Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 28.3 ° C

Padat Merayap

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

KAMI punya mobil keluarga, keluaran tahun 2000. Ketimbang keluyuran, kendaraan ini lebih sering ngendon dalam garasi kontrakan yang menyatu dengan kandang ayam. Hanya sesekali mobil Jepang ini kami gunakan, misalnya buat mudik lebaran. Sehari-hari kami lebih suka mengandalkan motor, sepeda, atau angkot.

Betapapun, menurut montir langganan kami, mobil tua ini perlu dihidupkan dan dijalankan secara rutin biar kondisinya tetap prima. Jangan sampai kita baru ingat punya mobil ketika kita memerlukannya. Mogok di jalan sedapat mungkin mesti dihindari. Mobil itu perlu dirawat, katanya.

Baiklah, sehari menjelang perayaan Muludan, saran itu saya laksanakan. Siang hari saya pergi ke garasi. Seperti biasa, kawanan ayam ribut bukan main begitu mesin mobil saya hidupkan. Kepanikan mereka seakan merupakan cara tersendiri buat mengucapkan selamat siang. Debu dan sisa-sisa pakan ayam yang diterbangkan angin ke sekujur badan mobil saya bersihkan dengan kamoceng dan lap basah. Habis itu, kami keluar dari gang sempit, seperti rombongan tikus got yang kikuk, bergabung dengan kemacetan di jalan.

Rute kami siang itu pendek saja, Ledeng-Sukajadi. Toh misi kami sederhana, yakni memanaskan mobil sambil belanja keperluan rumah tangga. Dalam saat-saat yang tepat, misalnya waktu subuh ketika banyak penduduk kota masih mengantuk, jarak sependek itu bisa ditempuh dalam waktu sepuluh menitan sekali jalan. Namun, hari itu, sebagaimana lazimnya pada musim liburan, baik liburan pendek maupun liburan panjang, kami memerlukan waktu sekitar dua jam untuk kembali dari Sukajadi ke Ledeng.

Orang Indonesia memang tidak pernah jera dengan kemacetan di jalan. Sambil memegang setir, saya teringat pada analisis seorang Indonesianis yang menggunakan metafora “macet total” untuk menggambarkan ruwetnya suksesi kepemimpinan politik di negeri ini. Itu memang ungkapan ajaib yang dapat kita temukan dalam bahasa Indonesia, sebagaimana “ramai lancar” dan “padat merayap”. Kadang saya sendiri heran, dari mana reporter radio dan polisi lalu-lintas menemukan idiom-idiom itu. Lama-kelamaan, istilah-istilah itu jadi klise tersendiri, dan kita sepertinya terpaksa “menikmatinya” sebagai bagian dari rincian hidup sehari-hari.

Seorang kerabat tetangga kami, yang sudah lama bermukim di sebuah negara di Eropa, beberapa tahun lalu berlibur di Bandung menjelang Lebaran. Dia membeli seabrek makanan ringan, menyiapkan kasur lipat dan bantal empuk, serta menyewa mobil keluarga yang masih prima. Penuh minat, kami bertanya, mau ke mana? Penuh semangat, dia menjawab bahwa dirinya penasaran,ingin merasakan bagaimana sih rasanya menyatukan diri dengan arus mudik.

Warna merah pada urat nadi Google Maps tidak selalu membuat kita urung turun ke jalan. Kita hanya perlu tahu, mencari-cari jalur alternatif, dan kalau terpaksa, bersiap menempuh cara “alon-alon asal klakson”. Setidaknya, begitulah yang kami alami siang itu, di tengah kemacetan lalu-lintas Bandung. Di depan dan belakang kami ada sejumlah bus antarkota, truk tentara, dan entah berapa banyak mobil keluarga berpelat nomor Jakarta. Di kelokan depan gerbang kampus UPI, tidak sedikit penumpang bus yang memanfaatkan giliran merayap buat turun sebentar dan membeli gorengan.

Sastrawan Godi Suwarna berhasil menggambarkan fenomena Indonesia ini secara satiris dalam karyanya, “Sajak Si Ujang Jalan-jalan”. Dalam sajak itu ada seseorang yang meninggal pada hari Minggu lalu diboyong dari rumah sakit dengan sebuah ambulans yang terjebak dalam kemacetan lalu-lintas. Kita prihatin tapi sekaligus merasa lucu membayangkan suasana yang menyatukan para pemakai kendaraan, pedagang asongan, tukang koran, pengamen, dan masih banyak lagi, sehingga kita yakin bahwa mati pada hari Minggu memang bukan ide yang baik.

Semula saya menyangka bahwa kejadian dramatis, seperti mati di tengah iring-iringan kendaraan, hanya dapat kita temukan dalam novel klasik The Grapes of Wrath karya John Steinbeck. Namun, setelah kejadian serupa berlangsung di sekitar pintu jalan tol Brebes pada musim Lebaran yang lalu, ternyata Steinbeck bukan satu-satunya suara getir dari jalanan.

Benar bahwa kemacetan lalu-lintas bisa menggembleng kita untuk belajar bersabar. Hal yang juga tidak bisa dibantah adalah bahwa kemacetan lalu-lintas bisa pula mengajari kita jadi pemarah dan pendendam. Sempat terlintas dalam benak saya semacam harapan ganjil, semoga Gusti Allah menurunkan keajaiban untuk entah bagaimana caranya melenyapkan kendaraan-kendaraan di depan saya, dan mendiamkan klakson kendaraan-kendaraan di belakang saya. Dalam keadaan seperti itulah saya ingin bisa terbang,setidaknya terbang rendah seperti ayam-ayam Bangkok di garasi kontrakan mobil kami.***

 

Bagikan: