Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Umumnya berawan, 23.3 ° C

Candramawat

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

SEPASANG anak kucing telantar di tepi jalan. Menjelang jam tujuh pagi, ketika banyak kendaraan belingsatan ke sekolah dan kantor, makhluk-makhluk kecil itu malah berlarian ke tengah jalan. Satu di antaranya niscaya tergilas truk kalau saja sang sopir tidak jeli melihat rincian kecil di jalan. Lalu-lintas tersendat beberapa saat.

Bukan kali itu saja saya mendapatkan anak kucing di jalan. Ledakan penduduk dan buruknya kesejahteraan rupanya sedang terjadi di kerajaan hewan. Adapun manusia yang sudah lama ikut campur dalam urusan mereka, ada kalanya mengambil jalan yang tidak terpuji, yakni membuang generasi baru penerus kehidupan margasatwa ke tempat-tempat yang tidak layak. Saya sendiri, sebegitu jauh, sering gagal menyelamatkan generasi hewan yang terbuang. Bahkan ada seekor anak kucing yang mati setelah ikut berteduh di rumah kami kurang dari tiga hari.

Dengan rekor yang buruk pada masa lalu, saya berupaya sedapat mungkin merawat kedua kakak beradik yang masing-masing baru sebesar genggaman tangan manusia dewasa itu. Dalam pandangan saya yang rabun, keduanya tampak seperti saudara kembar. Bulunya berwarna putih, coklat, dan hitam. Dulu, ibu saya suka menyebut kucing demikian dengan istilah mawat. Menurut kamus bahasa Sunda, istilah yang tepat buat kucing tiga warna mestinya candramawat. Konon, desain alam demikian dapat menerbitkan kasih terhadap pemiliknya. Yang pasti, sebagaimana terhadap anak-anak kucing lainnya, dalam perasaan saya memang ada semacam belas kasih terhadap kedua hewan kecil itu.

Seraya mengangkut mereka dengan sepeda motor, saya teringat kepada satu edisi komik Asterix. Judulnya, Asterix and Son.Pada suatu pagi, Asterix dan Obelix mendapati ada bayi terbuang di depan pintu rumah mereka. Di akhir cerita, kita tahu, bayi ajaib itu punya kaitan dengan Ratu Cleopatra yang bersuka hati ketika bangsa Gaul menyerahkan sang bayi kepada pemimpin bangsa Romawi. Adapun hal pertama yang diperbuat oleh Asterix dan Obelix pada pagi yang panik itu ialah berupaya menenangkan sang bayi.

Meski kedua anak kucing itu tidak berbicara dalam bahasa Sunda, dan saya sendiri tidak mengeong dalam bahasa kucing, toh terjalin pula semacam saling pengertian di antara kami. Hal pertama yang saya perbuat sesampainya di rumah adalah meniru cerita komik itu. Buat menenangkan pendatang baru itu, saya menyeduh susu kental, pergi ke tukang sayur mencari ikan tongkol, dan mengontak beberapa teman yang telaten mengurus hewan. Dengan hanya mengandalkan akal sehat, saya berupaya menjawab kebutuhan mereka untuk makan, minum, berteduh, dan buang hajat.

Alhamdulillah, setelah beberapa hari, halaman rumah kami jadi semacam tempat PAUD bagi anak-anak kucing itu. Di situ mereka berlarian, berguling-guling kayak sepasang jawara bénjang, dan mencakar apa saja yang ada di dekat mereka. Suara mereka menambah rincian melodi bagi lagu kehidupan sehari-hari.

Halaman rumah yang selama ini sangat menyedihkan dalam pandangan saya, rupanya menjanjikan banyak petualangan bagi kakak-beradik itu. Segala hal yang ada di situ, kecuali mungkin sosok saya sendiri, kelihatannya sangat menarik buat mereka. Kerikil, daun-daun lengkeng yang mengering, botol-botol bekas, sandal dan sepatu, dan banyak lagi yang tampak berantakan, mereka teliti satu demi satu. Bukan main, ujung gang buntu ini tiba-tiba jadi tempat yang menyenangkan dengan kehadiran mereka.

Tiada sedikit pun niat dalam diri saya untuk menyelenggarakan semacam pendidikan kucing. Apakah mereka mau dilatih supaya pandai main akrobat dalam sirkus, hal itu sama sekali berada di luar pengetahuan dan kesanggupan saya. Lagi pula, kegiatan seperti itu sudah jadi urusan universitas hari ini. Apa yang sedang saya lakukan, rasanya, adalah belajar kepada anak-anak kucing itu. Masud saya,belajar menghayati rincian kehidupan sehari-hari terutama melalui jalinan kasih antarsesama penghuni bumi.***

Bagikan: