pak Orok. Saya hanya memperhatikannya memutar jarum jam tangan, menggoyang-goyangkannya, dan duduk menghadapi berlalunya waktu. Tahu-tahu, sejak 4 Desember lalu, dia sudah tidak lagi menghitung waktu. Dalam bahasa a la Heidegger, ia kiranya sudah menyatu dengan eternity (Ewigkeit), yakni titik tolak permenungan kita tentang “waktu”.

Pileuleuyan, Pa Haji.***

 

Bagikan: