Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 24.6 ° C

Literasi Indonesia

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

SISCA mengenakan kain batik dan kebaya. Rambutnya ditata menyerupai sanggul. Dipetiknya guzheng, sejenis kecapi Tionghoa, membawakan "Indonesia Raya". Hadirin kemudian menyanyikan lagu kebangsaan diiringi instrumen itu. Dengan itu, dimulailah "Pekan Literasi Kebangsaan" di Gedung Indonesia Menggugat (dulu Landraad), Bandung. 

Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh sejumlah komunitas pegiat literasi itu, saya mendapat tugas menyampaikan orasi. Tema yang saya bawakan berkaitan dengan pentingnya kegiatan menulis dan membaca bagi kehidupan berbangsa di Indonesia.

Pada hemat saya, Indonesia adalah negeri ajaib. Di pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan, di lingkungan-lingkungan budaya yang bahasa ibunya berlain-lainan, dari Aceh hingga Papua, dari barat sampai ke timur, terjalin ikatan perasaan bahwa warna-warni budaya dan serpihan-serpihan geografis itu adalah bagian integral dari satu tanah air dan bangsa yang disebut "Indonesia". 

Terbanglah, misalnya, dari Husen Sastranegara ke Sultan Iskandar Muda atau ke Sentani dengan pesawat kecil yang terbang rendah, dan kita bakal merasakan betapa luasnya kawasan bekas titik persilangan dalam jalur perdagangan utama antara Tiongkok dan India selama lebih dari 2.000 tahun ini. Gugusan pulau yang sarat dengan gunung api dan bentangan lautan yang luas serta dalam ini rasa-rasanya mustahil disatukan oleh sekelumit gagasan. 

Namun, bagaimana bisa, dari lingkungan-lingkungan bahasa ibu yang berlain-lainan, timbul kesanggupan untuk "menjunjung tinggi bahasa persatuan: bahasa Indonesia"? Bagaimana bisa tercipta perasaan keindonesiaan? Apa yang membuat Indonesia mewujud? 

Saya tidak ingin berlebihan dengan keajaiban itu, biar tidak terjebak ke dalam keliru sangka, seolah-olah ada semacam sihir di balik keindonesiaan, seakan-akan ada tangan gaib yang menjalin sulaman mistis di antara pulau yang satu dan pulau lainnya. Saya hanya ingin mengingat para pendahulu, orang-orang yang meratakan fondasi, menyusun batu demi batu, membangun rumah kita dengan jendela yang terbuka ke dunia luar, dengan halaman luas tempat kita berkumpul dalam naungan pepohonan, dikelilingi gunung-gunung dan pantai-pantai. 

Pada hemat saya, betapapun terlihat sangat ajaib, bangsa yang kita bayangkan menyatukan kita dari masa ke masa bukanlah hasil main sulap atau main sihir, melainkan hasil kerja keras, banting tulang memeras keringat bahkan meneteskan darah. Bangsa kita tidak tercipta tadi malam atau lima menit yang lalu, melainkan tercipta dari pergulatan sejarah yang sangat panjang, entah sejak kapan, dan entah sampai kapan.

Tentu, dalam bentangan sejarah yang panjang itu, banyak nian faktor yang memungkinkan kita merasa terikat oleh kesatuan bangsa. Di sini, dalam forum yang yang membicarakan apa yang disebut literasi dalam kaitannya dengan ikatan kebangsaan, dapat kita lihat lagi semacam ciri umum para pendahulu yang menghayati gagasan modern tentang negara-bangsa. Para patriot seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, dan banyak lagi dalam penglihatan saya adalah orang-orang yang terbiasa membaca, menulis, dan mengaitkan kegiatan baca-tulis pada ikhtiar kolektif untuk menerjemahkan semangat zaman dan menjawab tuntutan zaman. 

Dari memoar Tan Malaka, misalnya, kita mendapatkan cerita tentang fragmen pelarian yang antara lain ditandai dengan upaya menyembunyikan banyak buku dari tangan-tangan aparatur kolonial, juga upaya menyerap serta mengingat isi buku dengan semacam jembatan keledai, dan tentu saja upaya menulis buku di bawah atap yang gentingnya bergetar oleh deru pesawat-pesawat tempur. Sjahrir membaca novel "Bread and Wine" karya Ignazio Silone dan menulis renungan-renungan mendalam di tepi pantai. Hatta membaca filsafat Yunani, bahkan menjadikan kegiatan menulis buku pengantar filsafat sebagai maskawin. Sukarno, sudah pasti, tidak cuma piawai berpidato, melainkan juga lihai menulis begitu banyak artikel. 

Gagasan tentang Indonesia pasti pada mulanya hanya menjalar di benak kaum terpelajar, segelintir orang yang mendapat kesempatan untuk meninggalkan kampung, masuk sekolah di kota, belajar menulis dan membaca. Setelah gagasan tersebut dituliskan, lalu dicetak dan disebarluaskan, lambat laun gagasan yang sama menjangkau benak kian banyak orang, dari kota hingga ke desa, dari pusat-pusat kekuasaan hingga ke wilayah-wilayah pinggiran. Dapat dimengerti jika pada gilirannya banyak orang yang berbagi gagasan yang sama dan dengan sendirinya merasa seia dan sekata, kemudian menjalin cita-cita bersama: Indonesia.

Tidak berlebihan, kiranya, jika Marshal McLuhan, misalnya, menjuluki tulisan yang tercetak (printed words) sebagai "arsitek nasionalisme" (the architect of nationalism). "The psychic and social consequences of print included an extension of its fissile and and uniform character to the gradual homogenization of diverse regions with the resulting amplification of power, energy, and agression that we associate with new nationalisms," urai McLuhan dalam "Understanding Media: The Extensions of Man".

Sebagaimana membaca dan menulis menuntut kesanggupan meramu gugusan gagasan, begitu pula memelihara dan mengembangkan semangat kebangsaan menuntut kesanggupan mengolah keragaman. Indonesia adalah kesanggupan meramu berbagai hal yang beragam, pengaruh dari sana-sini, dengan gayanya sendiri. 

Peci M. Iming dipadukan dengan kemeja tak berkerah gaya Tionghoa, lengkap dengan jas Eropa, disambung dengan sarung, hingga menyatu dengan sandal kulit buatan Tasikmalaya. Rasanya, tidak ada kolase sandang yang dapat menandinginya. Sulit pula memastikan, mana yang "asli Indonesia" dalam tata busana demikian. Betapapun, saya sendiri, sebagai anak yang lahir dan tumbuh di lingkungan desa yang memiliki sekian surau, tidak pernah merasa ganjil melihat gaya berbusana demikian. Rasanya, penampilan seperti itu sudah lumrah, bagian tersendiri dari kehidupan sehari-hari di negeri saya. 

Membaca dan menulis juga bisa berarti merayakan banyak tafsir. Setiap diri yang membaca dan menulis pada dasarnya punya peluang buat menyusun dan menyampaikan gugusan gagasannya sendiri. Kebenaran dicari melalui percakapan, kearifan dicapai melalui pertukaran pikiran.

Namun, hari-hari ini, seperti yang tersirat dalam kegiatan di GIM, terasa ada kekhawatiran akan keleluasaan dan kegembiraan kolektif untuk merayakan beragam gagasan, tak terkecuali gagasan kebangsaan. Teori konspirasi bertebaran belakangan ini, seakan-akan ada serikat jahat yang bermufakat untuk menyeret kita ke hari kiamat. Dengan anggapan demikian, segolongan orang cenderung memaksakan tafsirnya sendiri. Kebersamaan kita sebagai bangsa terasa mendapat semacam ancaman. 

Betapapun, ketika Sisca menyanyikan "Indonesia Raya" guzheng, dan para pencinta buku berkumpul buat merayakan banyak gagasan, saya masih yakin bahwa warna-warni Indonesia tidak akan berakhir esok pagi. Mudah-mudahan.***

Bagikan: