Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan petir singkat, 21.4 ° C

Gagambaran

Hawe Setiawan
Hawe Setiawan

Hawe Setiawan

CORAT-CORET membebaskan diri saya dari kelaliman alat komunikasi. Ketika nyaris seluruh waktu kita tersedot oleh perangkat ajaib yang terhubung ke berbagai jejaring, saya kehilangan waktu buat melamun, membiarkan pikiran berkeluyuran tanpa beban. Membuat gambar di atas kertas atau media sejenis, dengan pensil atau pulpen, terasa memberikan dunia tersendiri, semacam hobi, buat sesekali keluar dari kebiasaan yang kadang membosankan.

Dalam bahasa Inggris, kita mengenal istilah doodling, sejenis keisengan membuat doodle alias corat-coret. Sedikit banyak istilah itu sepadan dengan gagambaran dalam bahasa Sunda. Kalau kita menerima pesan telepon yang berkepanjangan, atau menyimak ceramah yang berlarut-larut, tangan kita biasanya kreatif sendiri membuat coretan. Lamunan melayang bebas, tangan bergerak leluasa. Itu sebabnya, coretan mahasiswa di atas meja di dalam kelas bisa dijadikan patokan tersendiri buat mengukur seberapa membosankan kuliah yang saya sampaikan.

Tangan yang terampil, sudah pasti, dapat menghasilkan coretan yang ajaib. Bentuk dan rupa yang ajaib, citraan-citraan ganjil. sering timbul dari situ. Bahkan bisa jadi keisengan demikian dapat melahirkan karya seni. Siapa tahu.

Karena itu, dalam kelas menulis di kampus, saya sering mengajak mahasiswa memakai metode gagambaran pula, paling tidak sewaktu kami berlatih mengembangkan gagasan. Kami memungut sepatah kata dari dalam kamus, lalu kami ikuti pertautannya dengan sekian banyak kata lain. Jumlahnya tak terhingga. Sering ide tulisan yang semula tak terpikirkan muncul sendiri dari kegiatan itu. Misalkan, kami pilih kata hutan, lalu terpikir kemungkinan pertautannya dengan kata tuhan, tahun, hantu, dan banyak lagi.

Pasti ada bedanya antara menulis dan menggambar. Memang, dalam salah satu bentuk karangan, apa yang kita lakukan sesungguhnya adalah menggambar dengan kata. Betapapun, sebagai orang yang hingga batas tertentu hidup dengan menulis, saya sendiri merasa bahwa hari ini kata-kata kian sarat beban, mulai dari wejangan moral hingga temuan ilmiah, mulai dari propaganda politik hingga pesan iklan. Seakan-akan, kalau kita menulis, kita harus harus jadi dai, demagog, atau juru iklan. Kita lupa bahwa orang bisa menulis untuk sekadar mengungkapkan diri, menceritakan hidup sehari-hari.

Beban serupa juga terasa dalam kegiatan membaca. Bahkan kata-kata dari puisi mantera kita otak-atik, misalnya dengan perangkat semiotik atau hermeneutik, seperti berburu binatang melata yang bersembunyi di balik batu. Kita lupa bahwa kata-kata pada dasarnya adalah bunyi, sejenis musik, dan aksara adalah juga sebentuk seni rupa. Kita lupa pada puisi itu sendiri, hasil kreativitas yang ada kalanya membebaskan diri dari beban makna. Berbahagialah Anda jika masih punya waktu luang buat menikmati novel atau koleksi puisi sambil duduk-duduk di tepi pantai atau seraya berbaring di atas dipan.

Nah, ketika kata-kata jadi begitu berat dengan muatan pesan, saya mendapatkan penghiburan dari gagambaran. Kegembiraan masa kanak seakan terulang lagi. Sekali pernah, dengan kapur merah, saya bermain-main dengan gambar angka “5” (lima). Tembok rumah adalah media yang paling ramah. Ayah dan Ibu tidak marah, cuma mungkin sedikit jengkel dalam hati. Toh solusinya gampang nian. Ketika saya sudah bosan, mereka tinggal memanggil Mang Abdul supaya melaburi tembok itu dengan cat putih — sebelum saya coreti lagi ketika mood menggambar datang kembali.

Sketsa wajah orang-orang yang saya kenal adalah bagian dari kegembiraan. Lumayan buat hadiah ulang tahun atau oleh-oleh sehabis ngobrol di ruang tamu atau di mana saja. Edun, pada wajah tiap orang ternyata ada keelokan tersendiri. Saya jadi teringat pada deskripsi Ernest Hemingway tentang sosok aki-aki dalam The Old Man and the Sea: “Everything about him was old except his eyes and they were the same color as the sea and were cheerful and undefeated (Segala sesuatu menyangkut dirinya sudah uzur kecuali bola matanya yang sewarna dengan laut, riang dan tak terkalahkan)”. Sewaktu-waktu wajah mereka bisa dibuat karikatur pula seraya mengomentari rincian hidup sehari-hari.

Soal teknik, tidak usah khawatir. Tinggal berkunjung ke Gang Bapa Éni dan menemui mentor Isa Perkasa, atau ke Jalan Setiabudhi buat ngalap élmu kepada Haji Agus. Kata Ang Tisna Sanjaya di Jalan Sersan Bajuri, jangan lupa tiga perkara: “figur, struktur, gestur”. Pokoknya, dari orang-orang ajaib ini, saya bisa belajar memelihara keseimbangan antara otak kiri dan otak kanan. Siapa tahu saya tidak terkena otak miring.

Pak Tino Sidin memang sudah jadi masa silam. Betapapun, anak-anak tetap menggambar, di dalam dan di luar sekolah. Saya ingin belajar kepada mereka.***
Bagikan: