Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Umumnya berawan, 23.3 ° C

Selera Pelatih

Karim Suryadi
Karim Suryadi

Karim Suryadi

DALAM sepak bola, selera pelatih menjadi hantu sakti yang menentukan karier seorang pemain. Disebut hantu sakti, karena faktor ini tidak pernah diungkap secara telanjang, meski perannya dalam menentukan komposisi pemain tidak bisa dinafikan. Karena itu, prestasi sebuah tim tidak akan melampaui kapasitas pelatih, atau manajernya.

Setiap pelatih (di beberapa klub luar negeri merangkap sebagai manajer) pasti memiliki pola permainan yang digemarinya. Untuk kepentingan ini, sang pelatih akan memilih pemain yang dipercaya dapat menjalankan strategi permainan dan mampu membangun kerja sama tim. Namun, meskipun seorang pemain cocok dengan strategi yang ditentukan pelatih, namun bila ada "faktor nonteknis" yang membuatnya tidak cocok dengan pemain, maka sang pelatih akan mencari pemain baru dengan karakter yang sama.

Uniknya, bila sang bintang tiba-tiba dibangkucadangkan, hingga akhirnya harus hengkang sekalipun, pastilah dalihnya strategi dan kebutuhan tim, meski alasan sebenarnya tidak cocok dengan selera sang pelatih. Jadi, alih-alih mengekspresikan ketidaksukaannya kepada salah seorang pemain, kebutuhan tim sering menjadi alasan untuk melepas salah seorang pemain.

Paul Pogba misalnya. Kala memperkuat Manchester United pada 2009, pemain yang berposisi sebagai gelandang ini lebih sering menghiasi bangku cadangan. Bahkan pada 2012, Pogba harus rela didepak dari klub raksasa Inggris ini.

Sang manajer Manchester United saat itu, Sir Alex Perguson, tidak menyukainya. Kepindahannya ke klub raksasa Italia, Juventus, pada 2012 adalah keputusan yang tepat. Di klub barunya, Pogba menunjukkan kualitas permainan yang mengundang decak kagum. Bintangnya benar-benar bersinar. Banyak klub raksasa terpikat, termasuk Setan Merah di bawah manajer baru pun terpincut.

Manchester United seakan harus menjilat ludahnya sendiri. Pada 2016, Setan Merah membeli Pogba dengan dengan amat mahal. Nilai transfer pemain yang kerap menjadi "jantung tim" ini mencapai 89 juta euro, melampaui pembelian Gareth Bales ketika pindah dari Spurs ke Real Madrid yang dibanderol dengan harga 85 juta euro pada 2013.

Bila ukurannya nilai transfer, kembalinya Pogba ke deretan pemain Manchester United, seperti kisah dongeng, from zero to hero. Pogba yang didepak di era Ferguson, kini selalu menjadi pilihan utama starting line up Manchester United di bawah kepemimpinan Jose Mourinho.

Pengalaman Pogba di Setan Merah mirip kisah yang dialami Febri Hariyadi di tubuh Maung Bandung. Bersama Gian Zola, Febri menjadi harapan baru Persib. Namun, penampilan Febri yang menjanjikan makin jarang terlihat ketika Persib ditangani Dejan Antonic, yang menjadi pelatih Persib menggantikan Djadjang Nurdjaman. Bahkan semasa Dejan, Febri "dipinjamkan" ke Persib junior dengan dalih untuk menambah jam terbang.

Kembalinya Djadjang Nurdjaman ke tim Persib senior membuka jalan baru bagi Febri. Di penghujung kompetisi 2016, Febri kerap menjadi pemain inti yang diturunkan sejak awal pertandingan. Bahkan, pada Oktober 2016, Febri dinobatkan sebagai gelandang terbaik ISC A 2016 versi FourFourTwo.

Sama seperti pemain bola, jalan hidup politisi bisa berubah ketika berganti partai politik (parpol). Keputusan Ferry Mursyidan Baldan (meninggalkan Partai Golkar dan berkhidmat di Partai Nasdem sejak 2011), atau Yuddy Chrisnandi (juga meninggalkan Partai Golkar dan kemudian bergabung dengan Partai Hanura) telah mengantarkannya menjadi menteri pada masa Pemerintahan Joko Widodo. Meski kepindahan pemain dari klub profesional bercita rasa berbeda dengan keputusan politisi untuk berganti parpol, namun keduanya mengandung pesan yang sama, bahwa pada realitas yang bersandar pada preferensi personal tidak terpilih bukan berarti kiamat.

Tidak terpilih bukan berarti kiamat harus menjadi bacaan wajib ketika sebuah bangsa mengeja sistem demokrasi. Seleksi demokratis akan menghasilan pihak yang kalah dan menang. Pihak yang kalah, bila masih berminat, harus menunggu saat kontestasi berikutnya tiba.

Karena itu benar apa yang dikatakan Martin Luther King Jr, hidup dalam komunitas politik seperti sebuah piano. Seorang pianis (seperti juga pelatih, presiden, dll) bisa memilih tuts hitam atau putih bergantung nada yang ingin dihasilkannya. Ketika sebuah tuts dipilih bukan berarti yang lain jelek, namun lebih karena komposisi nada tidak sedang membutuhkannya.

Layaknya sebuah lagu atau pertandingan, kontestasi pun harus mengenal kata akhir. Cukup adalah cukup. Kontestasi selesai ketika pemenang sudah ditetapkan. Pihak yang menang tidak meraup semua dan yang kalah tidak bermain di luar sistem, karena inti demokrasi adalah saling mengalah dan saling berbagi.

Jangan pernah kontestasi politik menjadi inkubator kebencian, sebab bila ini terjadi mekanisme demokrasi tidak akan mampu menyudahinya. Bagi pemain sepak bola profesional, tindakan menghormati lawan menjadi nilai dasar kompetisi, sebab lawan adalah kawan bermain. Begitulah seharusnya politisi (dan mereka yang menyalurkan hasrat politiknya dalam beragam konteks) memaknai kontestasi, lawan politik adalah kawan dalam mencari kebajikan terbaik.***
Bagikan: