Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 21.2 ° C

Gempa dan Keselamatan Warga Kota

T Bachtiar
T Bachtiar

T Bachtiar

BEGITU banyanya garis-garis patahan dalam peta yang melintas Cekungan Bandung. Patahan itu yang aktif itu bukan hanya Patahan Lembang di utara Bandung yang memanjang arah barat – timur, mulai dari Palasari sampai Cisarua sepanjang hamper 30 km, tapi masih banyak lagi patahan yang sudah diketahui keberadaannya, tapi belum diteliti secara rinci.

Patahan yang melintas jantung Cekungan Bandung berarah hampir utara – selatan mulai dari titik yang berpotongan dengan Patahan Lembang di utara membelah Kota Bandung ke selatan, memotong di tengah Jl Soekarno-Hatta. Kenampakan bentangannya tidak terlihat nyata karena terkubur oleh endapan Danau Bandung Purba.

Patahan Cileunyi-Tanjungsari, berarah barat daya – timur laut, dengan bentangan yang sangat panjang, mulai sedikit ke selatan dari Gunung Bubut, lalu melewati Banjaran – Gunung Kromong – Cileunyi – sampai Tanjungsari. Di sisi timur Cekungan Bandung diiris oleh Patahan Cicalengka, yang berarah barat daya, menembus Majalaya hingga ke Cicalengka di timur laut. Di sisi barat, memenjang dengan arah tenggara – barat laut, hamper sejajar dengan jalan tol dan rel keretaapi, mulai dari Gunung Koromong – Leuwigajah – Cimareme – yang berpotongan di sekitar Padalarang, dan menerus hingga ke arah barat laut. Ada juga patahan yang membelah Cimareme hingga menembus Cimahi berarah barat daya – timur laut.

Beberapa contoh patahan tersebut untuk memberikan gambaran, bahwa patahan yang mengiris Cekungan Bandung itu bukan hanya Patahan Lembang. Cekungan Bandung hampir ditoreh dari berbagai arahnya. Inilah yang menuntut kesiagaan warganya.

Penelitian yang sangat rinci tentang arah, lebar, dan kecepatan patahan, sangat mendesak untuk dilakukan karena bobot nilai kemanusiaannya. Di sepanjang garis patahan itu sudah begitu banyak manusia, sebelum gedung dan fasilitas umum lainnya terlanjur dibangun.

Dengan dikatahui jalur-jalur patahan, agar tidak terjadi lagi ada yang mendirikan bangunan memotong jalur patahan. Di kawasan perkotaan seperti di Cekungan Bandung, pemetaan zonasi gempa dalam skala kecil harus terus dibuat serinci mungkin. Patahan yang melintas sampai di Tanjungsari, apakah jalurnya melintasi Jatinangor, Kabupaten Sumedang, yang pada saat ini berkembang sangat pesat, karena berdirinya kampus IPDN, IKOPIN, UNPAD, dan ITB. Jauh sebelum kampus itu datang, sudah ada perkampungan warga Jatinangor, Cikeruh, Cibeusi, sampai ke Tanjungsari, dengan gedung-gedung sekolahnya, mulai SD sampai SMA. Dengan adanya kampus, telah mengundang banyak jasa ikutan yang berkembang. Jumlah manusia pada sianghari, jumlahnya akan jauh lebih besar dibandingkan pada malam hari.

Penelitian jalur dan arah patahan penting untuk dilakukan, agar gedung-gedung sekolah dan kampus yang dibangun tidak memotong lajur patahan. Bila sudah terjadi, ada gedung, rumah, hotel, atau banguna lainnya yang memotong lajur patahan yang melintas kawasan itu, demi alasan kemanusiaan karena akan sangat membahayakan, maka sangat disarankan untuk menggeser gedung tersebut tempat yang direkomendasikan oleh para peneliti.

Bila hasil penelitian sudah diketahui di mana lajur-lajur patahannya, maka pengimbasan tentang sekolah dan kampus aman itu harus terus dilakukan. Bagaimana upaya itu dilakukan secara menyeluruh, terintegrasi, agar warga masyarakat, warga sekolah dan warga kampus aman dari bencana gempabumi. Membangun budaya keselamatan itu harus terus ditanamkan dengan baik, agar tidak terkesan menakut-nakuti. Penerangan dan pelatihan itu semuanya bermuara pada perlindungan warganya.

Bila sumber gempa, arah, dan lajurnya sudah diketahui, maka potensi bencananya sudah diketahui akan ada, tapi entah kapan terjadinya. Walau diketahui siklus gempanya ratusan atau ribuan tahun, namun manusia yang masih hidup saat ini berkewajiban untuk terus mengingatkan, terus memberikan penerangan, bahwa gempa itu akan terjadi, sehingga warga kota, sekolah, dan perguruan tinggi harus terus mengembangkan manajemen darurat bagi warga kota, para siswa, mahasiswa, tenaga kependidikan-dosen, dan staf adminstrasi lainnya. Tentu, gedung-gedungnya harus dibangun tahan gempa untuk melindungi warganya, serta mudah untuk menyelamatkan diri bila gempa itu terjadi.

Persoalan gempa bumi harus melibatkan banyak pihak, karena kejadian gempa dan dampak ikutannya banyak menyangkut keahlian lain. Pedoman-pedoman manajemen bencana, manajemen kedaruratan, khususnya gempa bumi, mendesak untuk segera dibuat untuk warga kota, para siswa, mahasiswa, dan guru-dosen, dan yang lainnya. Pedoman-pedoman tersebut harus sudah diujicobakan berkali-kali, dan diadakan perbaikan sebelum diimbaskan kepada seluruh yang berkepentingan. Bila pedoman sudah dimiliki, lalu diadakan latihan kesiagaan setiap periode tertentu, rutin, dan berkelanjutan, agar pedoman itu menjadi kebiasaan yang didukung oleh masyarakatnya, sehingga menjadi kebudayaan, menjadi perilaku hidup dalam berkegiatan di mana pun ia berada.

Siaga bencana tersebut menjadi hal yang sangat penting dalam upaya pengurangan risiko bencana, sehingga terciptanya kondisi belajar dan bekerja dengan aman, sehat, dan selamat bagi warga kota.***
Bagikan: